Apple Pie

1129 Kata
The Next Morning   Seorang perempuan muda bertubuh langsing tengah sibuk di dapur, untuk membuat apple pie. Sementara, seorang gadis cilik berusia lima tahun, berambut pirang, memiliki sepasang mata berwarna berbeda kiri dan kanan, tengah beramin boneka di kamar. Pintu sengaja dibiarkan terbuka, sehingga bisa melihat jika ada seseorang melintas.   Tak lama kemudian, seorang pria bertubuh tinggi tegap, wajah rupawan, berdiri dekat pintu kamar putri tunggal. Ia telah memakai pakaian berbeda dari biasa dikenakan, sehingga membuat siapa saja mengerti, jika lelaki tersebut akan pergi ke suatu tempat. Tatapan sang anak beralih ke situ, karena merasa ada yang datang.   “Ayah, kenapa memakai baju seperti itu? Mau ke mana?” tanya seorang gadis kecil berambut pirang, namun rambut sudah dikepang rapi menggunakan pita berwarna pink.   Laki-laki berhidung mancung itu tersenyum. “Ayah tidak akan pergi sendiri, tapi bersamamu dan juga ibu,” jawabnya, lembut.   “Kenapa aku harus ikut? Apakah kita akan pergi ke tempat grandpa atau bibi Traimt?”   Sang ayah menggeleng. “Tidak, Sayang. Jika mengunjungi grandpa atau bibi, selalu pada saat liburan musim dingin, sedangkan sekarang masih summer. Hari ini, kita akan berkunjung ke tetangga baru.”   “Tetangga? Apa itu?” Anak perempuan cilik bingung, karena merasa asing dengan kosakata tersebut.   “Tetangga adalah orang yang tinggal tak jauh dari tempat kita tinggal.” Fairy prince masih menjelaskan dengan sabar.   Putri kecil benar-benar cerdas, karena melontarkan banyak pertanyaan mengenai segala sesuatu. Aku tidak suka, jika melihat orang tua membungkam anak-anak yang mulai menunjukkan ketertarikan akan segala sesuatu dengan larangan. Itu betul-betul bodoh, serta tak masuk akal, pikir Truantz.   “Berapa banyak tetangga yang akan tinggal di sini, Ayah? Aku biasanya tak pernah melihat siapa pun, kecuali tukang kebun, maid, dan kusir.” Ostara menghitung-hitung dengan jari kecilnya.   “Betulkah kamu hanya melihat mereka saja?” tanya sang fairy prince, yang sudah berniat menjahili buah hati tersayang.   Aku ingin tahu, apakah jawaban yang diberikan oleh putri kecil. Ostara begitu menggemaskan, jadi jangan salahkan, jika sebagai ayah kandung, ingin membuat dia bingung. Jika Rhean melihat, mungkin hanya bisa geleng-geleng saja, pikir Gretzh, gembira.   “Betul, Ayah. Aku tidak melihat orang lain lagi,” jawab anak tunggal Gretzh Statzh dan Rhean Lutzh, polos.   “Lalu, bagaimana dengan Ayah dan ibu? Kau tidak pernah bertemu dengan kami?” Lelaki cerdas itu tak henti ingin menggoda anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki.   “Itu lain. Ayah dan ibu selalu menjadi favoritku dan bertemu setiap hari.” Ostara dengan yakin mengatakan. Bagi si cantik, orang tua bukanlah orang lain, namun sudah menjadi bagian tak terpisahkan di dalam hidup.   Lelaki tampan itu terkekeh. Tak sia-sia mengajari dia berbicara setiap hari, supaya melatih kemampuan berbahasa. Jika suatu saat Ostara dewasa, lalu pulang ke fairy world, sudah tak perlu belajar lagi bagaimana berkomunikasi, karena otomatis akan menguasai. Kenapa mengingat hal tersebut, membuat perasaan menjadi sedih? batin Truantz.   “Ayah, apakah tetangga sudah ada?”   “Kalau itu, Ayah belum tahu. Tapi yang pasti, mereka baru pindah hari ini, Sayang. Kita harus ke sana untuk memastikan, lalu menyambut dengan baik. Siapa tahu, nanti kamu mendapatkan teman baru.”   “Apa itu teman, Ayah?”   “Teman adalah orang yang bisa kita ajak bermain dan belajar bersama.”   “Apakah teman seperti ibu? Karena aku diajarkan, serta ditemani belajar membaca, menulis, dan berhitung oleh Ibu.”   “Ibu lebih dari teman, karena menjadi pelindung, pengajar, serta penunjuk jalan. Jangan membuat dia sedih, ya, anakku.”   Si kecil hanya mengangguk lucu, meskipun belum mengerti apa maksud dari perkataan sang ayah. Tak lama kemudian, terciumlah wangi kue, sehingga membuat ayah dan anak itu bisa membayangkan kelezatan makanan. “Ini pasti pie apel!” seru Ostara, girang.   “Betul, Sayang. Ibu memang memasak pie apel untuk tetangga baru.”   “Jadi, untuk kita tidak ada?” tanya anak perempuan nan cerdas itu, dengan wajah muram.   “Ibu biasanya membuat lebih. Jangan khawatir, Sayang,” jawab lelaki bermata biru tersebut, seraya tersenyum.   “Benarkah?” Binar di manik berbeda warna terlihat hidup kembali. Fairy prince tertawa pelan. Ia sangat bahagia, melihat putri kecil begitu bersemangat.   Anak-anak sudah pasti senang, jika mereka diberikan makanan kesukaan. Ya, istri biasanya membuat segala sesuatu dua kali lipat, supaya kami sekeluarga bisa menyantap hidangan. Semoga saja, tidak perlu waktu begitu lama, sehingga dapat segera ke tempat tetangga baru, Vileath. I wish my daughter can have a new friend or two, so she cannot feel lonely and she can learn how making good communication with other children, harap Truantz.   “Benar. Nanti kamu pasti akan mendapatkan sepotong dari pie apel. Kita tunggu saja, sampai ibu datang ke sini,” janji fairy male.    “Asyik! Aku tak sabar ingin makan pie buatan ibu. Rasanya pasti enak sekali,” ucap Ostara, seraya membayangkan hidangan tersebut di dalam benak.   “Tunggu saja sebentar lagi. Kita akan ke tempat tetangga, begitu pie untuk mereka sudah masak.”   “Kenapa harus memberikan makanan kepada tetangga, Yah? Mereka orang asing.”   “Mereka memang orang asing, tapi tidak akan begitu lagi, jika sudah pindah ke area sini. Siapa tahu, nanti kalian bisa bermain bersama.”   Aku mengerti kenapa anakku mengajukan pertanyaan itu. Dia memang belum pernah bertemu tetangga satu pun. Ayah mortal sengaja memilihkan daerah luas, sepi, dengan alasan supaya tidak bertemu perampok atau penjahat. Justru tempat ini menjadi sasaran empuk, sehingga terpaksa dibacakan protection spell, agar semua aman, gumam Truantz.   “Hubby.” Ada seseorang menyapa dengan nada lembut. Pria bertubuh tinggi kekar mengalihkan pandangan, lalu menatap ke arah sumber suara. Terlihat, seorang wanita telah datang mendekat dengan seorang maid yang membawa tray di belakang.   “Wifey, sudah selesai memanggang kue?” tanya Gretzh, lembut.   Ostara hanya memperhatikan orang tua dengan tatapan penasaran. Pemilik sepasang mata berwarna hijau mengangguk, lalu mengalihkan tatapan ke arah tempat tidur buah hati mereka. “Ya, aku sudah selesai, Hubby. Kita makan dulu pie-nya, setelah itu, baru ke tetangga,” jawab Rhean.   “Asyik! Apple pie!” seru anak perempuan nan cerdas tersebut.   “Kamu pasti sudah menunggu, ‘kan? Ibu sudah memotongnya, jadi nanti langsung disantap. Ostara, setelah selesai makan, nanti ikut bersama Ayah dan Ibu mengunjungi tetangga, ya?” pinta wanita bertubuh langsing itu.   “Baik, Ibu,” sahut si cantik, seraya mengangguk.   “Kita makan di sini saja, jangan di kamar.” Nyonya rumah menunjuk ke arah ruangan depan, di mana ada meja dan kursi di situ.   “Tolong letakkan semuanya di sana.” Rhean berkata kepada maid, yang masih setia menanti arahan.   “Ya, Nyonya,” sahut si pelayan, patuh.   “Aku setuju. Lebih makan di luar, supaya tidak ada remahan makanan tertinggal di kamar. Ostara, ayo ke sini!” ajak Gretzh.   “I am coming, Dad.” Gadis cilik langsung beranjak dari posisi semula, lalu berjalan mendekat ke arah tempat yang dimaksud, untuk bergabung dengan Gretzh dan Rhean.   ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN