*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠
⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠
?Selamat Membaca?
???
Kamu bagai senja, yang datang sekejap membawa warna, dan pergi meninggalkan luka.
???
Setelah yakin bahwa Radit yang telah menodainya, Senna langsung mendatangi kediaman Radit dengan membawa emosi yang untungnya masih bisa ditahan. Sumpah demi apa pun, dia tidak rela dipermainkan seperti ini.
Diketuknya pintu rumah Radit dengan keras. Namun setelah bermenit-menit dia melakukannya, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam.
"Radit! Keluar lo! Gue tau lo ada di dalem! Keluar! Gue butuh bicara sama lo!" teriak Senna yang sudah tak mampu menumpu amarah lagi. "Buka pintunya!"
"Radit! Buka pintunya! Radit! Cowok berengsek! Buka pintunya!"
Tak peduli telapak tangannya terasa sakit, Senna terus memukul permukaan pintu sesuai intensitas kemurkaannya. Semakin merah pula tangannya.
"Radit!"
Nihil, tidak ada yang merespons.
Setelah capai, Senna berbalik, dan duduk bersandar di pintu. Sekarang ini dia benar-benar kacau, frustrasi, dan hancur berkeping. Sesuatu yang paling berharga dalam diri terenggut secara paksa. Dan itu dilakukan oleh orang yang ia cintai sendiri. Kalian tahu bagaimana rasanya?
Lewat satu jam, akhirnya Senna bisa melihat penampakan Radit yang berdiri tak jauh darinya. Mata Senna setengah tertutup, sebab dia nyaris tertidur di sana. Pandangan mereka bertemu.
Menyadari kedatangan Radit, Senna berusaha berdiri dengan kepala berat, lalu berjalan tertatih-tatih mendekati Radit yang memandangnya tak berekspresi. Tenaga Senna sudah terkuras habis.
Tibalah Senna di hadapan Radit, perempuan itu menatap Radit sendu. Lelaki yang ada di hadapannya kini sudah berubah. Tidak ada Radit yang manis lagi. Tidak ada Radit yang menatapnya penuh cinta dan renjana. Semuanya berubah dalam sekelebat. Dia bagai senja yang datang memberi warna namun pergi begitu saja meninggalkan luka.
Kedua tangan Senna terangkat, lalu diletakkannya telapak tangan di d**a Radit, kemudian mencengkeram baju Radit dengan kuat.
"Nikahin gue, Dit."
Kedua bola mata Radit terputar.
"Nikahin gue!"
"Kenapa gue harus nikahin lo?" Radit tertawa sinis.
"Gue tau, lo kan yang udah ngambil sesuatu yang berarti dalam hidup gue?" tanya Senna, menatap mata Radit tajam namun terlihat lemah, dan ia berusaha sabar. Ia hanya ingin hubungannya dengan Radit baik-baik saja. Ia hanya ingin mereka seperti dulu. Ia hanya ingin menjalin kasih seperti pasangan lain yang kisahnya awet hingga ke jenjang pernikahan dan membangun rumah tangga yang harmonis.
Sayangnya, Radit hanya diam. Lelaki itu berlagak tak acuh dan tak peduli. Hati Senna hancur dan patahannya berserakan. Hanya dengan melihat ekspresi, jiwanya hancur tak kurang dari satu detik.
Mata Senna tak sedikit pun beralih pada objek lain. Hanya Radit-lah yang ia tatap. Hanya pada dialah gadis itu berharap.
"Oke. Gue bakalan maafin lo kalau lo emang beneran lakuin itu. Tapi gue minta sama lo untuk tanggung jawab. Nikahin gue, Dit. Kita bisa hidup dengan ikatan yang lebih dalam. Lo mau, kan? Bukannya lo pernah bilang, kalau gue ini segalanya?"
"Maksud lo apa?"
"Gue cuma mau lo nikahin gue. Kita pergi dari sini kalau lo emang nggak betah ada di sini. Gue bakal berusaha untuk bikin lo bahagia. Dunia ini emang kejam. Kita berdua sama-sama tersakiti. Kita semua sama-sama ngerasa terbuang! Izinin gue untuk pergi bareng lo. Ayo kita berdua cari kebahagiaan abadi itu sama-sama. Ayo kita pergi dari sini. Gue pengin hidup bahagia bareng lo. Gue pengin hidup tenang bareng lo! Gue pengin ngerasain gimana rasanya bahagia bareng orang yang gue cinta."
Radit tersenyum kecut. Dia melepaskan tangan Senna dari bajunya secara kasar. Bulir bening muncul di pelupuk mata Senna. Sakit di tangannya tak sebanding dengan nyeri di hati akibat perlakuan seenaknya itu.
"Lo jangan asal fitnah gue, ya. Kenapa gue yang harus tanggung jawab?"
"Karena gue yakin elo yang udah lakuin itu!"
Radit diam, mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Jawab gue! Lo kan yang udah lakuin semua itu?! Gue inget dulu lo pernah bawa gue ke hotel."
Belum ada jawaban.
"Jawab gue!"
"Oke-oke, Senna. Gue ngaku. Iya, gue yang udah ngelakuin itu. Terus?"
Air mata Senna jatuh. Hatinya seperti diremas, lalu diinjak oleh kaki tak bertanggungjawab. Segampang itu dia bertanya 'terus?' setelah melakukan hal b***t? Semudah itu dia bersikap enteng?
"Kenapa lo lakuin itu?! Kenapa lo tega ngelakuin itu tanpa sepengetahuan gue? Kenapa saat pertama kali lo tau, lo nggak ngaku dan nuduh kalau gue cewek nggak bener? Permainan apa ini?!"
Radit terdiam.
"Kenapa lo tega lakuin ini ke gue? Mau lo apa? Bilang sama gue kalau lo lakuin ini karena lo mau milikin gue sepenuhnya."
Radit pun menatap Senna rendah, seakan perempuan di hadapannya itu s****h, kemudian kakinya maju satu langkah. Tangan kanannya disimpan di bahu Senna. Senna menatap tangan Radit yang ada di bahunya nanar.
"Senna, Senna...." Radit menggeleng. "Sebegitu percaya dirinya kah lo?" Dia tertawa kecil. "Apa yang lo rasain selama ini? Hm? Lo bahagia dicintai sama gue? Lo seneng?" Radit menarik napas kemudian membuangnya. "Lo seneng udah gue istimewakan? Lo bahagia liat gue ngebela lo di depan tante lo? Lo seneng gue puja-puja? Tapi sayangnya, gue nggak bahagia, yang ada gue menderita. Karena sebenernya, gue cuma pura-pura cinta sama lo. Lo tau nggak? Semua kata-kata palsu yang gue lontarin itu bikin gue jijik." Radit masih menatap Senna dengan wajah khas playboy-nya. "Sampai kapan pun gue nggak akan berubah. Gue adalah Radit, yang nggak akan pernah menjatuhkan hatinya sama perempuan mana pun, termasuk lo. Mau secantik apa pun ceweknya, di mata gue mereka sama."
Hening.
Suara patah di hati Senna tak terdengar.
"Sayangnya, lo terpedaya. Aah, perempuan emang mudah untuk dipermainkan. Makannya, perempuan itu emang lemah, ya. Enggak nyokap gue, enggak si Rania, enggak lo."
Jemari Radit mencengkeram kuat bahu Senna, tatapannya semakin menghunjam walau Senna menundukkan mata. Senna sendiri berusaha menahan sesuatu yang membara di d**a. Dia yang lemah di depan orang yang dicintai hanya diam, meski kata-kata yang Radit lontarkan begitu menusuk hati hingga menghadirkan luka tak terkira, menembus hingga lapisan terakhir.
"Mungkin sekarang waktunya buat nunjukin, kalau gue nggak cinta sama lo. Gue sama sekali nggak pernah naruh rasa. Lo-nya aja yang gampang baper. Lo-nya aja yang terlalu mudah untuk gue permainin. Udah tau gue berengsek, gue playboy, masih aja ketipu. Jadi? Siapa yang salah? Gue atau lo?"
Lagi, air mata wanita di depannya jatuh.
"Sekarang lo bisa per---"
"Jangan ngomong lagi! Cukup! Gue tau lo cuma bohong. Jujur sama gue ada apa sebenernya?! Ada apa sebenernya? Kenapa lo berubah?"
Radit tidak menjawab.
Senna langsung memeluk Radit dengan sangat erat dan gemetar. Wajahnya menggambarkan ketakutan kentara. "Gue mohon, bilang ke gue kalau semua ucapan lo itu bohong. Bilang ke gue kalau lo punya masalah lain sampai mengharuskan lo untuk lakuin ini. Jujur sama gue. Karena gue tau, gue ngerasa kalau semua yang lo lakuin selama ini tuh tulus. Gue bisa liat mata lo, cara lo bicara, semuanya nunjukin kalau lo nggak pura-pura. Gue hafal mana yang tulus dan pura-pura. Gue hafal. Jujur sama gue! Ju---"
Radit melepaskan pelukan Senna secara paksa dan kasar. Kontan mata Senna melebar. Sifat kasar Radit kini ditunjukkan juga pada dirinya.
"Udah, nggak usah drama. Jangan pernah ngerasa jadi perempuan yang dicintai dan ngerasa dikorbankan. Lo itu di hadapan gue sama kayak yang lain. Nggak ada apa-apanya."
Senna masih diam, kedua tangannya terkepal. Giginya mengetat hingga menimbulkan getaran di rahang.
"Gue seneng, udah bisa taklukin satu cewek lagi." Radit tersenyum. "Ternyata gue hebat, ya." Lelaki itu berbangga diri. Senna menggigit bibir bagian dalam. Semesta seakan mentertawakannya. Partikel yang tak terlihat pun seakan sedang mengolok-olok. Tidak ada beda antara dirinya dengan orang yang sedang dipermalukan di depan jutaan orang.
"Gue benci sama lo.... Sumpah demi Tuhan, gue nggak akan pernah ngelupain penghinaan ini."
Radit mengangguk-anggukkan kepala. "Gue nggak peduli. Kebencian lo itu enggak berarti apa-apa buat gue."
"Gue benci...."
Radit mengangguk tanpa beban.
"Oke...." Air mata Senna jatuh bertetesan. Remuk redam sudah hatinya. Tatapannya pada Radit begitu tajam. "Oke...."
Perlahan, dia mundur, melangkah ke samping, dan berjalan dengan pandangan kosong, mata mengembun, meninggalkan Radit yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Langkah Senna sangat laun, lantaran membawa luka berat di d**a.
Dia sudah kehilangan arah dan tujuan.
Sehina inikah dirinya di hadapan lelaki itu?
Senna terus berjalan menyusuri jalan bagai orang linglung. Ke mana ia sekarang? Harus melakukan apa? Bagaimana masa depannya?
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di sebelah Senna. Namun Senna terus berjalan tanpa melihat sekeliling.
"Senna!"
Senna tidak mendengarkan panggilan orang itu.
"Senna!"
Akhirnya, langkah Senna terhenti, seorang pria sudah berdiri di hadapannya, menghalangi jalannya. Senna mendongkak, ternyata dia adalah omnya.
"Senna, kamu dari mana aja? Om cari kamu ke mana-mana, lho," ucap sang om dengan nada khawatir.
Melihat mata Senna yang merah, Ilyas mulai menduga-duga. "Kamu kenapa? Sakit?"
Saat ini Senna sedang membutuhkan seseorang untuk menampung air matanya. Segeralah dia memeluk Ilyas, dan mencucurkan air mata kesakitan.
"Om...."
Ilyas mengernyit melihat sikap aneh Senna.
"Om ... sakit...."
"Apanya yang sakit, Sen? Kamu kenapa? Ada apa? Cerita sama Om."
"Sakit...."
"Lebih baik sekarang kamu ikut Om pulang, ya?" ajak lembut suara Ilyas.
Senna masih sesenggukkan dalam pelukan omnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Sebagai seorang perempuan Senna merasa dirinya sudah rusak.
???
Bersambung
Jazakillahu khairan khatsiiran ...