Seorang pria muda, bertubuh tinggi kekar nan gagah, memiliki sepasang mata berwarna biru, hidung mancung, dan rambut pirang, tampak menaiki tangga. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan pasangan. Sungguh kabar baik, karena buah hati kami telah resmi dimasukkan ke dalam silsilah keluarga mortal, bahkan berhak mendapatkan warisan. Tapi, tujuan utama bukan harta, namun supaya keluarga kecil aman, terhindar dari gangguan fairy.
Ketika sudah mencapai lantai kedua, ia berbelok ke sebelah kiri, kemudian meneruskan langkah ke kamar tujuan. Perasaan bahagia bercampur menjadi satu, sehingga tak sabar ingin segera tiba di sana.
Tak lama kemudian, sampailah di kamar tujuan. Family man ini mengetuk pintu, namun nihil. Ia mencoba dua kali lagi, tetap sama saja. Tidak ada sahutan atau suara dari dalam, sehingga membuat ayah satu orang putri itu mengerutkan dahi.
Apakah istri tertidur? Mungkin saja begitu, karena tekanan batin yang dialami, membuat Rhena terlalu banyak pikiran. Coba kubuka saja, siapa tahu tidak terkunci, sekaligus membuktikan dugaan semula. Walaupun bisa magick, tetap saja harus berhati-hati, tak boleh sembarangan mengucapkan spell, karena apabila salah satu mortal di kastil ini melihat, maka identitas asli ketahuan, bahkan hidup dengan aman tinggal impian, batin Truantz.
Perlahan, tangan kiri si lelaki mendorong pintu perlahan. Ternyata, pintu memang tidak terkunci, sehingga ia bisa masuk. Pria cerdas tersebut, langsung masuk ke dalam, lalu kembali menutup akses.
“Wifey?” panggil sang suami, lembut.
Suasana begitu hening, sehingga bisa dipastikan, kalau si penghuni tidak ada atau bisa jadi tertidur di ranjang. Sepasang manik biru diedarkan ke sekeliling ruangan, seakan mencari keberadaan teman hidup, sekaligus buah hati tercinta.
Di atas meja, tampaklah terdapat satu buah tray, di mana satu poci berisi dua cangkir teh, segelas air mineral, segelas jus strawberry, dan berbagai camilan. Minuman yang ada, sebagian besar sudah kosong, begitu pula camilan tinggal setengah, pertanda telah dikonsumsi oleh penghuni kamar.
Semua itu dilihat oleh sang fairy male, sehingga sebuah senyum terulas di bibir. “Kepala pelayan telah membawakan semua yang kuminta. Bagus sekali. Tapi tetap harus menemui Rhean, agar dia mau makan siang bersama, sekaligus memberitahu, kalau Traimt sudah datang,” gumamnya pelan.
“Sayang?” Sang fairy prince tak juga menyerah. Lagi-lagi tak ada sahutan atau jawaban dari sang istri. Lelaki itu menajamkan indra penciuman. “Kalau dari bau, mereka masih berada di sini. Coba kucari di tempat tidur. Siapa tahu mereka di sana.”
Langkah yang sempat terhenti, kini digerakkan kembali. Pria berhidung mancung pun masuk ke tempat tidur. Di sana, tampaklah wanita terkasih, tengah tertidur lelap dengan bayi berusia tiga bulan dalam dekapan. Raut kelelahan, terlihat jelas di sana, sehingga menimbulkan rasa iba.
Akhirnya, aku menemukanmu. Kasihan sekali mereka, terutama pasangan, karena berusaha keras menjaga kewarasan, akibat tekanan yang menghimpit. Ibu mortal sangat jahat, karena telah menuduh Rhean yang menyebabkan semua ini. Untung saja, manusia di kastil ini tidak mengetahui bahwa I am a fairy prince, so my daughter must be has a half human blood. Semua selamat, berkat cerita turun-temurun, mengenai restu dari mertua pihak suami, khususnya perempuan. Kalau tidak, sudah pasti mereka berpikir lain, bahkan bisa menuduh yang bukan-bukan.
Tak lama kemudian, sepasang mata berwarna hijau itu terbuka perlahan. Samar-samar, perempuan lemah lembut tersebut melihat ada seseorang tengah berdiri di depan mata, namun belum mengetahui dengan pasti, karena masih mengantuk.
Si lelaki menunggu dengan sabar. Ia tak bergeming dari tempat semula, karena tidak mau mengagetkan istri tercinta. Tubuh langsing itu menggeliat sebentar, lalu pandangan beralih ke depan. Sosok yang dilihat, masih berada di sana, namun ibu muda itu seolah mengenal dengan baik.
“Hub ... by?” ucapnya, ragu-ragu.
“Ya, Wifey. Ini aku.” Rasa lega timbul di dalam hati, karena pasangan telah mengenali.
“Kenapa lama sekali?” tanya Rhean, setengah heran. Perempuan cantik itu masih berjuang keras untuk tetap
“Aku tadi dipanggil oleh ayah, saat mencari kepala pelayan. Ada kabar baik untuk kita,” jawab sang suami, lembut.
“Duduklah di dekatku, Hubby. Apakah maksudnya ‘ada kabar baik untuk kita’?” Ibu muda menjadi tertarik.
Sang suami pun memilih duduk di kaki pasangan. Sepasang mata biru mengamati raut cantik milik anak tunggal dari Agrh Lutzh dan Grima Vandft tersebut. “Kabar baik? Ostara dimasukkan ke dalam silsilah Statzh, termasuk berhak menerima warisan. Ayah telah memanggil Tuan Agvtagh Defrocx. Beliau adalah pencatat sejarah keluarga dan semua dilakukan, tepat di depan mata.”
Perempuan berkulit putih tertegun sesaat. Ia seolah tak mempercayai apa yang didengar. Di satu sisi merasa lega, karena itu berarti anak mereka diakui secara sah, masuk ke dalam keluarga bangsawan, namun ada kejanggalan, kenapa semua hal itu bisa terjadi? Bukankah tadi pagi ada insiden di dining room, karena mempermasalahkan warna mata Ostara?
“Ya, memang kabar bagus. Tapi, aku penasaran, mengapa ayah melakukan demikian?” Raut heran tak dapat disembunyikan. Gretzh yang mengetahui, langsung tersenyum manis.
“Aku tahu, kamu pasti ragu. Let me tell you the whole story, I hope you do not mind at all.”
“No, I do not mind. Please tell me, Hubby. I am all ears.”
“Oke. Semua berawal ketika turun ke bawah, untuk mencari kepala pelayan. Tak lama kemudian, saat sudah di lantai dasar. Aku melihat, ayah tengah berdiri dengan seorang pria, but I did not know who was him.” Fairy prince mengawali cerita. Perempuan bermata hijau memperhatikan dengan seksama.
“Ayah memanggil, lalu aku mendekat. Beliau berkata ingin bicara, namun sebelum itu, dia memperkenalkan seseorang. I never seen his face before. Nama tamu tersebut adalah Agvtagh Defrocx, pencatat sejarah keluarga Statzh. After that, we were going to the meeting room.”
“Di sana, Ayah mengatakan, bahwa pertama, Ostara, dimasukkan ke dalam pohon silsilah keluarga. Kedua, ada beberapa catatan khusus, berkaitan dengan cucu pertama di dalam keluarga besar Statzh. To be honest, I did not understand. But I got a shocking fact from this.”
Rhean masih menunggu. Ia benar-benar penasaran, karena suami mengatakan dengan nada teratur, bahkan raut bingung tampak jelas di wajah kepala keluarga itu. “Aku menanyakan tentang maksud dari ‘catatan khusus’. Ayah menjelaskan, bahwa Ostara tidak cacat, namun ada ada penyebab mengapa dia bisa seperti itu.”
Akhirnya, mertua laki-laki mengakui, jika apa yang terjadi pada bayi cantik ini, bukan kesalahan kami, apalagi ditimpakan padaku. Orang tua mana menginginkan hal buruk untuk anak-anak? Tentu saja, semua menginginkan hal terbaik.
Suasana sempat hening sebentar. Si lelaki menatap lekat-lekat teman hidup. “Sebelum aku melanjutkan. Wifey, pakah kau pernah mendengar legenda di negara Avregth, jika mertua dari pihak suami, khususnya sang ibu, tidak menyukai menantu perempuan, bahkan tidak berdoa demi kebaikan, serta keselamatan jabang bayi di dalam kandungan, maka calon grandma dan grandpa, akan dikaruniai cucu dengan jenis kelamin female, di mana itu sangat tidak diharapkan. Bahkan bisa ada cacat bawaan?”
Perempuan berambut coklat panjang brunette tersebut, terdiam cukup lama. Ia terlihat tampak berpikir, namun menggeleng sebagai jawaban awal. “Aku belum pernah mendengar cerita itu. Di rumah, guru-guru datang hanya untuk mengajar tentang tata krama, memasak, membaca, menjahit, merajut, lalu belajar bahasa asing. Ibu dan ayah tidak pernah mengatakan legenda demikian, sehingga benar-benar tak mengetahui sama sekali.”
“Aku sebagai laki-laki pun merasa janggal dengan cerita rakyat tersebut. Tapi, ayah mengatakan, jika ibu melakukan tepat seperti desas-desus yang beredar di masyarakat. Sehingga Ostara terlahir perempuan, termasuk sepasang mata berwarna berbeda.”
Sepasang mata hijau itu terbelalak. Dia sungguh terkejut, karena mertua perempuan tega melakukan perbuatan tersebut, sehingga buah hati menjadi korban. “Be-benarkah itu?”
Gretzh mengangguk. “Aku pun terkejut, bahkan sempat tidak percaya. Namun, ayah mendapatkan informasi ini langsung dari ibu, ketika mereka kembali ke kamar setelah sarapan di dining room. Akibat perbuatan tersebut, beliau sangat murka, bahkan mencoret nama istri sendiri dari daftar penerima warisan. Ostara tetap bisa bersekolah, meskipun di masa depan tentu ada gunjingan dari masyarakat. Semua harta yang dimiliki oleh Ogath Statzh, sudah dibagi atas nama kami, lalu Traimt.”
Rhean terdiam, karena masih mencerna alasan mengapa sang mertua tega melakukan hal jahat kepadanya. Apa salahku, sehingga nyonya Bratzh sampai hati tidak menurunkan restu, bahkan tak mendoakan keselamatan, ketika tengah mengandung anak pertama? Ostara yang malang, sehingga harus menanggung beban. Anak kami tidak cacat dan I knew it so well. Selama dia masih di dalam kandungan, selalu menyantap hidangan bergizi, bahkan doa kepada dewa dewi pun rutin dilakukan.
Isi hati pasangan, terdengar oleh Gretzh. Pria bertubuh tegap itu tidak mau, kalau wanita lemah lembut tersebut mengalami tekanan mental. “Wifey, semua bukan salahmu. Kita tidak pernah tahu isi hati orang lain: sekejap baik, satu detik kemudian jahat. Ayah telah meminta maaf atas kejadian pagi ini melaluiku. Beliau meminta, agar kita tetap bergabung saat makan siang di dining room. Oh, iya, Traimt sudah tiba. Kau nanti bisa bercengkarama dengan adik ipar.”
“Kapan dia datang?”
“Tak lama setelah semua selesai, kepala pelayan memberitahu, jika anak bungsu datang. Dia datang bersama suami dan anak mereka. Sekarang, mungkin masih beristirahat di kamar, sekaligus berganti pakaian untuk lunch. Kita nanti bergabung bersama mereka, ya? Traimt pasti ingin ngobrol.”
Rhean tersenyum manis. Keraguan yang muncul sirna. “Ya, Hubby. Aku setuju.”
***