Seorang gadis kecil nan cantik, memiliki sepasang mata berbeda antara kiri dan kanan, rambut pirang, kulit putih, dan hidung mancung, tampak berjalan menyusuri sebuah jalan setapak. Lalu, ketika bingung hendak melanjutkan perjalanan, tampaklah sebuah padang bunga beraneka warna di sebelah kiri, sehingga tanpa pikir panjang, langsung ke sana.
Anak tunggal fairy prince dengan wanita mortal ini begitu bahagia, ketika melihat kupu-kupu berterbangan bebas di sana, bahkan hinggap di bunga yang ada. “Wah, benar-benar menakjubkan! Aku belum pernah melihat pemandangan sehebat ini!” serunya, riang.
Ia berjalan ke salah satu bunga berwarna merah, kemudian berjongkok di sana. Tak disangka ada makhluk seperti rama-rama yang tengah hinggap. Putri kecil nan cerdas itu memperhatikan dengan seksama dengan manik berbinar-binar, namun tidak mengganggu sama sekali.
“Kupu-kupu ini cantik sekali. Aku suka melihatnya hinggap di bunga.”
“Kamu bukan manusia.” Terdengar sebuah suara, sehingga mampu mengejutkan hati anak perempuan nan cantik itu. Ia lantas berdiri, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari siapa yang tadi berbicara, akan tetapi semua nihil.
“Kamu siapa?” tanya si pemberani.
Aneh, kenapa aku bisa mendengar suara, tapi tidak ada orang? Apakah dia hantu atau apa? Ayah selalu berkata, bahwa jika ada sesuatu, entah suara atau makhluk, jangan takut, karena jika tidak, pasti akan diusili, pikir anak sang fairy prince.
“Namamu Ostara, ‘kan? Kau bukan manusia dan aku tahu itu.” Suara misterius tidak mau menjawab, tapi menambah dengan teka-teki.
“Kenapa kau bisa tahu namaku? Bohong! You were telling lies! I am human, so are father and mother!” sanggah si kecil. Dia merasa takut, namun penasaran, karena belum berhasil menemukan orang yang sejak tadi berbicara, hanya saja wujud tak terlihat.
Tak ada sahutan atau perkataan lain dari suara asing, sehingga membuat cucu pertama dari Ogatzh Statzh lega, namun tetap waspada. Ketika pemilik sepasang mata berbeda warna kembali mengalihkan perhatian ke arah padang bunga, tiba-tiba suatu keanehan terjadi. Kupu-kupu yang tak terbilang banyaknya, tengah berbaris rapi, lalu mereka terbang ke suatu tujuan, seolah meminta untuk diikuti.
“Tunggu!” pinta gadis berambut pirang. Ia berlari mengejar makhluk cantik bersayap dua, supaya tidak tertinggal jauh. Semakin lama si kecil menjauh dari padang bunga, karena mengikuti kawanan rama-rama.
Perjalanan ditempuh cukup jauh, namun tidak membuat anak tunggal dari Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh menyerah. Tanpa sadar, ia sudah masuk ke dalam hutan, di mana terdapat pepohonan tinggi nan kokoh di sepanjang jalan.
Kupu-kupu masuk semakin dalam, sehingga membuat langkah si cantik pun ikut ke sana. Kini, mereka tiba di depan sebuah tanah lapang di mana ada sebuah lingkaran sempurna dibentuk oleh jamur, seolah berbentuk cincin. Makhluk yang dicari, sudah masuk ke sana. Mereka semua diam, seakan menunggu satu lagi anggota, barulah kemudian pergi.
Napas terengah-engah tidak menghalangi tekad Ostara. Ia segera masuk ke lingkaran tersebut, lalu tiba-tiba keanehan terjadi. Di sekeliling berubah gelap gulita, padahal hari masih siang, di mana sinar mentari begitu terik.
Hampir saja anak aktif ini berteriak ketakutan, namun seketika kegelapan berganti dengan siang. Ia bernapas lega, karena cahaya ditemukan dengan mudah. Kelompok rama-rama pun keluar dari fairy ring, lalu mereka mulai bergerak ke suatu arah.
“Aku di mana?” gumam si kecil, pelan, karena melihat keadaan di sekeliling begitu berbeda. Kali ini, penuh dengan bunga, namun sangat berbeda dengan tempat pertama kali. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, terlihat kawanan yang dicari telah menjauh. Hal itu menimbulkan kepanikan, sehingga tanpa ragu berlari ke sana.
“Kalian mau ke mana? Tunggu aku!”
Sementara Di Dunia Mortal
Sang fairy prince melihat ada yang aneh dengan sang putri. Truantzh mendengar jelas igauan keluar dari bibir sang putri. Perempuan berambut brunette juga mengamati buah hati, sehingga timbul rasa heran, lalu menatap suami yang duduk di kursi terpisah, sedangkan dia duduk di sofa, seraya mengawasi jantung hati.
“Hubby, apakah anak kita tidak apa-apa? Bukankah sebaiknya aku bangunkan saja?” tanya Rhean, membuka percakapan.
Terlihat dua piring di atas meja panjang di mana ada beberapa potong roti dengan berbagai ukuran dan rasa. Selain itu, terdapat dua cangkir berisi s**u coklat, namun salah satu sudah sisa setengah saja.
“Ya, itu ide bagus. Aku takut, jika Ostara tersesat di dunia mimpi,” jawab sang pasangan.
Mengapa anak kami belum juga bangun? Ini di luar kebiasaan normal. Biasanya, si kecil hanya tertidur satu jam. Tapi, sekarang sudah hampir satu jam lima belas menit malah belum terjaga juga. Sungguh gawat, jika ada magickal creature membuat terlena, sehingga lupa arah pulang, batin Truantz, khawatir.
“Astaga, tubuh anak kita panas,” gumam si ibu muda, akan tetapi bisa didengar oleh fairy male.
Tanpa pikir panjang, lelaki bermata biru langsung bangkit dari kursi, kemudian menghampiri istri tersayang. “Let me handle her, Wifey.”
Wanita bertubuh langsing mengangguk, lalu bangkit dari sofa. Truantz langsung duduk di sana, lalu membelai kepala buah hati mereka. Aku ingin segera memeriksa Ostara, tapi, masih ada pasangan. If the wife saw me casting a spell, she would be terrified. What should I do, so that I can do that without being caught? I'm sure, Ostara is lost in the dream world, and to wake her up, I must use an ancient spell, pikir fairy male.
Tiba-tiba, suatu ide muncul di benak pria cerdas itu. “Wifey, tolong ambilkan aku satu baskom air beserta kain bersih kering. Kau bisa meminta tolong salah satu dari pegawai di depan. Mereka akan dengan senang hati membantu.”
“Baik, Hubby. Tapi, kalau aku agak lama, do you mind it?” tanya Rhean, ragu.
“I do not mind at all. Anak kita perlu dikompres, karena agak demam. Mungkin pengaruh cuaca,” jawab Gretzh, meyakinkan.
“Baik, Sayang. Tunggu sebentar, ya.” Perempuan bermata hijau itu pun beranjak dari sana.
“Ya, Wifey. Take your time,” sahut fairy male.
Ketika melihat suasana telah aman, ia langsung mengucapkan mantra, “O treghith, griotx bgerthutz!” Tak lama kemudian, semua pergerakan mortal di toko berhenti, termasuk langkah sang istri, dan kedua pegawai laki-laki yang tengah melayani pembeli. Semua bagaikan boneka hidup.
“Avtexc liotz vra firgth ne Ostara!”
Tak lama kemudian, tampaklah sang putri yang tengah terduduk di tepi sungai. Raut kelelahan tampak jelas di situ, bahkan keringat bercucuran. “Aku di mana? Ingin pulang, tapi tidak bisa,” gumam si kecil, letih.
Lelaki bertubuh tinggi tegap seketika tertegun, karena merasa tak asing dengan pemandangan tersebut. “Itu seperti—” Truatntz menjeda perkataan. “Astaga! Itu adalah sungai di fairy world! Kenapa anakku bisa sampai ke sana? Apakah dia masuk ke fairy ring yang merupakan portal masuk ke situ? How could that happen? Ini tidak boleh terjadi, karena jika terlalu lama bisa gawat!”
“O, De Avnoz, agrehtz altutg merthutgh. I liotz Truantz, barthbt liotz hreghtuz Ostara, dertghut liotz!” Ketika selesai mengucapkan kalimat tersebut, si lelaki ingin memasukkan tangan kanan ke dunia mimpi. Akan tetapi tiba-tiba saja ....
“Berhenti!”
***
Istilah bahasa asing:
1. O treghith, griotx bgerthutz! = Oh waktu, berhentilah berputar!
2. Avtexc liotz vra firgth ne Ostara! = Tunjukkan padaku apa yang terjadi pada Ostara!
3. O, De Avnoz, agrehtz altutg merthutgh. I liotz Truantz, barthbt liotz hreghtuz Ostara, dertghut liotz! = O, Dewa Avnoz, penguasa alam mimpi. Namaku Truzntz, izinkan aku membawa Ostara, putriku!