“Terima kasih, Ayah,” sahut pria bermata biru tersebut. Ia beserta pasangan duduk di tempat yang sama. Sementara, satu orang maid maju ke arah putra sulung sang pemilik kastil, untuk membawa si kecil, agar bisa diberikan special chair.
Keanehan mulai terjadi, saat bayi cantik berusia tiga bulan dibawa oleh salah seorang maid. Sepasang mata berbeda warna itu terpaku di salah satu sudut di dining room, tepatnya di sebelah kanan, seakan ada sesuatu yang menarik. Salah satu tangan menunjuk ke arah sana, sehingga membuat sang grandpa ikut mengalihkan perhatian ke sana.
“Ayah, ada apa?” tanya Gretzh, saat melihat raut lelaki paruh baya itu.
“Ostara menunjuk ke arah situ. Aku penasaran, apakah yang dia lihat, sampai bisa memberikan petunjuk?” jawab Ogatzh, penasaran.
Semua yang berada satu table, langsung ikut menoleh. Di sana, hanya ada beberapa maid yang berkumpul, namun telah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak terlihat penuh. Barisan mereka mengikuti denah ruangan, sehingga di setiap sudut, selalu ada pelayan menunggu di situ.
Sepasang mata biru milik fairy prince pun melihat ada sekelebat bayangan hitam yang pergi dari arah yang ditunjukkan oleh sang putri kecil. Astaga! It was a true sign from her. Dia benar-benar tahu, jika ada spirit nor magickal creature. I cannot make sure about what kind of spirit is, but Ostara was right and this is amazing ability. Better I keep silent, so the mortal would not notice about it, batin si ayah kandung.
Apakah yang anakku lihat? Mengapa dia kembali menunjuk ke arah sudut, sama seperti ketika kami baru saja menuruni tangga? Apakah ada seseorang atau mungkin sesuatu yang janggal? Kalau iya, mungkinkah ini terjadi, karena mata bayi sangat awas dalam mengamati segala sesuatu? Bila Ostara sudah besar, mungkin saja akan mengatakan kepada kami, pikir pasangan hidup dari fairy male.
Para manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal magis, hanya mampu mengerutkan dahi, karena bingung. Sang pemilik kastil berpikir, bahwa cucu pertama perempuan, menunjukkan ada maid, sehingga tak perlu diperpanjang, karena tindakan tersebut sangat wajar bagi anak seusianya.
“Mungkin Ostara ingin memberitahu, kalau ada maid yang berjaga. Baik, kita lanjutkan makan siang,” ucap sang grandpa, sehingga membuat semua perhatian beralih lagi ke table.
Tuan rumah memanggil kepala nelayan, lalu meminta agar makanan disiapkan. Lelaki itu maju, lalu mengerti dengan semua perintah yang diberikan, lalu mundur. Tak ada percakapan di dining room, karena semua menunggu kepala keluarga tertua untuk memulai hal tersebut.
Pasangan Gretzh dengan Rhean, sama sekali tak berbicara, karena begitulah kebiasaan yang berlaku di kediaman mewah nan megah milik seorang Ogatzh Statzh. Pria paruh baya tersebut telah mengajarkan kepada kedua buah hati: putra sulung, dan putri bungsu, sejak mereka masih kecil, remaja, dewasa, dan telah memiliki keluarga kecil masing-masing.
Sementara, ibu mertua tak berani menatap menantu perempuan yang mana tidak ia setujui. Tendangan dari suami, membuat grandma dua orang cucu tersebut sangat menahan diri untuk tidak berbuat atau berkomentar, kecuali dipersilakan.
Berbeda dengan Traimt. Ia memang biasa berbicara dengan istri si kakak lelaki, namun menghargai, serta menghormati privacy, sehingga hanya diam saja memperhatikan. Di dalam hati, tersimpan rasa penasaran akan warna mata sang keponakan yang tidak sama antara kanan, dan kiri.
Suasana begitu sepi, sunyi, dan canggung, karena sang pemilik kastil belum juga membuka percakapan. Sementara, dua orang maid telah maju ke arah putra pertama, lalu memberitahu tentang di mana akan menempatkan bayi cantik nan menggemaskan berusia tiga bulan, yang akan diberikan special chair. Ketika sudah selesai, maka mereka pun pamit undur diri.
Sepasang mata berwarna biru milik Ogatzh, memperhatikan anak-anak dengan seksama. Aku tak menyangka, mereka cepat sekali besar. Kini, baik Gretzh maupun Traimt, sudah memberikan keturunan, sehingga keluarga ini ada dua orang cucu. Namun, jika ditarik dari garis keturunan pewaris marga, maka hanya Ostara saja yang masuk ke dalam silsilah.
“Gretzh,” panggil lelaki dengan kumis, jenggot, dan cambang tercukur rapi.
“Ya, Ayah?” sahut pria bertubuh tinggi besar tersebut.
“Apakah kau telah memiliki rencana bagi Ostara, seperti di mana dia bersekolah ketika nanti sudah menginjak enam tahun?” tanya sang grandpa ingin tahu.
“Untuk hal tersebut, aku sudah memikirkannya, Ayah. Ada beberapa opsi: pertama, akan memanggil guru datang ke rumah, sehingga akan belajar di rumah. Kedua, putri kecil bisa menimba ilmu di sekolah terdekat, supaya menghemat waktu, dan jarak tempuh. Ketiga, kami telah memilih suatu institusi terbaik, di kota lain, namun ini masih dibicarakan lebih lanjut. Mengingat, anak dengan usia terlalu muda, belum tentu dapat dilepas begitu saja. Kalau terjadi sesuatu, maka tidak bisa langsung ke sana untuk mengawasi, sehingga lebih sulit nanti,” jawab fairy male panjang lebar.
“Aku tertarik dengan opsi nomor dua. Kenapa kau tidak memilih yang pertama, sebagaimana semua orang tua bangsawan, serta orang-orang kaya di negara ini melakukan hal tersebut?” Ogatzh terlihat tertarik.
“Opsi kedua dipilih, karena kami ingin buah hati memiliki seorang kawan. Dengan belajar ke sekolah, dia akan belajar bersosialisasi, sehingga memperluas pergaulan. Aku dan Rhean akan membantu menjemput. Selain itu, kami akan menempatkan para pengawal, namun yang ahli dalam menyamar, agar bisa mengawasi. Apabila ada kejadian tak masuk akal menimpa, maka segala laporan masuk, disertai bukti-bukti, apalagi saksi, pasti diproses.”
“Bukankah sia-sia saja? Anak kalian yang adalah cucuku, akan mengalami tekanan atau tindakan tak menyenangkan dari teman-teman? Bukankah lebih baik melindungi sejak dini, sehingga menimalisir kejadian tak baik?”
Gretzh tersenyum tipis. “Tidak semua anak jahat, tergantung didikan orang tua. Pasti ada yang baik, meskipun jumlah terbatas. Perundungan, suka tak suka, memang menjadi bagian dari institusi pendidikan. Namun, kami tidak akan tinggal diam. Guru tetap akan dipanggil ke rumah, jika dirasa perlu untuk membantu kesulitan belajar. Aku bukan sengaja melemparkan buah hati ke tengah kejamnya dunia, namun Ostara harus belajar bertahan, jika keadaan mendesak.”
“Kau tahu sendiri, dia memiliki sepasang mata dengan warna berbeda. Apakah tidak takut menjadi gunjingan?”
“Sebagai orang tua, kami tidak pernah mendoakan hal-hal buruk kepada keturunan sendiri. Apa yang sudah terjadi, mustahil bisa diubah sesuai keinginan, kecuali menerima dengan lapang d**a, lalu memperbaiki dengan meningkatkan kepercayaan diri si anak. Semua orang selalu suka bergosip, meskipun kita berbuat baik dengan mereka. We cannot force anyone to like us, in this case, our daughter, because it is impossible to do. My beloved daughter is not disabled, so I never ashamed with her condition.”
“Kau sungguh yakin, untuk membiarkan Ostara pergi ke sekolah umum? Saranku, gunakan pilihan pertama, supaya dia belajar menjadi seorang lady.”
“Untuk hal itu, aku dan Rhean akan mendiskusikan lebih lanjut. Putri kami baru berusia tiga bulan, jadi masih ada cukup waktu untuk mempertimbangkan pilihan apa yang tepat, serta cocok untuknya.”
Jawaban Gretzh, masih membuat Ogatzh tidak puas. Ia kurang menyetujui ide sang cucu menimba ilmu di sekolah biasa. “Bagaimana jika Ostara masuk ke sekolah khusus bangsawan? Di sana, keamanan terjaga, dan hanya keluarga terpandang, setara, dan sama seperti kita, yang bisa masuk. Keamanan pun terjaga, karena The Principal sudah mengenal baik keluarga ini, terutama aku,” bujuk sang grandpa.
Fairy male sudah muak mendengarkan kata ‘bangsawan’, ‘keluarga terpandang,’ ‘sama seperti kita’, namun ia memilih tersenyum, dan memilih jawaban diplomatis, agar tidak dipandang sebagai orang tua yang tidak memikirkan masa depan anak.
“Untuk hal itu, aku akan berdiskusi dengan Rhean, karena rumah tangga dibangun berdua, jadi pertimbangan istri pun memiliki peranan penting.”
Ogatzh terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Pria paruh baya itu melihat, bahwa santapan untuk makan siang, sudah dibawa oleh para maid, namun mereka belum berani mendekat, karena takut mengganggu percakapan. “Hidangkan makanan dan minumannya sekarang.”
***