Terdapat sepasang suami-istri di dalam suatu ruangan. Mereka tengah mengamati buah hati yang masih tertidur. Mantel telah ditanggalkan, sehingga tersisa dress saja. Raut pucat ditambah suhu tubuh panas, membuat sang ayah mengompres dahi itu dengan hati-hati.
“Bagaimana, Hubby?” Suara perempuan bertubuh langsing terdengar. Dari wajah pun terlihat sangat khawatir. Ia duduk di kursi terpisah, karena bergantian dengan pasangan merawat jantung hati.
“Aku belum bisa memastikan, Wifey. Demam sudah turun. Semoga saja, anak kita bisa bangun. Mungkin, dia terlalu lelah atau cuaca di luar kurang baik.” Kali ini, terdengar suara pria dewasa. seraya menempelkan tangan kanan di kening sang putri.
“This is all my fault. I shouldn't have brought her here. Pity our daughter who has a fever, even when we try to wake up there is no reaction at all,” sesal pemilik sepasang mata berwarna hijau tersebut.
“Don't say that, Honey. Of course, we don't want Ostara to get sick, but we don't want her to have a fever. You've done the right thing to bring her here, instead of her alone at home, better off to the bakery. Do not blame yourself,” sahut lelaki berhidung mancung itu.
“What should we do now?” tanya sang ibu muda, gelisah.
“We have to wait for our daughter to wake up from sleep, then force her to eat and drink, so that she has the energy. If after that you both want to go home, you can, Wifey,” jawab suami penyayang keluarga.
“Maafkan aku karena telah merepotkanmu, Hubby.” Nada penyesalan, terdengar jelas di sana.
Laki-laki tampan itu menggeleng. “Kau sama sekali tidak merepotkan. Ada beberapa hal di dunia yang tidak bisa kita atur atau cegah: bencana alam, kecelakaan, kelahiran, sakit, kematian, berkat ... hanya satu yang bisa dilakukan: wajib berusaha sebaik-baiknya, sehingga mendapatkan hasil maksimal. Now, we can pray to the God’s Vrade, so he can make our daughter awake from her sleep.” Setelah sang ayah selesai mengucapkan kata terakhir, tangan mungil bergerak dengan sendirinya.
Orang tua Ostara menyadari hal tersebut, sehingga merasa senang, akan tetapi tetap menunggu sampai buah hati tercinta membuka mata, lalu bangun sepenuhnya dari tidur. Harapan pun menjadi kenyataan, pemilik sepasang mata berbeda warna kini sudah terjaga.
“Ibu, Ayah,” panggil si kecil, lirih.
“Kami di sini, ‘Nak,” sahut Truantz, seraya memegang tangan kanan sang putri. Ketika merasakan suara lain menyahut, ditambah genggaman, si gadis menoleh ke arah pria cerdas tersebut. Raut lega dan bahagia, terpancar jelas di sana.
“A ... yah?”
“Ya, Sayang. Ini Ayah. Ibu pun ada. Kami tidak meninggalkanmu. We are here for you.”
If only you knew how much we love you. Even that love is manifested by penetrating the dreamland, to give direct directions there, so that your spirit can return to your body and become aware as it is now, pikir fairy prince, haru.
Tatapan si kecil berpindah kepada perempuan berambut brunette yang mana duduk di kursi terpisah. Rona bahagia terlihat di wajah pasangan sah Gretzh Statzh. “I ... bu. Aku lapar,” ucap Ostara, pelan.
“Sebentar, Ibu akan ambilkan roti dan s**u coklat untukmu,” sahut Rhean, lembut. Dia pun beranjak dari kursi, lalu menuju meja panjang untuk mengambil satu piring berisi makanan, lalu secangkir minuman yang dijanjikan.
I'm happy, finally, my beloved daughter can wake up from a dream. When she was lost in dreamland, it really made me panic, because this should not happen twice. God Avnoz has a cunning nature, so that any human or magical creature entangled with his game, will definitely not survive. If you want to negotiate, then you have to be in a strong position, in the sense of having an important position in the kingdom or you will be looked down upon by that damn god! gerutu Truantz dalam hati.
Suasana begitu hening, karena tidak ada satu pun membuka percakapan. Sang fairy prince kini mengamati tatapan buah hati yang tampak datar, seolah raga masih di dunia mortal, namun jiwa masih hinggap di tempat lain.
Semoga saja roh yang masuk ke dalam tubuh anak kami benar-benar milik Ostara alias tidak tertukar. Kalau seperti ini, ketika dia tidur di rumah, harus dilakukan special ritual, di mana aku akan memeriksa secara menyeluruh, lalu menyegel badan si kecil dari spirit mana pun, sehingga semua aman terkendali, batin Gretzh.
Tak ada kata terucap dari bibi mungil Ostara. Cucu pertama Ogatzh merasa lelah, sehingga yang diinginkan hanya ingin segera bangun, agar bisa bertemu kembali dengan orang tua tercinta. Ada banyak hal menimbulkan tanda tanya: siapakah fairy yang telah menolong, ketika terduduk di tepi sungai? Mengapa makhluk asing tersebutbisa menyebut nama pemberian ayah dan ibu, padahal mereka belum pernah bertemu, bahkan bersusah payah menolong sampai ke portal? Selain itu, kenapa dia malah mengajarkan spell, supaya buah hati Gretzh dan Rhean bisa keluar dari alam aneh?
Gadis kecil nan cerdas itu belum bisa menemukan jawaban, atas semua pertanyaan. Namun, ada satu hal yang mengganggu: wajah fairy male penolong. Dia berusaha keras untuk mengingat, akan tetapi malah menjadi samar-samar, seolah tak boleh mengingat sama sekali.
Perempuan muda nan lemah lembut itu menghampiri sofa. Di kedua tangan, terdapat sebuah piring, serta secangkir s**u coklat. “Hubby, tolong dudukkan Ostara, supaya dia bisa makan dan minum,” pinta sang istri.
Gretzh langsung menoleh ke arah pasangan. Ia bisa melihat, jika teman hidup sudah membawakan roti dan minuman untuk buah hati mereka. “Ya, Wifey. Tunggu sebentar.”
Pria cerdas itu mengalihkan pandangan, kemudian menatap kembali sang putri tersayang. “Sayang, ayo, bangun! Kamu harus makan, supaya ada tenaga.” Perkataan tersebut bagaikan angin lalu bagi si kecil. Ia sama sekali tak menyahut, sehingga membuat sang ayah berinisiatif menegakkan tubuh mungil tersebut dengan hati-hati, supaya nanti tidak terkejut.
Rhean merasa prihatin, ketika melihat pemandangan tersebut. Wanita yang telah melahirkan, serta mendidik keturunan ke dunia merasa sedih, karena tatapan kosong dari anak mereka. Ia ingin sekali mengetahui, apakah penyebab dari semua itu, namun sayang sekali belum menemukan jawaban.
“Sayang, tadi kamu bilang lapar, ‘kan? Ibu sudah bawakan kamu roti dan s**u coklat. Ayo, dimakan!” ajak perempuan bertubuh langsing nan anggun.
Ostara seakan tersadar dari pemikiran. Ia langsung menoleh ke arah sumber suara dan melihat orang tua yang dirindukan di sana. “Ya, Ibu,” sahut si kecil, singkat.
***