Three Day Later
“Sayang, kita akan memiliki tetangga baru,” ucap lelaki bermata biru, kepada pasangan hidup. Perempuan bertubuh langsing nan lemah lembut, baru saja menyelimuti buah hati yang tertidur lelap. Sebelum memejamkan mata, Ostara bersikeras meminta ditemani orang tua, karena masih takut dengan kejadian tersesat di alam mimpi.
Teman hidup langsung mengerutkan dahi, karena merasa belum pernah mendengar kabar tersebut. “Oh, ya? Kamu tahu dari mana, Hubby?” tanya Rhean, bingung.
“Kemarin, saat baru tiba di sini, aku melihat ada seorang laki-laki berdiri kira-kira tak jauh dari kediaman kita. Karena belum pernah bertemu, jadi langsung mendekat ke sana. Kami pun ngobrol. Dari situ diketahui, jika dia sudah membeli tanah dan telah membeli sebuah rumah, bahkan direnovasi. Did you remember an empty house around forty meters from here?” jawab sang suami, sekaligus melemparkan pertanyaan.
Wanita berambut panjang brunette itu terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Ya, aku ingat itu. Rumah tersebut sudah tua, kusam, dan kosong. Tapi, tidak ingat jika tempat tersebut dipugar. Bagus sekali, jika ada tetangga baru, jadi keadaan akan lebih ramai.”
“Kau jarang keluar rumah, selama aku membuka toko roti, Wifey?”
Pemilik sepasang mata berwarna hijau menggeleng. “Aku sendiri sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah keluar rumah, semenjak kau membuka toko roti. I always stay at home, to take care of our little daughter, especially to teach reading, writing, and arithmetic. It was all done, in preparation for the private tutor to come here to teach when Ostara was six years old. Does the potential new neighbor already has a family, Hubby?”
“Ya. Lelaki itu kalau tidak salah bernama Agregath Vileath. Dia memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Putra tertua berusia empat tahun lebih tua dari putri kita. Kalau tidak salah namanya Frazt. Kalau sudah ada mereka, jangan lupa berkunjung, Wifey. Kita harus menyambut kedatangan tetangga, supaya betah di sini.”
Wanita cantik itu mengangguk. “Baik, Sayang. Aku akan membuat pie apel sebagai buah tangan. Daerah sini begitu sepi, jadi buah hati tidak bertemu dengan siapa pun kecuali penghuni rumah saja. Jika memiliki kesempatan berkumpul dengan keluarga besar sangat jarang dilakukan, kecuali liburan musim dingin.”
“Benar, Wifey. Aku juga kasihan, karena Ostara tidak memiliki teman sebaya. Semoga saja, anak-anak dari keluarga Vileath bisa menjadi kawan karib. Besok, toko libur, jadi bisa bertemu dengan new neighbor.”
Sebuah senyum terulas di wajah cantik Rhean. Ibu muda itu bahagia, ketika mendengar sang suami besok ada di rumah. “Hubby, better, we take the little princess to come along. So, she could get acquainted with the entire Vileath family, including Frazt. If Ostara is not accustomed to meeting other children of the same age, she can become shy, then it will be difficult to socialize, even withdraw from society.”
“That is good idea, Wifey. I agree with you. Memang benar, jika anak seusia dia, bertemu dengan teman-teman sebaya, atau sedikit lebih tua. Guru privat dipanggil, supaya anak kita lebih berkonsentrasi belajar, daripada Ostara harus pergi ke sekolah khusus bangsawan.” Raut lelaki tampan itu berubah mendung, seolah kenangan buruk kembali hinggap di dalam benak.
“Apakah sekolah khusus yang dikatakan itu sungguh menjengkelkan, Hubby? Karena, aku lihat, kau seperti memiliki pengalaman kurang menyenangkan di sana? Maafkan, jika istrimu ini seperti lancang,” ucap Rhean, hati-hati.
“Jangan meminta maaf, Wifey. Aku tidak marah sama sekali. Begini, sekolah khusus bangsawan tak sepenuhnya direkomendasikan, karena berdasarkan pengalaman, anak-anak di sana terlalu mementingkan diri sendiri. Ada pula yang baik, tapi sejumlah kecil saja. Mereka suka membandingkan harta kekayaan, jabatan orang tua di kerajaan, luas wilayah, dan lain-lain.” Gretzh bercerita. Pasangan hidup tetap mengamati dengan seksama.
“Jujur saja, aku tidak ingin buah hati mengikuti perilaku hidup buruk seperti itu. Mereka semua bisa tenang, karena terlahir kaya. Coba bila lahir dari keluarga biasa-biasa atau ekonomi lemah, dijamin, tak ada kesombongan melekat. Anak kita memiliki ciri fisik istimewa, sehingga rentan mengalami perundungan. Yah ... bersekolah di mana pun, pasti tetap mengalami hal demikian, tapi paling tidak, jika sudah memiliki seorang teman baik, maka hidup jadi sedikit lebih baik.”
Sesungguhnya, sebagai orang tua, sangat mengkhawatirkan keadaan putri kecil, karena warna mata berbeda antara kanan dan kiri. Bagi kami, itu semua hal biasa, namun untuk mortal, sudah pasti luar biasa, bahkan menjadi bahan gunjingan. I wish that there is one or some people that nice and kind with my daughter. I know that my time in this world is limited, because I was choosing to be a human in mortal realm, but I did not have a choice in that time, batin sang fairy prince.
Suasana di dalam kamar kembali hening. Perempuan bermata hijau itu melihat, bahwa teman hidup seperti tertekan, hanya saja belum bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun tak berani mengganggu.
Aku harus mencari cara, agar suami kembali ceria. Sungguh kasihan, kepala keluarga terlihat menanggung beban seorang diri. Kami sudah berhenti mendapatkan bantuan finansial dari mertua, meskipun mereka memaksa. Bicara tentang mertua, musim dingin tahun lalu, tiba-tiba mendapatkan kabar duka, kalau ibu mertua meninggal secara mengenaskan. Bukan menuduh, tapi bisa jadi pembunuhnya masih orang dekat, karena tak ada investigasi dari polisi, pikir Rhean.
“Sayang, bagaimana jika kita kembali ke kamar untuk beristirahat? Ostara telah tertidur pulas, jadi bisa ditinggal,” usul sang istri.
“Kita tunggu sebentar lagi. Sejak peristiwa di toko, dia sangat ketakutan, jika harus tidur seorang diri. Bagaimana bila kita menjalankan ideku saja, Wifey?” Gretzh menatap pasangan sah lekat-lekat.
“Ide yang mana, Hubby?” Wanita bertubuh langsing itu mengerutkan dahi, pertanda tak mengerti.
“Ah, kau pasti sudah lupa. Aku pernah bilang, jika kita bergantian menemani dia tidur di kamar. Ini untuk sementara, sampai rasa takut menghilang, setelah itu bisa melepaskan putri kecil seorang diri.” Fairy male pun menjelaskan.
“I am sorry, Hubby. I was forgot about that. I agree about your idea and sure we can do it. Kapan hal itu dilaksanakan? Supaya bisa bersiap-siap dari sekarang. Tempat tidur Ostara hanya bisa menampung dua orang saja: satu orang dewasa dan satu anak-anak.”
“Bagaimana jika malam ini? Mau aku atau kau yang berjaga di sini, Wifey? I do not mind if I start it first.”
“Tentu saja bisa. Let me accompany our daughter tonight and tomorrow is your turn. I do not want her to gets a nightmare.”
“Thank you, Wifey. Jika ada sesuatu, aku ada di kamar sebelah. Tapi, lebih baik kau berganti pakaian dulu, supaya bisa tidur dengan nyenyak.”
“Yes, I will do that, Hubby.” Perempuan bermata hijau itu mengalihkan perhatian ke arah gadis kecil yang tengah tertidur. Ia mengecup dahi buah hati dengan penuh kasih sayang.
“Ibu mau ke kamar sebentar. Jangan takut, I will be back as soon as possible,” bisik Rhean, lembut.
***