Are You Sure?

1064 Kata
“Apakah di sini ada hantu, Hubby?” tanya Rhean sungguh-sungguh, namun dengan nada pelan, karena mengetahui, masih ada satu customer di dalam toko.   Fairy prince tertegun sesaat. Ia tercengang, karena teman hidup bertanya demikian. Keheningan tercipta di antara sepasang suami-istri tersebut. Ketika lelaki bertubuh kekar hendak menjawab, si pembeli sudah selesai membayar, lalu melewati mereka setelah menyapa dan dibalas hal yang sama oleh keduanya.   “Kenapa kamu bertanya seperti itu, Wifey?” Itulah ucapan yang keluar dari bibir fairy male.   “Ostara ... dia berkata melihat sesuatu, akan tetapi tidak mau memberitahu, dan hanya menjawab ‘aku takut’. Mungkinkah, ada hantu di sini atau semacam itu? Anak kita sangat jarang rewel seperti tadi, bahkan menyembunyikan wajah, seolah tak mau melihat apa pun,” jawab sang istri, seraya menjelaskan.   “Hm ... selama di sini, aku tidak pernah melihat atau mengalami kejadian aneh. Semua baik-baik saja. Bahkan, ketika merenovasi tempat, agar ruangan ini menjadi lebih besar, para pekerja tak melaporkan hal-hal aneh.” Truantz menjelaskan secara jujur.   “Aneh sekali. Putri kecil jelas-jelas mengatakan seperti itu, bahkan enggan berpindah posisi, meskipun dia tertidur.” Rhean yakin, ada sesuatu, namun karena tidak mendapatkan pengalaman yang sama, jadi tak bisa berbuat apa-apa.   Hantu? I never seen nor experienced it. Aku selalu memberkati tempat ini, supaya semua usaha berjalan lancar dan tidak ada serangan gaib dari para mortal yang iri. Bahkan, ayah dan Traimt jadi suka membeli roti di sini, setelah mereka merasakan kelezatan makanan buatan tangan sendiri. Tapi, Ostara sudah melihat satu, bahkan sampai ketakutan, I will check it by myself, batin fairy father itu.   “Wifey, sebaiknya kita ke dalam, untuk membaringkan buah hati, lalu makan. Do not worry about anything, because I will check it and make sure nothing will disturb my family.” Sang suami berusaha meyakinkan.   Wanita bermata hijau nan memesona itu melihat kesungguhan pasangan, sehingga tanpa ragu ia mengangguk. “Ya, Sayang. Apakah ada kursi di dalam untuk kami? Kalau tak ada, jangan dipaksakan. Biar saja dia tidur di dalam pelukanku.”   “Aku tidak ingat, Wifey, karena sejak pagi sudah langsung sibuk di dapur, dua staff lain membersihkan ruangan ini, supaya siap ketika ada pembeli datang. Tapi, sebaiknya kita pergi ke sana, supaya bisa langsung memastikan,” ucap Gretzh, lalu melirik ke arah jaket yang dikenakan oleh istri dan anak. “Kalian boleh melepaskan mantel tersebut, agar tidak merasa panas.”   “Tidak apa-apa, Sayang. Kalau memang di dalam tak ada benda yang bisa dipakai sebagai alas untuk Ostara, maka pakaian ini dapat digunakan untuk si kecil.”   “Tapi, nanti jadi kotor.” Fairy prince merasa tidak tega, ketika mendengar jawaban pasangan hidup.   “Kalau kotor bisa dicuci. Bagiku, lebih baik mantel kotor, tapi dia bisa tidur nyenyak, daripada tubuh buah hati menjadi kotor dan rewel.” Perkataan tulus tersebut, mampu menggetarkan hati lelaki berhidung mancung.   “Kau benar-benar berhati baik, Wifey. Tak salah bila aku menjadikanmu sebagai istri dan ibu dari anak kita,” puji Gretzh.   Pipi putih nan halus langsung merona, ketika mendengar perkataan suami. “Ayo, kita ke dalam! Aku sudah lapar.” Rhean sengaja mengalihkan pembicaraan, karena ia merasa canggung mendapatkan sanjungan.   “Ya, Wifey. Kau mau minum s**u coklat atau apa? Biar nanti aku buatkan sekaligus untuk Ostara,” tawar pria bermata biru itu.   “s**u coklat? That is a good idea and I agree if you make it for me and Ostara. Si cantik sudah pasti senang, jika dibuatkan, sudah pasti dihabiskan bila dia terbangun.”   Mereka berdua pun berjalan ke dalam. Namun, sebelum ke sana, para pegawai memberi salam kepada istri sang pemilik toko, lalu dibalas dengan senyum tipis, serta anggukan. Tak jauh dari situ, mereka masuk ke suatu ruangan yang bersih, luas, serta meja panjang, kertas, pena bulu, dan sebuah botol tinta hitam.   Rhean mengedarkan pandangan ke sekeliling, ternyata di sana ada kursi dan juga sebuah sofa panjang, sehingga bisa merebahkan diri di situ. “Ah, rupanya ada tempat untuk bersandar. Apakah itu bersih, Hubby?” Perempuan bertubuh langsing bertanya, seraya menunjuk ke arah sasaran.   Tatapan si lelaki mengikuti apa yang ditunjukkan. Sofa tersebut jarang digunakan, kecuali beristirahat, itu pun bergantian, dan tidak bisa terlalu lama, karena customer suka datang secara mendadak, sehingga jarang memiliki waktu senggang untuk bersantai.   “Sofa itu? Kami jarang memakai, karena biasanya tak sempat untuk tidur siang, kecuali untuk makan. Toko selalu ramai, bahkan bisa seperti tadi, mereka datang berombongan, lalu memilih sendiri roti yang diinginkan, lalu membayar. Biar ku cek dulu. Tolong pegang Ostara,” jawab Gretzh, seraya memberikan putri kecil mereka, dan diterima baik oleh sang istri.   Pria bertubuh tinggi itu bergerak ke arah yang ditunjukkan, lalu mencolek dengan jari telunjuk secara acak, dan tampaklah debu menempel di situ. Sementara, teman hidup tampak menunggu hasil pemeriksaan, menjadi penasaran.   “Bagaimana?” tanya Rhean.   “Ada debu, Sayang. Anak kita bisa bersin atau sakit, jika seperti ini. Aku bersihkan dulu, supaya bisa dipakai, bagaimana? Maukah menunggu?” jawab suami, seraya menunjukkan jari yang kotor, karena ada debu cukup tebal.   “Boleh. Aku keluar ruangan dulu sebentar, supaya tak terkena efek, terutama si kecil. Tak tega melihat dia sampai alergi atau sakit.” Bibir tipis itu kini mengecup kening sang putri yang masih tertidur lelap di dalam dekapan. Raut damai terlihat di situ, sehingga membuat sang ibu tersenyum bahagia.   Fairy prince mengangguk setuju. “Maafkan aku, Wifey. Ini tidak akan lama. Just close the door, later when it's done, I'll get out of here, then call you to come back into the room.”   “Sure, Hubby. It is okay, I do not mind at all.” Wanita yang menikah dengan sang suami karena perjodohan pun beranjak dari sana. Ia menutup pintu, sesuai pesan dari pasangan. Rhean yang menggendong buah hati berdiri di situ, sehingga ketika semua sudah selesai, sang suami bisa langsung menemuinya.   Memori istri Gretzh Statzh kembali ke saat baru tiba di situ, di mana begitu banyak pembeli, lalu sang putri menanyakan di mana sang ayah, kemudian saat duduk di kursi, si kecil menyembunyikan wajah di ceruk leher. Bahkan, ketika ditanya tidak mau mengakui secara terus terang, sehingga membuat penasaran.   Ostara, ibu penasaran dengan apa yang kau lihat tadi, sehingga ketakutan seperti itu. Bahkan, sampai terbawa mimpi. I wish I could help you, my lovely daughter. Sleep tight, my little pumpkin. As long as I live, I will do my best to protect you from harm, tekad Rhean. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN