Setelah Makan Siang
Kedua anak pemilik kastil yaitu Gretzh dan Statzh, sudah kembali ke kamar masing-masing. Rhean terlihat mengantuk, sehingga membuat teman hidupnya pun berinisiatif, untuk segera membuat pasangan tersayang naik ke lantai dua. Sementara, Ogatzh dan Batzh juga menghilang entah ke mana, akan tetapi tak ada yang berani bertanya lebih lanjut.
Begitu juga perempuan bertubuh berisi dengan rambut pirang, sudah berada di kamar tamu, bersama pria bertubuh tinggi, yang sudah meletakkan buah di dalam pembaringan khusus, sehingga terpisah dari orang tua, namun tetap masih di satu lokasi.
Aku penasaran dengan mata keponakan, karena ingin membuktikan kebenaran ucapan kakak laki-laki, saat dia menulis di surat, jika anak sulung mereka memiliki keistimewaan. Jujur saja, keadaan demikian, bukan hal lazim, sehingga bisa dikatakan, kalau di seluruh negeri, belum pernah terjadi hal demikian. Apakah suami memperbolehkan? Coba ditanya terlebih dahulu, pikir perempuan berwajah ramah.
Sepasang manik coklat tak henti-hentinya mengamati wanita muda yang tampak duduk terdiam di pinggir ranjang. Tak ada senyum atau airmata, sehingga membuat si lelaki menjadi penasaran, karena hal itu sangat jarang terjadi, selama mereka berumah tangga.
“Are you okay, Honey?” Suara bariton terdengar di sana.
Ketika mendengar ada yang menyapa, sang ibu muda menoleh ke sumber suara dan tampaklah sesosok tak asing, bahkan lelaki itu adalah kepala keluarga, sekaligus ayah anak dari buah hati nan tampan, Agrazh.
“I am okay, Hubby.” Dia menjawab, seraya tersenyum.
“Aku jarang melihatmu terdiam seperti itu. Apakah ada yang mengganggu pikiran?” Laki-laki tampan itu melangkah, menuju pasangan tersayang.
“I was thinking something. But—” Perkataan terakhir terputus, karena keraguan datang menyergap.
Selama menikah, memang belum pernah ada masalah sama sekali. Karakter pasangan sedikit banyak mirip Gretzh. Hanya saja, anak sulung itu sangat mandiri, bahkan memiliki pola pikir tak biasa. Tapi, Vantz dan aku jarang berdiskusi, karena dia lebih banyak bekerja, sehingga waktu untuk bercakap-cakap seperti ini langka terjadi. Tadinya, ingin meminta izin, supaya bisa bertemu kakak sendiri, namun sekarang malah timbul kesangsian, pikir Traimt.
Sementara, sang suami semakin yakin, jika ada sesuatu yang disembunyikan, meskipun belum dapat diutarakan. Ia telah duduk di depan istri, sehingga posisi saling berhadapan. “Tell me, Honey. What were you thinking? I will glad to hear it.”
“Do you promise to not be angry with me?”
“Why do I should be angry with my wife? As long as you never cheating on me, I would be ready to listen to anything from you.”
“I never cheating nor betray you!”
“If you never do that, then why did you seem afraid to talk to? I am your husband, although we might seldom make a serious conversation, I do care about you and our family. Go ahead, Wifey.”
Perempuan bermata biru itu menarik napas dalam. Ia senang, jika sang suami memiliki perhatian mendalam, namun ibu muda dari satu putra itu masih merasakan keraguan, terutama ketika mendengar pendapat pasangan.
“To be frank, I want to meet my eldest brother, Gretzh, and talk with him privately.”
Satu alis tebal milik si lelaki terlihat naik. “Why did you have an idea like that?”
“I want to know the truth about my nephew, Ostara.”
“Okay. Did you hear a rumor or so until you want to check it by yourself?”
“Gretzh was writing a letter. He told me that he had a daughter, with a special condition that they, in this case, is my eldest brother and his wife, never expected it.”
“Go on.”
Helaan napas terdengar. Perempuan berwajah ramah itu merasa ragu untuk melanjutkan. “He told me that her daughter had different eyes, on the left and right sides. This situation is never happening in our country, Avregth.”
Sang suami masih setia mendengarkan cerita dari pasangan. Lelaki itu tidak memotong atau berkomentar, karena ingin mengetahui secara lengkap, apakah yang menjadi beban pikiran dari perempuan muda yang menjadi istri, karena dijodohan dari keluarga masing-masing.
“I want to make sure that the information that I got is true. I have never seen Ostara’s face closely. I am curious too. Now, you can tell me, am I wrong because of it?” Perempuan bermata biru itu kini menunggu sang suami.
Keheningan terjadi sejenak, karena pria mature itu tampak berpikir, sebelum memberikan jawaban. “I think, you are not wrong. But, you have to make sure, if your brother does not mind talking about it. I must confess that I never found a case about a baby who had a different eye colour before, but anything can happen in this world, so whatever it will be, should be done.”
Traimt merasa lega, karena bisa meluahkan isi hati. Kini, satu hal penting harus dilakukan, sebelum pergi ke kamar sang kakak lelaki, Gretzh, yaitu meminta izin dari suami. Jika pria tampan yang tengah duduk di depan mata menolak, maka sebagai istri, tetap tidak bisa ke sana, melainkan harus patuh, serta tunduk dengan perintah pasangan.
“Hubby,” panggil si ibu muda, ragu.
“Ya?” sahut Vantz, lembut.
“Do you allow me to go to my eldest brother’s room now? I promise I will not take a very long time there. Besides talk to him, I want to visit my nephew.” Wanita berambut pirang memberanikan diri meminta izin dari pasangan sah.
“Sure, you can, Wifey. But, you have to remember one thing: if your eldest brother, Gretzh, nor his wife, does not want to answer your question, although it might be sounds makes sense, do not force or push them. Every couple has their own secrets, so do not ever dare to cross the line. I inform you first because I do care.” Pria bertubuh tinggi kekar memberikan permission, sekaligus peringatan.
“Thank you, Hubby.” Raut bahagia, terlihat jelas di sana. Teman hidup tersenyum tipis, lalu mengecup dahi sang istri.
“You are welcome. Remember, do not cross the line. It means you have to respect their privacy even though you had a big curiosity about something. I will be waiting here and take care of our son, so do not take a very long time in their room.” Vantz kembali mengulang pesan kepada pasangan.
Ya, aku tidak ingin ibu dari anak kami terkena masalah. Meskipun dia adalah adik kandung, namun sang kakak ipar telah memiliki keluarga sendiri, sehingga tidak boleh ikut campur tanpa diminta. Bila benar keponakan perempuan memiliki sepasang mata berwarna berbeda, maka hal itu baru pertama kali terjadi di negara ini dan mereka sebagai orang tua, harus bersiap-siap, karena menjadi sasaran empuk dari gunjingan masyarakat, pikir pria setia itu.
***