Jantung Maghia jadi dag-dig-dug. Padahal Barry ngomongnya biasa aja, tapi wajah Maghia terasa panas. Perempuan itu, mengalihkan pandangannya keluar, siapa tau ada abang-abang yang jual baperproof. Kayaknya sekarang dia butuh satu, sebelum dirinya pelan-pelan meleleh kayak gletser di kutub utara. Barry melirik dan mengamati ekspresi Maghia, lalu tertawa kecil. Dipikirnya urat malu perempuan itu, sudah dijual semua ke tukang bakso, ternyata masih disisain sedikit. Lucu juga kalau dia malu-malu begitu. Mereka berdua diam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tiba-tiba ponsel Barry berbunyi. "Angkat, Ghi!" Maghia melihat ponsel tersebut dengan ekspresi enggan. "Palingan om Harris, bilang aja aku lagi nyetir!" Ragu-ragu Maghia mengambil ponsel dan melihat nama penelepon. "Mama kamu

