“You're hurting me." "You're hurting me, too.” Winda memandang ekspresi wajah Bima yang tersiksa. Sepasang mata itu terlihat membawa kekecewaan mendalam, sesuatu yang tidak bisa Winda tanggung sendiri. Berdiri di sana, memandang kepedihan nyata Bima, ia dapat merasakan kepingan hatinya yang ikut pecah. "Maaf," ucap Winda dengan mata berlinang air mata. Bima, yang tidak pernah melihat wanita itu menitikkan airmatanya tersentak. Tangannya secara otomatis naik menghapus bulir tersebut dari pipi Winda. "Jangan menangis." Bima menariknya ke dalam dekapannya. Winda menghirup aroma tubuh Bima yang dirindukannya selama beberapa hari ini. Dengan tangan bergetar, Winda mencengkram punggung kemeja pria itu dan memejamkan mata. Semenit saja, ia akan membiarkan dirinya menikmati ini selama satu

