9. DAYANA PENUH TANYA

1182 Kata
Kadang rasa suka itu berawal dari penasaran, penuh pertanyaan. Bahkan ada yang tak pernah diharapkan, berujung penyesalan. -Kang Dani Seblak- "Ha!" Kang Dani menghirup bau napasnya, tetapi sama sekali tidak mencium bau jigong seperti dalam puisi yang Denis berikan. Tanpa menunggu lama, kedua kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit swallow putih ditatapnya lekat. Adakah tanda-tanda rorombeheun di sana pula? Rasanya tidak, lalu mengapa Denis mengakhiri puisi untuknya dengan tuduhan terhadap fisiknya? Namun, ia tidak mempermasalahkan. Toh, hanya sebuah puisi biasa, mungkin guyonan juga? Denis yang berhasil memberikan puisi buatan Dikri tak lepas menatap Kang Dani berbunga-bunga. Dena yang menemaninya masih kuat siap menghabiskan seblak level lima miliknya. Tidak memikirkan perasaan Denis yang bertaburan bunga, bibirnya pula enggan diam mengoceh ria. "Kita emang udah jodoh, Ayang ... lewat jalul seblak! Ah, kenapa ganteng banget, sih? Nanti anak kita pasti ganteng sama cantik kayak yang buatnya, aw!!" Dena melirik Denis malas. "Kata siapa elo jodohnya? Emangnya udah buat undangan nikah, Nis?" Denis menatap tajam Dena. "Ya, gak gitu juga, Dena! Lo liat, gak? Gua cantik, disukai semua cowok, nah Kang Dani juga!" tuturnya menggebu. "Gua juga disukai semua cowok! Jangan bilang jodoh kita Kang Dani juga?" Dena menyisir rambut halusnya cepat ke belakang. "Jangan sampe, Nis! Gua mau sama Daniel, gak level sama Kang Dani!" Lagi, Denis bodoamat dengan bacotan Dena yang merasa paling benar. Ia memilih menghampiri Kang Dani yang selesai melipat puisi pemberiannya masuk ke dalam saku jins. Kang Dani melempar senyum, tadi ia sudah berterima kasih. Jadi, sekarang tidak perlu lagi, kan? "Ayang!" panggil Denis, tangannya langsung menggelayut manja bak monyet di taman ragunan. Kang Dani mencoba melepas tangan Denis, tetapi gadis di sampingnya itu malah semakin mengeratkan pelukan tangan kanannya. "Jangan gini atuh, Neng! Gak enak, saya 'kan tukang dagang," geram Kang Dani. "Siapa bilang tukang jamblet, hem?" Denis terkikik manja. Kang Dani menghirup udara dalam-dalam. "Ud—" "Kayak kemaren, Kang!" Desi memesan seblak, dibuntuti Dayana yang berwajah masam. Kang Dani salah tingkah, beruntungnya juga Denis segera melepaskan tangannya. Sambil berkacak pinggang menghadap Desi yang bermuka biasa saja. Takut makan seblak karena ada Denis? Ee ... siapa dia? Penguasa warung Kang Dani? Oh, jangan bilang istri siri? Enggak, deh! Desi malah sengaja memancing emosi Denis. Dayana juga karena terpaksa lagi-lagi Desi mengingatkan janjinya untuk mentraktir. Jadi, Dayana hanya mampu mengikuti dan kembali memesan seblak lagi. Kang Dani dengan sigap segera membuat pesanan keduanya, melupakan wajah Denis yang sudah memerah. "Apa lo? Mata tuh jaga, emang gua pajangan lu deuleu mulu!" Desi memang asli dari Bandung jadi ia terbiasa menyelipkan bahasa Sunda yang tak bisa dimengerti Denis. "Ih, elu harus nyadal! Ngapain ke sini!" ketus Denis. Desi menyenggol bahu Dayana. "Ternyata, di kelas kita ada yang buta, ya. Masa gak bisa bedain mana mau jajan seblak sama NGE-l***e!" "KALO NGOMONG DIJAGA, YA!" teriak Denis tidak terima. Kang Dani harus apa lagi? Ia menarik Denis ke bangku kekuasaannya di mana Dena sangat tidak peduli sahabatnya itu kembali emosi. Malah memilih menggeruguti sayap ayam yang nikmat. Penyebabnya Desi dan Dayana. Aneh, bukankah mereka seperti pembeli lain? Bahkan yang sangat anehnya lagi, hanya Denis seorang. Masa ke tukang seblak manja-manjaan? Apakah itu bisa disebut pembeli normal? Tentu saja tidak! Kedatangan Danu menjadi buah bibir pembeli seblak lainnya. Dia menghampiri meja Denis. Tidak ada satu pun bangku kosong. Namun, ada belasan tangan terulur dan ocehan manja para senior dan junior menyerahkan kursinya. "Danu, punya gua aja!" "Nu, tau gak? Kursi gua harum 'kan gua yang duduk barusan!" "Sini, duduk bareng gua aja!" Danu memilih salah satu dari gadis yang menyodorkan kursi plastik untuknya. "Anjir! Punya gua dong dia pilih." Selanjutnya, dia akan duduk di mana berarti? Entahlah, Danu tidak peduli ia memutuskan memandang dalam Denis yang menghabiskan seblak level sepuluh miliknya dengan ganas. Wajah merahnya semakin menciptakan kesan manis, baby face. Cantik, sempurna, lucu. "Mata dijaga!" Denis menyadarkan lamunan Danu yang memandangnya dalam. Semua pembeli menatap mereka, menunggu drama selanjutnya. Danu menggaruk rambutnya asal. Menciptakan kesan gemas bak bad boy. "Jangan marah-marah gitu, dong!" "Lah, ngatul!" protes Denis, sambil menyeruput es jeruknya dengan cepat. Di meja lain. Kang Dani membawakan pesanan Desi dan Dayana. Keduanya melempar senyum berterima kasih. Masih kepo dengan keterdiaman Dayana, Kang Dani memilih diam di tempat menunggu reaksi mereka saat merasakan suapan pertama. "Enak?" tanyanya. Desi mendongak penuh tanya. "Ya kayak biasa, Kang!" Dayana sendiri segera menutupi rasa grogi dengan minum teh dinginnya. "Neng Dayana, gimana?" Uhuk! Dayana tersedak, cepat-cepat Desi memberikan tisu untuknya dan sedikit menepuk punggung Dayana. Kang Dani merasa bersalah. "Eh, maaf, Neng." Tangan kanan Dayana menarik dompet di saku roknya. Mengeluarkan selembar lima puluh ribu, lalu menyerahkan kepada Desi. Tanpa berpikir ulang, ia segera berlari meninggalkan Desi penuh tanya dan Kang Dani yang masih merasa bersalah. "Udah, Kang! Biarin aja dia, emang gitu orangnya." Desi menyerahkan uang yang Dayana berikan. "Ditraktir!" "Oh, iya. Sebentar saya ambil kembaliannya." Saat Kang Dani sedang mengambil kembalian untuk Desi, salah satu satpam datang memesan seblak untuk kepala sekolah yang meminta. "Biasa, nanti langsung ke ruangan Bu Dini, ya," pesannya. "Siap, Mang, nanti saya yang antar." Di belakang Denis bersiap menghampiri Kang Dani, tetapi Danu menghentikan langkahnya. Tatapan matanya yang tajam, hitam legam membuat Denis terdiam. "Bokap lu telepon tadi," lapor Danu, sesungging senyum mengartikan banyak arti dari ucapannya barusan. Denis mengerutkan kening dalam. "Bokap gua? Jangan sok kenal, ya!" "Nanti juga kamu bakal tau, By." Danu melepas cekalannya, lalu menjentik kecil kening Denis. Dena yang hanya mampu menjadi penonton bertanya, "Jangan-jangan, Si Danu dipanggil bokap lo, Nis! Gara-gara dia ngeganggu elu mulu." Ada benarnya juga, tetapi perasaan Denis tidak pernah melaporkan sikap Danu yang memaksa ingin menjadi pacarnya. Jadi, apa yang akan terjadi nanti? Nanti tuh kapan? Saat pikirannya melayang ke sana ke mari. Kang Dani dan Desi sudah menyeberangi jalan, masuk ke dalam gerbang SMK Sayang. Seperti biasa, lapangan khusus upacara dan berbagai kegiatan olahraga selalu ramai dikuasai pecinta basket. Terlihat juga Danu baru datang langsung bergabung. Lincah permainannya dan Kang Dani pernah merasakan memainkan bola basket. Masuk dalam tim siap mengikuti perlombaan. Sayang, semuanya tinggal kenangan lama. "Awas, bolaaa!!" Kedua tangan yang memegang nampan dengan satu porsi seblak level lima, menjadi arah sasaran bola basket yang siap menghantam. Namun, semua ketakutan sirna saat tangan kanan Kang Dani sigap menangkap bola basket yang mengambul di atasnya. Tertangkap! Tangan kirinya menahan berat satu porsi seblak. "Anjir!" Desi ternganga. Kang Dani melempar bolanya kembali ke tengah lapang, riuh tepuk tangan menggema semua orang melihat jelas kehebatan Kang Dani sebagai tukang seblak. Beruntungnya lagi Pak Daris sebagai guru olahraga yang duduk di bawah naungan pohon rimbun melihat itu semua. Sebuah ide datang, membuatnya tersenyum senang. "Edan, anjir! Kok bisa gitu, Kang? Padahal gua yang ada di samping lu aja gak nyadar ada bola basket tadi!" sanjung Desi masih tidak percaya dengan kemampuan Kang Dani. "Ah, itu mah refleks, Neng Desi. Biasa, gak luar biasa!" Kang Dani membela diri. Desi mendekap kedua tangannya di d**a. "Pasti Si Dayana gak bakal percaya walaupun gua jelasin juga!" Kang Dani menghentikan langkah kakinya. "Kenapa dia gak bakal percaya?" "Tauk! Dia kek bodoamat sama hadirnya Kang Dani, kenapa, ya?" Kenapa? Kenapa malah bertanya balik kepada Kang Dani?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN