???
*بـــــــسم اللّـــــــه الرّحمن الرّحيـــــــم*
⚠Ambil baiknya, buang buruknya⚠
⚠Jangan ngejudge suatu cerita sebelum kamu mebacanya sampai tamat⚠
?Selamat Membaca?
???
Meninggalkan gedung sekolah, Rania berkali-kali menolehkan kepala kebelakang. Di sana ia bisa memperhatikan teman-teman seangkatannya memegang ijazah ditangan masing-masing. Ini adalah terakhir kalinya ia mengenakan seragam putih abu-abu dengan rapi.
Rania mendesah. Sekarang dia bukanlah seorang anak remaja lagi, ia harus bisa mencari jati diri untuk mengubah masa depan.
Tidak lama setelah itu Rania bisa melihat Raka yang kini berlari ke arahnya. Sambil memasang wajah gembira, laki-laki itu berkali-kali tersenyum kepadanya.
Rania begitu bosan melihat wajah seperti itu. Karena tidak ingin bertemu, Rania memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan gedung sekolah. Tapi, baru beberapa langkah sesuatu seolah memaksanya berhenti secara mendadak. Raka menggenggam tangannya dengan cepat.
"Aku antar kamu pulang. Aku tau, nggak ada yang jemput kamu."
"Sok tau, kamu."
"Aku bukannya sok tau. Tapi aku benar-benar tau, Ran."
Rania hanya diam. Sudah kehabisan cara untuk terus menghindari Raka. Laki-laki itu tidak mau mengerti.
Rania bosan saat Raka mengirim pesan via w******p setiap saat, Rania bosan saat Raka terus meneleponnya.
"Kita pulang bareng, ya. Pliss..." Raka menempelkan kedua tangannya di depan Rania, bersikap sangat memohon, berharap Rania mau mengabulkan permintaannya.
"Raka, nggak enak. Kita itu nggak ada hubungan apa-apa. Aku nggak nyaman."
"Yaudah, sekarang aku nggak bakal maksa kamu lagi buat jadi pacar aku. Tapi, kamu nggak bisa nolak kalau aku minta kita berteman."
Raka tersenyum begitu manis.
"Yaudah," kata Rania pada akhirnya.
Di perjalanan mereka berdua sama-sama diam. Baik Rania maupun Raka keduanya larut dalam pikian masing-masing.
Raka mempercepat kelanjuan motornya, membuat Rania mau tidak mau melingkarkan tangannya dipinggang Raka. Raka tersenyum, menjatuhkan pandangannya sejenak pada tangan Rania.
"Raka, jangan ngebut. Aku takut."
Raka memandang wajah Rania dari pantulan kaca spion. Terlihat jelas bagaimana raut kepanikan yang kini terpancar dari wajahnya.
"Pegangan aja yang kenceng. Kita akan baik-baik aja."
Raka sedikit berteriak, sebab angin sudah mengalahkan suaranya.
Karena takut, Rania sampai mencengkram baju Raka.
Entah bagaimana kejadian ini bisa terjadi begitu cepat. Rania bahka tidak tahu dari mana asalnya mobil yang tiba-tiba saja muncul.
Kedua mata Rania terbuka lebar. Hingga dalam hitungan detik ia merakan tubuhnya mengalami sesuatu yang sangat buruk.
Rania meringis, memegang kepalanya yang terasa basah, cairan merah nan kental kini mengalir begitu deras.
Raka yang tergeletak di atas aspal, langsung memandang Rania yang diam tak bergerak. Dengan kesadaran yang masih tersisa Raka lantas berlari mendekati Rania, mengangkat tubuh perempuan itu ke atas pangkuanya.
"Rania, bangun Rania bangun!"
Raka berusaha membangunkan Rania. Tapi tidak membuahkan hasil apa-apa. Dengan kemarahan yang luar biasa, Raka memandang tajam ke arah laki-laki paruh baya itu.
"Ini semua karena lo! Lo harus tanggung jawab!"
Nafas Raka memburu. Melihat Rania yang tidak bergerak membuat Raka panik setengaj mati.
Ilyas masih mamatung di tempat. Karena terlalu fokus mencari keberadaan Senna, ia sampai tidak mematuhi lalulintas.
"Saya akan bertanggung jawab, saya akan mebawanya ke rumah sakit."
Raka tidak punya banyak waktu, ia mengangkat tubuh Rania dengan cepat. Membawanya masuk ke dalam mobil laki-laki itu. Setelah ini, Raka akan membuat perhutungan laki-laki yamg sudah memyebabkan kecelakaan ini.
"Ran, bangun Ran. Kamu harus bertahan. Maafin aku, kalau seandainya aku nggak paksa kamu, kamu nggak akan kayak gini."
Noda darah sudah menyebar kenasa-kemari. Mebuat Raka seolah bermandikan darah. Raka tidak siap jika terjadi hal buruk dengan perempuan yang ia cintai itu. Raka mengerti, kesalahannya sudah membuat Rania terluka hingga memilih terus menjauh. Raka baru menyadari bahwa Rania yang bisa mengerti keadaannya.
"Bertahan, Ran. Aku mohon..."
???
Raka masih duduk di deoan ruangan UGD setengah jam sudah dokter menangani Rania. Tapi hingga saat ini ia masih belum mendapatkan kabar apa-apa.
Tadi, Raka sudah berusaha menghubungi orang tua Rania. Tapi tidak ada jawaban apa-apa. Untngnya Raka berhasil menghubungi Radit.
Ilyas sendiri tidak mengerti bagaimana ia bisa mencemaskan gadis itu. Rasanya ada sesuatu yang begitu mengganjal, membuat batinnya merasa tersiksa sebelum mendengar bahwa anak gadis itu baik-baik saja.
"Raka, lo apain adek gue?!"
Radit yang baru tiba langsung menarik kerah baju Raka, memandang Raka dengan luapan emosi yang tak terduga. Wajah Radit merah menahan marah.
"Gue bisa jelasin, Kak."
Radit langsung memukul pipi Raka kuat, membuat laki-laki itu tersungkur di atas ubin yang keras.
Raka beringsut, mendogakkan kepalanya ke atas.
"Sumpah, ini bukan salah gue. Ini karena Bapak ini. Mobilnya tiba-tiba pindah jalur dan bikin gue sama Rania kecelakaan!"
Radit memandang Ilyas dengan tatapan tak terbaca. Radit bersumpah, jika terjadi hal buruk pada Rania, ia akan langsung menghabisi nyawa mantam ayahnya detik ini juga.
"Radit. Jadi dia adik kamu?"
"Kalau sampai terjadi hal buruk sama adik saya. Om akan tanggung akibatnya!"
"Maafkan saya, Radit. Saya tidak sengaja, pikiran saya kacau karena saya mencari keberadaan Senna. Saya takut terjadi hak buruk padanya."
Radit tersenyum kecut. Mudah sekali dia meminta maaf.
"Tidak semudah itu. Saya tau dimana Senna. Jadi, kalau adik saya kenapa-kenapa. Senna harus menanggung akibatnya!"
Ilyas melotot. Ia tidak akan mungkin membiarkan Radit melukai Senna.
"Tolong,Radit. Jagan lakukan apa pun pada Senna. Saya, saya yang bersalah. Kamu boleh balaskan pada saya."
Radit membuang muka. Semakin sakit hati. Mantan ayahnya itu lebih mementingkan anak oranglain, kemudiam dengan mudah membuang anak kandungnya sendiri.
Tidak lama setelah itu dokter keluar dari ruangan. Radit menghampiri laki-laki berpakaian putih itu dengan wajah was-was.
"Bagaimana kondisi adik saya?"
"Dia kehilangan banyak darah. Dia butuh dua kantong darah. Sementara persediaan darah yang dia butuhkan hanya tinggal satu."
"Ambil darah saya, Dokter. Saya kakaknya. Darah saya dan dia sama."
Dokter mengangguk, meminta suster untuk mebawa Radit ke dalam ruangan.
"Lo temani Rania. Setelah ini gue bakal suruh ibu gue ke sini. Tapi gue minta satu hal sama lo. Jangan bilang sama siapa pun kalau gue yang donorin darah gue buat Rania."
Raka bungkam. Merasa aneh dengan tingkah Radit.
"Sekarang, Om pergi dari sini! Tunggu permainan saya!" kata Radit penuh penekanan. Kali ini, ia tidak akan main-main lagi. Rencananya untuk menghancurkan Ilyas dan istri mudanya itu harus terlaksanakan. Kemudian membuat Senna menderita, merasakan apa yang sempat ia rasakan bersama keluarganya.
"Radit, apa maksud kamu?"
Radit menghiraukan Ilyas. Sudah tidak sudi bersikap manis lagi.
???
Asri dan Bi Nani sudah berada di rumah sakit. Sudah empat jam setelah kecelakaan itu terjadi, tapi Rania masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata.
Melihat kondisi Rania seperti ini, membuat Asri merasakan ketakutan yang luar biasa. Sekarang kehilangan Rania lebih mengerikan dari sekadar kehilangan pekerjaannya.
"Nyonya nggak mau makan dulu? Dari tadi nyonya belum makan."
Asri hanya menggeleng pelan. Semenjak pertemuannya dengan Ilyas kemarin, Asri selalu dihatui rasa takut yang tidak jelas. Asri tidak ingin Ilyas datang dan mengambil anak-anaknya. Bagaimanapun selama ini Asri juta tidak begitu dekat dengan kedua anaknya. Terlebih Radit.
"Kalau Nyonya nggak mau makan, nanti Nyonya sakit. Kasian Non Rani."
"Saya mau menunggu Rania membuka matanya, Bi."
"Bibik yakin Non Rania pasti seneng banget karena bisa ditemanin sama ibunya. Tapi kalau Nyonya sampai nggak mau makan, Non Rani juga pasti sedih."
"Hmm, nanti ya Bik. Saya pasti akan makan. Cuma sekarang saya benar-benar nggak lapar."
Bi Nani Mendesah. Usahanya gagal.
"Bibik tau nggak. Saya sebenarnya sayang banget sama Rania. Hanya saja saya tidak punya waktu untuk menemani hari-harinya. Bibik tau? Meski saya selalu bersikap tidak peduli, tapi sebenarnya bukan begitu. Saya tidak bermaksud untuk mengabaikan mereka..." Asri lelah, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bi Nani hanya bisa diam, sambil mengusap pelan bahu majikannya itu.
"Iya, nyonya. Bibuk tau itu. Nggak ada seorang ibu yang nggak sayang sama anaknya. Nyonya nggak perlu sedih. Buktinya Non Rani tetap sayang sama Nyonya kan?"
"Saya nggak mau kehilangan Rania ataupun Radit, Bi. Mungkin setelah ini saya akan memilih untuk mengurangi jam kerja saya. Saya tidak peduli kalau mereka menurunkan jabatan saya."
Bi Nanti tersenyum bangga. Semoga apa yang dikatakan majikannya itu benar adanya. Sebah Rania pasti akan bahagia, sesuatu yang selalu ia dambakan akan segera terwujud.
???
Bersambung.