10. b**o LEVEL DARURAT

1312 Kata
Pertahankan seseorang yang kalian anggap sahabat terpercaya. Karena ada masanya mereka sangat diuntungkan, kadang harus hati-hati juga di ujung selalu berakhir pengkhianatan. -Kang Dani Seblak- Sesampainya di sebuah ruangan yang nyaman, penuh hiasan moto pendidikan dan bingkai para mantan presiden terpajang. Kang Dani dipersilakan masuk, harum ruangan yang tadinya semerbak bunga sekarang terganti oleh seblak buatannya. Bu Dini tersenyum senang, menyerahkan selembar uang kertas dengan hati-hati Kang Dani menyimpan semangkok seblak. "Pas banget, kamu sekarang yang datang. Saya mau bicara, silakan duduk." Bu Dini mempersilakan. Kang Dani tersenyum segera duduk. "Ada apa, Bu?" Bu Dini menyingkirkan mangkok seblaknya terlebih dahulu ke pinggir, lalu menjelaskan, "Lonjakan hebat, dengan alasan yang sama datang semua siswi pindahan di bulan lalu sampai sekarang. Saya sangat berterima kasih dan sebagai imbalan." Sebuah amplop cokelat dikeluarkan dari laci. "Kami pengurus SMK Sayang sudah sepakat, ada sedikit imbalan untuk, Kang Dani. Sebagai tambah-tambah uang belanjaan." Kang Dani tidak percaya dengan apa yang sudah ia genggam sekarang. Secepat kilat ribuan terima kasih ia ucapkan. Padahal niat awalnya hanya ingin berjualan, bukan mendatangkan siswi baru masuk ke SMK Sayang. Rencana Tuhan selalu tak terduga. Sebelum Kang Dani berjalan keluar, sosok Pak Daris datang memberikan salam. "Siang, Pak," sapa Kang Dani lalu siap pergi. Pak Daris tersenyum simpul. Terjadilah percakapan antara Pak Daris dan Bu Dini. Persiapan menuju semester ajaran baru, di mana akan ada guru pengganti atau bisa saja tambahan yang akan mengajar. Menemani Pak Daris sebagai guru olahraga. Siapa dia? Apakah Kang Dani yang jago menghindarkan bola basket yang akan menghancurkan semangkok seblak? Kembali di tempat yang sudah dikenal siswi dari berbagai sekolah. Kang Dani melayani pemesan yang tak lelah meneriaki namanya. Denis sudah tak terlihat di sana, bangkunya terganti oleh dua siswi yang memiliki pangkat tinggi di antara pengunjung lainnya. Dena sudah membawa Denis ke kelas, memikirkan ucapan Danu soal mengapa bisa mengenal ayahnya? "Dia siapa emang? Bokap gua juga sibuk kelja, ngapain juga ngulusin dia?" Denis terus berpikir keras. "Lo nanya ke gua, Nis?" tanya Dena yang sibuk menyendok es puding miliknya. Denis menoleh malas. "Sama tong sampah!" ketusnya. "Gimana suratnya? Dapet balesan gak?" Sekarang Dikri yang berani bertanya karena tidak biasa Denis datang sebelum pelajaran dimulai. "Tauk!" Denis semakin kesal, ingatannya kembali mengingat tindakan Kang Dani berbisik tepat di samping telinga Desi. Desi yang baru datang dengan minuman di tangan menjadi incaran. Denis berjalan cepat menghalangi jalan. Membuat Desi mengerutkan kening dalam, dari tadi di ujung sana Daniel sudah mengintai apa yang akan terjadi di antara keduanya. "He! Kenapa, sih, lo lebut Kang Dani mulu?" tegur Denis. "Lebut? Apa, sih, anjir!" Desi bersiap mengambil jalan lainnya, tetapi Denis berhasil menarik pergelangan tangannya keras. "Dia punya gua, awas aja, ya, kalo lo belani lebut lagi! Bokap gua yang bakal tulun tangan!" Halah, ancaman pasaran banget! Ingin sekali Desi meninju bibir bergincu itu. Namun, ia harus menjaga sikap jika Daniel cowok incarannya sedang memantau cekcok bersama Ratu Cadel SMK Sayang. Jadi, Desi hanya mengangguk malas lalu menyentak kasar tangannya, sampai cekalan Denis lepas. "Sorry, gua udah nyaman sama, Daniel." Ucapan Desi seketika membuat Dena tersadar, apa? Mengapa Daniel masuk ke daftar bacotan Desi? Parah! Dena berkacak pinggang menghampiri Desi yang masih berhadapan dengan Denis. "Lo tuh, ya! Gak mikir apa? Ayang Daniel punya gua, Desi!" teriak Dena. Daniel yang diperebutkan hanya mampu menutup wajahnya dengan buku, menunggu ocehan Dena lainnya. Sayang, Bu Daniyah datang siap memberikan materi matematika yang merumitkan, menjangarkan kepala yang sedang tidak baik-baik saja. Denis, Dena dan Desi langsung menghambur memisahkan diri. Mengingat roman wajah Bu Daniyah sangat sangar membuat nyali orang-orang bodoh menghitung dan mengingat rumus langsung ciut. Semua penghuni SMK Sayang sudah tahu sikap dan kebiasaannya, dari yang tidak mengerjakan tugas juga yang ribut di kelas dipastikan wajib membersihkan toilet sampai kinclong seperti yang diinginkan. Jika, setiap siswi atau siswa gaduh di kelas, bahkan telat datang awas saja. Takkan bisa diberi kesempatan duduk mendengar materi darinya. Harus mendapat hukuman lagi-lagi menjadi tukang kebersihan. Yaitu mencuci piring dan gelas kotor di kantor guru. Denis bersyukur tidak telat di minggu ini, ia segera mengeluarkan bukunya dengan cepat. Suasana kelas sangat sepi, suara bangku ataupun kertas dibalik sangat jarang. Sunyi. Bu Daniyah duduk tegak, menatap keadaan kelas memastikan penghuni XI Akuntansi I hadir semua. Dayana yang duduk tak sabar ingin langsung mendengar materi yang akan disampaikan menjadi objek akhir penelusuran. "Sudah puas menghabiskan seblak?" Pertanyaan Bu Daniyah membuat semua penghuni kelas bingung harus menjawab atau tidak. Sangat aneh, tetapi mengundang banyak ketakutan. Apakah Bu Daniyah menemukan siswi makan seblak di kelas? Atau mungkin dia akan menutup kios Kang Dani karena banyak siswi telat masuk dengan alasan selesai makan seblak? "Sudah, Bu!" Denis menjawab, ia takut jika tidak ada yang menjawab kios Kang Dani harus ditutup. Bu Daniyah berdiri, lalu berkata, "Baik, mari kita lanjut ke materi baru." Denis dan Dena saling bertukar kerutan kening dalam. Apa, sih? Kenapa Bu Daniyah jadi gak jelas? Jangan-jangan barusan selesai makan seblak? Ternyata, tanpa mereka ketahui kabar gembira akan datang nanti. Semua guru sepakat, siap mengangkat Kang Dani menjadi asisten Pak Daris di bidang olahraga. Namun, khusus untuk kelas sepuluh saja. Sampai terdengar saran dari guru lain, akan ada kantin khusus untuk seblak Kang Dani. Nanti, kabar gembira itu akan diumumkan di hari senin depan. Kang Dani juga belum diberitahukan. Biarkan menjadi kejutan. Bu Daniyah segera menjelma menjadi guru yang menakutkan lagi. Perlahan tapi pasti, mencoba memaksa semua siswanya mengerti. "Gua masih cantik, kan?" Denis bertanya dengan lemah tanpa tenaga, jam dinding di depan tepat menunjuk pukul dua belas siang. Dena menoleh. "Masih, gak luntur kok, Nis. Aman, gak ada kerutan." Denis mengangguk. "Bisa gak, ya, gua lapolin Bu Daniyah ke bokap?" "GILA JANGANLAH!" Sontak semua pasang mata menatap bangku Dena dan Denis, Denis sudah pasrah daripada jangar dan panas di kelas lebih baik ia membersihkan toilet saja. "DENA, DENIS!" sentak Bu Daniyah. "Bersihkan toilet di samping kantin, cepat!" "Gitu, dong," batin Denis, lalu ia pun berjalan cepat keluar, sedangkan Dena masih planga-plongo. "Cepat, Dena!" Bu Daniyah menyadarkan, Dena pun pergi mengejar Denis yang siap santai-santai di kantin. Cara terbaik keluar dari pelajaran yang membosankan adalah, menciptakan kekesalan Bu Daniyah. Tentunya kunci pertama adalah Dena yang tak bisa membungkam suara cemprengnya itu. Terakhir, Denis menyerahkan tugas membersihkan toilet hanya untuk Dena seorang. "Gua gak ngelualin suala kayak lo tadi, ya! Belalti yang salah siapa?" tanya Denis. "Gua?" Dena mencoba berpikir keras. "Nah, lo nyadal!" "Terus, ngapain lo ngikut ke sini? Harusnya lo 'kan di kelas belajar, Nis!" Dena menarik tangan Denis siap kembali ke dalam kelas. "Lo gak salah, ayo masuk!" Denis menyentak tangannya. "Gua 'kan sahabat lo, Dena Beloon jadi gua bakal temenin elu!" Hampir saja Denis memberi jitakan kasar, beloonnya Dena memang sudah level darurat. Mereka berdua pun pergi ke arah toilet yang harus dibersihkan. "Stop! Nis, lo masuk ke kantin aja. Ini tugas gua doang, bersihin toilet!" titah Dena. Denis tersenyum bangga memiliki sahabat tertolol sedunia. "Semangat, ya, lo pasti kuat belsihin empat toilet kotol itu!" Dena mengacungkan kedua jempolnya. "Dena, gitu loh!" Tanpa menunggu lama Denis segera masuk ke dalam kantin yang difasilitasi dengan beberapa AC. Matanya menangkap gerak-gerik para pekerja di samping jajanan yang tersedia. Mereka sedang membersihkan ruangan yang sudah lama kosong, untuk apa? Apakah ada penjual baru yang akan datang? Denis tidak peduli, ia memilih duduk santai sambil memainkan ponselnya. Tidak lama Dena datang dengan keringat bercucuran. "Nis, gua tadi ngomong sama elu 'kan di kelas?" Denis menatap curiga Dena. "Ngomong apaan?" Dena menyandarkan tubuhnya. "Gua dihukum gara-gara elo minta pendapat gua buat laporin Bu Daniyah ke bokap lu? Terus kenapa cuma gua doang yang dapet hukuman?" Ahh, Dena baru nyadar dari kebeloonan. Sekarang barulah Denis mengeluarkan jurus lupa diri. "Eh iya! Yuk, gua bantu tinggal belsihin apanya?" Denis bersiap membersihkan toilet, pura-pura semangat 45. Dena menggeleng lemah. "Udah beres. Nis, lu kok gak nyadar, sih? b**o banget, tauk!" Denis pura-pura b**o. "Hehe, solly, Na, gua b**o, ya?" "b**o BANGET, ANJIR!" Dena mendengkus sebal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN