Traimt Statzh Family Is Coming

1233 Kata
Seorang pria muda datang dengan dua lelaki paruh baya. Mereka langsung menuju ke luar. Saat di sana, sehingga tampaklah seorang perempuan dengan tubuh berisi, bermata biru, berambut pirang, mengenakan pakaian musim dingin, berwajah ramah, tengah menggendong bayi yang sudah mengenakan baju hangat, supaya bisa menghalau salju.   Di samping wanita itu ada seorang pria berusia cukup matang, kira-kira dua puluh tujuh tahun, tinggi, memiliki sepasang manik coklat, rahang kokoh terlihat jelas, wajah bersih dari kumis, jenggot, dan cambang.   Tak lupa, barang-barang bawaan diletakkan di atas tanah. Beberapa pelayan pria dengan sigap hadir di sana, menunggu perintah dari tuan mereka. Ogath memberikan kode untuk mengangkat semua yang ada, lalu mereka pun mengerjakan, tepat sesuai keinginan.   Seorang pria muda datang dengan dua lelaki paruh baya. Mereka langsung menuju ke luar. Saat di sana, sehingga tampaklah seorang perempuan dengan tubuh berisi, bermata biru, berambut pirang, mengenakan pakaian musim dingin, berwajah ramah, tengah menggendong bayi yang sudah mengenakan baju hangat, supaya bisa menghalau salju.   Di samping wanita itu ada seorang pria berusia cukup matang, kira-kira dua puluh tujuh tahun, tinggi, memiliki sepasang manik coklat, rahang kokoh terlihat jelas, wajah bersih dari kumis, jenggot, dan cambang.   Tak lupa, barang-barang bawaan diletakkan di atas tanah. Beberapa pelayan pria dengan sigap hadir di sana, menunggu perintah dari tuan mereka. Ogatzh memberikan kode untuk mengangkat semua yang ada, lalu mereka pun mengerjakan, tepat sesuai keinginan.   Pasangan muda tak mengatakan apa pun, karena menurut sopan-santun, mereka harus disambut oleh pemilik kediaman, sebagai tanda kehadiran mereka diterima baik di tempat itu. Adik mortal sang fairy prince menatap ke arah kakak laki-laki, lalu tersenyum. Gretzh melihat hal tersebut, langsung membalas dengan cara yang sama.   “Traimt, Putriku. Kemarilah,” ucap Ogatzh, memecah kesunyian. Terdapat nada kerinduan mendalam.   Mereka bertiga maju mendekat, setelah tuan rumah menyapa terlebih dahulu. Sesampainya di sana, anak bungsu berkata kepada pria paruh baya bermata biru, “Ayah, kami telah tiba.”   “Selamat datang, ‘Nak. Bagaimana kabar kalian bertiga?” tanya lelaki yang sudah memiliki dua orang cucu itu.   “Kami semua baik, Ayah. Bagaimana denganmu dan ibu?” jawab Traimt, riang. Meskipun sudah menjadi seorang istri, sekaligus ibu, dia tetap berperilaku sama seperti gadis yang belum menikah.   “Semua baik-baik saja, seperti yang kau lihat sekarang. Mari masuk, kalian pasti sangat lelah sehabis perjalanan jauh,” ajak Ogatzh, kepada anak bungsu yang datang bersama suami, dan cucu kedua.   “Baik, terima kasih,” sahut Traimt dan Vantz bersamaan.   Keluarga kecil itu masuk ke dalam kastil, mengikuti langkah si pemilik. Ketika mereka melewati ambang pintu, kira-kira sepuluh meter, pria paruh baya bermata biru, mengenakan setelan lengkap, langsung berhenti melangkah, lalu membalikkan tubuh, supaya menghadap ke sang putri.   “Traimt, kau beserta suami, dan anak, akan tidur di kamar yang telah disediakan. Tentu, ruangan lebih besar, dengan tempat tidur bayi sudah siap. Jangan lupa, setelah berganti pakaian, ikutlah makan siang dengan kami di dining room.”   Pasangan muda itu mengangguk. “Baik, Ayah. Kami akan bergabung. Terima kasih sudah menyambut kami dengan tangan terbuka,” sahut putri bungsu, lembut. Ia merasa senang, karena bisa datang ke sana, meskipun tidak setiap hari.   Aku penasaran, bagaimana dengan rupa kakak ipar, terlebih Ostara? Ibu waktu itu mengabarkan, bahwa anak Gretzh bukan laki-laki, melainkan perempuan. Kakak pun mengatakan hal yang sama, namun tak mempermasalahkan sama sekali. Sungguh mencurigakan. Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Cucu pertama di keluarga seharusnya male not female. Bukankah pernikahan mereka direstui oleh orang tua, bahkan dibuat pesta megah? Kecuali keduanya kawin lari, sudah pasti lain cerita, batin Traimt, ketika melihat putra pertama di keluarga hanya memperhatikan ke arah mereka, tanpa berkata apa-apa.   “Ya. Jangan merasa sungkan. Apabila kalian memerlukan sesuatu, jangan lupa untuk memanggil kepala pelayan, supaya bisa membantu dalam segala sesuatu.” Pria yang mengenakan pakaian resmi berkata kepada keluarga kecil tersebut.   “Ya, Ayah. Kami pamit dulu, hendak beristirahat sebentar,” sahut Traimt.   “Silakan, ‘Nak.”   Sebelum naik ke atas, Vantzh yang sedari tadi tak berbicara, merasa kasihan dengan istri, karena menggendong anak mereka. Ia menyentuh bahu kanan teman hidup, sehingga perempuan muda nan mungil itu menoleh.   “Sayang, berikan Agrazh padaku. Kau sudah cukup lelah,” ucap sang suami.   Sebuah senyum tipis terulas di bibir tipis berpulas lipstik berwarna pink. “Terima kasih, Sayang.” Traimt menyerahkan putra mereka yang tengah tertidur, lalu disambut baik oleh pria bermanik coklat tersebut.   Ogatzh, Gretzh, dan Agvtagh memperhatikan yang mereka lakukan, namun tidak memberikan komentar apa pun. Tanpa para mortal sadar, sang fairy prince telah mengucapkan spell memperlambat waktu, sekaligus melihat ke masa lampau, namun tidak ketahuan, dengan untuk menilik perilaku asli dari suami Traimt.   Semua mortal yang berada di sana, menjadi diam tak bergerak. Mereka seolah menjadi patung untuk sementara waktu, meskipun kenyataannya tidak sama sekali. Bahkan maid, serta pencatat sejarah keluarga Statzh pun mengalami hal tersebut.   Kilasan demi kilasan muncul, di mana anak bungsu itu bertemu tiga kali dengan sang calon, atas dasar inisiatif Ogatzh. Tak lama kemudian, Triamt dan lelaki tersebut menikah, meskipun jarak di antara keduanya cukup jauh. Terlihat jelas karakter, perilaku, dan kebiasaan dari sang suami yang mana sangat sibuk bekerja, jarang memberikan kehangatan, namun setia.   Adik perempuan tentu saja merasa sepi, namun merasa terhibur, karena di akhir pekan, atau saat pasangan tengah libur bekerja, mereka menghabiskan waktu bersama. Tak ada tanda-tanda penyiksaan secara fisik atau mental. Semua baik-baik saja.   Inikah suami adik di dunia mortal? Jujur, jarang sekali, bahkan hampir tidak pernah berbicara dengannya. Jika dilihat, Vantz bukan tipe lelaki kasar, hanya saja kaku, tidak bisa mengekspresikan kasih sayang. Untung saja, Traimt dijodohkan dengan laki-laki baik, setia, meskipun jarang mengucapkan kata romantis. Kenapa aku sampai perduli? Karena, sebagai saudara, ya, anggaplah begitu, karena masih tinggal di sini, walau bukan satu darah, hubungan kami cukup dekat. Gadis usil, ramah nan manja sudah menjadi seorang istri, sekaligus ibu. Semoga pernikahan mereka awet, dan hanya maut bisa memisahkan, harap Gretzh, tulus.   Bibir sang fairy prince pun kembali mengucapkan spell, supaya keadaan kembali seperti semula. Tak lama, semua mortal yang berada di situ bisa bergerak. layaknya manusia normal, seolah-olah semua baik-baik saja, meskipun sempat dalam pengaruh mantra.   Truantz mengamati keadaan di sekeliling, termasuk sang adik beserta pasangan yang sudah terlebih dahulu pergi menaiki tangga, menuju kamar untuk beristirahat. Fairy male pun teringat, jika sudah terlalu lama menghabiskan waktu dengan ayah mortal, sehingga ingin berkumpul kembali dengan keluarga kecil, terutama dengan buah hati kecil nan menggemaskan, Ostara.   “Ayah,” ucap Gretzh, tiba-tiba.   Sang pemilik kastil, tampak tengah berbincang dengan Agvtagh Defrocx. Saat mendengar sapaan tersebut, ia pun menoleh ke arah sumber suara. Sementara, lelaki pencatat sejarah keluarga Statzh, menghentikan pembicaraan.   “Ya? Ada apa?” tanya pria paruh baya dengan warna manik sama dengan sang putra sulung.   “Aku pamit, hendak ke kamar, ingin melihat keadaan Rhean dan Ostara,” jawab lelaki berhidung mancung tersebut.   “Silakan. Usahakan untuk makan siang bersama, karena adikmu telah datang.” Ogatzh berpesan. Aku tidak ingin, kejadian pagi ini membuat menantu, beserta cucu menjadi jauh. Biar bagaimanapun, apa yang telah terjadi, bukan salah mereka, tapi pasangan. Ah, Batzh memang sungguh bodoh. Di belakang, telah merencanakan pembunuhan demi harta dan fakta ini baru diketahui dari Agvtagh, namun sebelum itu terjadi, dia yang akan mati.   Gretzh menggangguk. “Baik. Aku usahakan nanti kami sekeluarga makan bersama dengan Ayah dan Ibu.” Setelah mengatakan hal demikian, putra pertama Statzh langsung membalikkan tubuh, lalu berjalan ke arah tangga, dengan tujuan untuk mencapai kamar di mana istri beserta anak beristirahat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN