Pramuniaga tersenyum kecil sebelum menjawab, "yang ini asli lho, Kak. Bukan kawe kayak di ITC, bahannya juga adem. Dari sutra pilihan." "Iya, sih. Tapi 2 juta buat baju...berlebihan banget!" Maghia menggerutu sambil mengusapkan baju ke pipi, merasakan kehalusan bahan yang kata pramuniaganya dari sutra pilihan. Ah, perasaan nggak ada bedanya yang mahal sama yang murah. "Jangan yang ini, nggak pantes. Terlalu terbuka bagian dadanya." "Wah! Pacar kakaknya posesif, ya?" seru Pramuniaga iri. Matanya melirik kearah Barry yang berdiri dengan tangan dilipat di d**a. "Posesif apanya!? Baju ini 'kan dibuat untuk menonjolkan kelebihan di bagian d**a wanita. Kalau dia yang pakai sih, sama aja menghina desainernya. Kamu nggak lihat ukuran dadanya minimalis gitu?!" "Hina teross, hinaaa orangnya lag

