Keinginan yang Berbeda

2503 Kata

Winda menatap langit-langit kamarnya yang terlihat lebih gelap dari biasanya, tidak menghiraukan Eka yang mengetuk pintunya pelan. Mungkin sudah saatnya ia mengganti bohlam baru, pikimya dalam hati masih memandang ke atas. "Kau tidak bersiap-siap?" tanya Eka. Pria itu memandang Winda sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia mulai bosan dengan kebiasaan baru Winda yang lebih sering melamun sekarang dan tidak benar-benar mendengarkannya saat ia berbicara. "lni hanya makan malam keluarga, Winda. Kau tidak ingin membuat mereka menunggu lama, bukan?" Kerutan halus di kening Winda merupakan satu-satunya petunjuk bahwa wanita itu mendengar ucapannya. Tiba­ tiba saja Winda bangkit dari tidurnya dan duduk di tengah ranjang. Rambut panjangnya tergerai acak-acakan menutupi bahu dan bagian depan d

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN