Desah Sang Perawan

3943 Kata
Bima duduk di bangku taman tepat di seberang gedung pencakar langit kediamannya, menikmati udara halaman yang hangat. Matanya sesekali melirik ke atas, ke salah satu apartemen yang berada tepat di bawah, miliknya yang masih terlihat gelap hingga sekarang, jelas pemilik apartemen tersebut belum pulang. la tidak tahu apa yang sebenarnya dilakukannya sekarang. Tadi sore, ia sempat mampir ke apartemen Winda berniat untuk bercengkrama namun wanita itu tidak ada. Ia pikir profesornya itu tidak mau membukakan pintu untuknya dan menghindarinya. Bukan hal aneh mengingat bagaimana ia telah memperlakukan Winda dan menikmati setiap detiknya. Setelah mengetuk dan menekan bel pintu selama beberapa saat, Bima baru berpikir apakah dosennya itu pergi lagi? la bahkan repot-repot        turun ke basement di mana Winda memarkirkan mobilnya tadi dan ternyata memang kendaraan roda empat tersebut sudah tidak ada lagi di sana. Bima berasumsi bahwa Winda tidak akan pergi lama dan kembali ke apartemennya sendiri untuk menunggu. Setelah dua jam berlalu, ia kembali turun untuk mengecek apakah wanita itu sudah kembali dan ternyata belum. Merasa kesal karena Winda tidak ada di rumahnya, Bima lalu memutuskan untuk menunggu wanita itu. Taman yang terletak tepat di seberang kediaman mereka menjadi lokasi yang cocok untuk Bima dalam menunggu Winda, karena semua kendaraan yang menuju ke apartemen mereka pasti akan melewati taman tersebut. Jadi, jika Winda pulang, Bima pasti akan tahu. Bima sudah menunggu selama 30 menit di posisinya ini ketika mobil sedan berwarna silver yang tidak asing melesat melewatinya. la dapat meIihat Winda yang berdandan cantik duduk di balik kemudi dan kemudian tersenyum. Bima tahu senyumannya pasti terlihat seperti senyuman hidung belang. Dengan santai ia bangkit dari posisinya dan merenggangkan tubuh, layaknya seekor singa yang akan menerkam mangsanya. Bima juga membasahi kedua bibirnya yang kering dengan perlahan dan berjalan kembali ke apartemennya dengan langkah cepat. Tepat ketika ia masuk ke dalam lobi, ia bergegas mendekati lift di sana. Matanya dengan lincah melihat layar digital kecil di atas pintu lift yang menunjukkan lantai di mana lift tersebut berada. Dengan sabar ia menunggu lift yang bergerak naik dari basement menuju atas karena Bima tahu Winda menaiki lift tersebut lalu menekan tombol lift . Suara dentingan lift membuat seringai Bima semakin lebar. la dapat melihat Winda yang berdiri tegak di dalam lift ketika pintu terbuka. Dengan langkah yakin, Bima masuk dan berdiri merapat ke tubuh wanita itu. "Apa yang " Ucapan Winda terpotong ketika Bima menghimpit tubuhnya ke dinding yang dingin. "Hello, Profesor," sapa Bima dengan suara yang rendah. Winda terbelak menerima kedekatan pria itu di depannya. Dengan heels yang dikenakannya, tinggi tubuh mereka hampir sejajar dan Winda tidak dapat menghindar dari wajah Bima yang berjarak dekat. Bima menangkap suara cekatan halus yang keluar dari bibir Winda. Wanita itu menahan napasnya dan berdiri kaku menempel pada dinding, berusaha untuk mengambil jarak sejauh mungkin dari tubuh kekar Bima. Usahanya sudah pasti sia-sia karena Bima tidak meninggalkan celah seinci pun di antara mereka. "Jangan tegang hegitu, Profesor," gumam Bima rendah. Tangan pria itu naik membelai sisi wajah Winda dan turun menelusuri rahang dan leher jenjangnya. "Terima sajalah dengan normal dan rileks." Ucapan Bima hanya membuat Winda semakin menahan napasnya. Wanita itu menatap bibir Bima yang begitu dekat dengannya dan tanpa sadar ia menjilat bibimya sendiri. Apakah pria ini akan menciumnya lagi? "Simpan pikiran nakal Anda, Profesor," geram Bima tersenyum membaca ekspresi Winda. "Anda tentu tidak ingin aku lepas kendali dengan kamera CCTV yang menyala, bukan?" Jemari Bima turun membelai pundak telanjangnya yang hanya tidak tertutupi sehelai benang pun sementara mata Winda dengan panik melirik ke balik pundak Bima. Ia melihat kamera CCTV lift yang terpasang di sudut ruangan dan berusaha mendorong tubuh Bima. Pria itu hanya berdecak dan mencium leher ramping milik Winda dan mengecupnya perlahan, sangat menyadari gerakkan menelan di tenggorokkan Winda. "Hm, aku senang dengan keputusanku untuk menunggu anda malam ini. Kapan lagi aku bisa melihat sisi lain anda yang seperti ini. Anda cantik malam ini, Profesor Winda." Wajah Brittany merona, hanya dengan mendengar sebuah pujian kecil dan Bima telah berhasil membuatnya merona. la memang mengenakan gaun halter yang menampakkan bahunya untuk acara makan malam yang diadakan oleh Susi, karena wanita itu terbiasa membuat acara makan malam biasa menjadi sedikit berlebihan. Sebagian alasannya lagi adalah karena Winda tidak ingin mendengar ocehan ibunya jika ia sampai hadir dengan pakaian yang kurang mewah menurut standar Susi. "Berhentilah menggangguku, Bima” desis Winda. Itu pertama kalinya ia menyesali keputusannya untuk membeli unit di lantai atas apartemen ini karena sepertinya lift yang dinaikinya masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. "Ck, aku bukan mengganggu, Nona Winda, tapi aku sedang merayumu," jawab Bima. Punggung tangan pria itu sudah turun ke lengan telanjangnya. Winda menatap mata Bima dengan tajam. “berhentilah merayuku. Kalau begitu,” Bima menggangguk. "Tentu, setelah aku               mendapatkan hasilnya nanti.” "Never!" bantah Winda. "Mau bertaruh?" Senyuman yang tersungging di bibir Bima seharusnya membuat Winda marah, tapi ia malah merasakan sengatan listrik kecil menjalar dari kaki dan naik ke atas. Winda membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu untuk membalas perkataan Bima. Alih-alih sebuah pekikkan terkejut keluar dari mulutnya karena Bima tiba-tiba saja mengangkat tubuhnya dan membopongnya di pundak. b****g Bima, yang harus ia akui sangat seksi meskipun dilihat dari sudut ini, berada tepat di depan matanya. “Apa yang kau lakukan?” teriak Winda. Darah langsung berkumpul di kepalanya karena posisinya yang terbalik dan usahanya dalam memberontak tidak menghasilkan apa pun dengan Bima yang memegangnya kuat. Pria itu dengan, mudah membawanya keluar dari lift dan berjalan menelusuri koridor apartemennya yang mewah. "Turunkan aku!" perintahnya kepada Bima. Bima tidak menggubrisnya dan malah mengusap bokongnya yang hanya dilapisi oleh gaunnya yang tipis. "Turunkan aku atau aku akan berteriak!” ancam Winda. Ketika pria itu berhenti di depan pintu apartemennya. Winda tahu ancamannya tidak berguna karena ia tidak akan pemah mencoba untuk berteriak minta tolong. Alasannya adalah karena ia tahu tidak akan ada tetangga yang akan mendengarnya. Apartemen yang mereka huni merupakan salah satu apartemen mewah di kawasan ini dan terbuat dari dinding yang mampu meredam suara agar dapat memberikan suasana tenang bagi penghuninya. Belum lagi ia hanya memiliki satu tetangga lain yang tinggal satu lantai dengannya, yang jarang terlihat oleh Winda. Bima terkekeh mendengar ancaman Winda. “Kau tidak akan melakukan nya, Winda. Reputasimu akan terancam. Sekarang, apa password-nya?" Winda menggertakkan giginya. Neraka akan lebih dulu membeku sebelum ia memberi tahu pada pria itu password pintu apartemennya. "Tu-run-kan a-ku," ucap Winda sambal menggertakkan giginya. "Password-nya, Profesor." Bima memintanya sekali lagi. Winda mencoba mengangkat tubuh nya dengan menggunakan pundak lebar Bima sebagai tumpuan dan bermaksud untuk menggeliat turun dari gendongan pria itu. Usahanya hampir berhasil jika bukan karena Bima yang dengan mudah menaikkan lagi tubuhnya, membuatnya kehilangan keseimbangan. "Damn!" umpat Winda sudah kehilangan semua kendali dirinya. “Apa maumu, b******k?!" "Nah, nah, tidak baik mengumpat," ucap Bima. "Anda tidak mau mengatakan apa password pintu anda, Profesor?" "Tidak!” "Well, apa boleh buat. Aku tidak memiliki pilihan lain selain membawa Anda pulang ke apartemenku.” "Apa?!" Ucapan Bima berhasil membuat Winda takut. la mulai memberontak lagi ketika Bima dengan pelan mulai berjalan ke arah lift sambil berteriak, "Berhenti! Kumohon, berhenti! Bima!" "Jadi, mau memberitahu?” Winda merapatkan bibirnya kesal ia benci merasa tak berdaya seperti ini apa lagi karena pria yang lebih muda beberapa tahun darinya. "Atau aku perlu membawamu ke tempatku, Profesor?" tanya Bima lagi ketika Winda masih bungkam. "A ku mengerti." "Baiklah!" seru Winda saat ia merasakan Bima kembali melanjutkan langkah kakinya. Winda pasti akan jungkir balik jika melihat senyum kemenangan yang terlukis di bibir Bima saat ia memberi tahu kan password pintu apartemennya. Dalam hati, Winda berencana untuk mengganti password tersebut setelah Bima pergi. Suara dentingan kecil menandakan hahwa kunci kediamaJ'l.nya sudah tc.rb uka dan Winda bcrusah a sckali lagi untuk turun daci ge11dongann ya. Nanlun Bima scpertinya belurn bermat untuk melepaskannya dan melangkah 1n as uk n, en uju ka1nar 13riltany yang terlelak di sisi kanan apartemennya. "Aku sudah memberitahumu, sekarang turunkan aku!" perintah Winda dengan nada tinggi. "Baiklah,” jawab Bima. Winda hampir saja limbung ketika Bima menurunkannya secara tiba-tiba. la mencengkram lemari kayu yang ia letakkan di samping pintu kamarnya untuk menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh. Berada dalam posisi terbalik seperti tadi membuat darahnya berkumpul di otak dan sekarang Winda harus beradaptasi lagi ketika kakinya menyentuh lantai. Ia memejamkan matanya selama beberapa saat, mencoba untuk meredakan pusing yang melanda kepalanya saat ini. Sementara Bima, pria itu sedikit merasa bersalah karena melakukan hal ini terhadap dosennya sendiri, ia meraih lengan Winda untuk membantu menjaga keseimbangan wanita itu. Winda langsung menampik sentuhannya dan berjalan perlahan ke arah kasur. la lalu duduk di tepi ranjangnya dan mengusap kepalanya pelan. "Anda baik-baik saja?" tanya Bima. Winda melemparkan tatapan penuh amarah kepada Bima. Kilat emosi yang terpampang di mata jernih itu tidak membuat Bima mundur, melainkan senang karena ia berhasil membuat dosennya yang terkenal dingin itu merasakan amarah dalam tingkatan yang baru. Bima tersenyum dan mulai melangkah mendekati Winda. Wanita itu mencengkeram kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya dan Bima dapat melihat bahwa tangan wanita itu sedikit bergetar. "Apa sebenarnya maumu?” Tanya Winda dengan nada dingin. Bima mengerutkan dahinya mendengar nada itu. la tidak suka saat Winda kembali memegang kendali dirinya lagi dan memandangnya dengan tatapan dingin yang menusuk. "Mencumbumu,” jawab Ethan. Bima tidak menunggu balasan jawaban Winda dan mendorong tubuh wanita itu berbaring telentang di atas ranjang. Perasaan panik memenuhi benak Winda ketika Bima menahan tangannya di atas kepala. "Jangan lakukan ini!" pinta Winda sambil menggeleng. Wanita itu terlihat takut dan mencoba untuk menarik tangannya keluar dari tangan Bima yang menahannya. Kedua paha Winda yang berada di antara Lutut Bima juga bergerak meronta berharap dapat menendang pria itu. "Bima!" seru Winda. Bima menelusuri garis gaun yang dikenakan oleh Winda dan bertanya, "Anda memakai gaun ini untuk menutupi leher Anda, bukan?” Winda menelan ludahnya. la tidak bisa memakai gaun model lain karena bekas ciuman yang ditinggalkan oleh Bima masih membekas dan mulai berubah menjadi gelap. "Sayang sekali.” gumam pria itu. “Aku rasa, aku harus meninggalkan jejakku di bagian lain tubuhmu," "Don't!" pekik Winda saat Bima mulai mendekatkan wajahnya. Pria itu langsung membenamkan wajahnya di ceruk leher Winda, menghisap kulit mulus itu tepat di bawah telinga Winda. la dapat merasakan panas napas dan mulut pria itu di sana dan yakin bahwa pria itu telah meninggalkan bekas lain di tubuhnya. Sebelah tangan Bima yang bebas mulai membelai pinggul dan pahanya dengan gerakan naik-turun sementara Winda hanya bisa terkesiap menerima jilatan dan hisapan bibir pria itu. Bima kemudian menyelipkan tangannya ke bawah tubuh Winda dan rnencari zipper gauu wan.ita itu tapi tangannya langsung bersentuhan dengan punggung telanjang Winda. Dan Winda mulai menyesali keputusannya dalam mengenakan gaun backless-nya. "Hm, aku tidak tahu bahwa Anda memiliki gaun seperti ini, Profesor." ucap Bima di telinganya. Winda memekik kecil ketika Bima tiba-tiba saja membalik tubuhnya menjadi menelungkup. Kedua tangan Winda masih ditahannya di atas kepala dan Bima sekarang sudah menduduki kedua paha belakangnya. "Apa yang kau lakukan?!" tanya Winda panik ketika tangan Bima mulai menjelajahi punggung dan pinggangnya. Bima melahap punggng dan pinggang Winda di bawahnya dengan tatapan nya yang dikabuti hasrat. Pemandangan seperti ini terlalu sayang jika ia lewatkan begitu saja dan ia berencana untuk mengecap punggung mulus ini dengan bibirnya. Winda dapat merasakan udara hangat yang menerpa garis punggungnya. Pria itu mulai menghirup aroma tubuh Winda dan sesekali mengecup punggungnya. Telinganya lalu mendengar suara zipper yang turun membuka, menampakkan punggung bawah dan bokongnya yang sekal. "Ah,” Winda terkesiap saat tangan Bima masuk melalui celah gaunnya yang sudah terbuka dan meraup p******a telanjangnya. Untuk pertama kalinya, Winda menerima sentuhan langsung tangan pria di payudaranya. Ia helum memutuskan apakah ia menyukai sentuhan ini namun yang jelas, tangan Bima terasa panas di sana, terlebih saat telunjuk pria itu menyentuk puncak payudaranya. "Payudaramu terasa pas di tanganku, Profesor," bisik Bima. Tubuh Winda bergetar mendengar suara Bima yang serak dan dalam. Ia mulai mengerti bahwa Bima ahli dalam menggunakan jari dan suaranya untuk meruntuhkan pertahanan dirinya karena Winda mulai menikmati remasan tangan Bima di payudaranya. "Katakan," ucap Bima lagi. “Apakah payudaramu akan terasa pas di mulutku juga?" Winda mendesah kecil saat jari Bima memilin puncak payudaranya di antara telunjuk dan ibu jarinya. “Anda menikimati ini, bukan?” tanya Bima.   "Ti-tidak!" bantah Winda. Suaranya terdengar aneh, di telinganya sendiri. Bima berdecak. "Aku akan memastikan Anda meneriakkan kenikmatan Anda lagi, Profesor. Dan Anda akan mengakuinya sebelum pagi datang." Jantung Winda berpacu lebih cepat lagi ketika mendengar janji Bima untuknya. Tanpa sadar, ia memejamkan matanya, setengah berpikir apakah ia masih akan menjadi Winda yang sama setelah ini? Bima melepaskan ikatan spaghetti strap yang berada di tengkuknya dengan sekali tarikan. Dengan kedua tangan pria itu begitu sibuk memnbelai payudaranya dan menahan tangan Winda di atas kepala, Winda tahu bahwa BIma menarik lepas tali gaunnya dengan menggunakan gigi. Terlebih lagi karena ia dapat merasakan hembusan napas pria itu di lehernya. Gerakkan tangan Bima di tubuhnya menyebabkan gaunnya mulai turun secara perlahan dan Winda dapat merasakan sebelah payudaranya menyentuh seprai di bawahnya. Bima kemudian melepaskan genggamannya dari payudaranya, membuat Winda hampir mengeluh karena merasa kehilangan. "Aku ingin melihatmu sekarang, Profesor,” bisik Bima. "Maukah kau membalikkan tubuh mu untukku?" Winda terengah. Ia diam di posisinya tidak berani untuk membalikkan tubuhnya. la merasa sedang bergantungan pada kendali terakhir dirinya dan dengan menuruti Bima, entah mengapa membuatnya merasa akan membuang semua kewarasannya. Bima mendaratkan sebuah kecupan samar di tengkuknya dan turun mengikuti tulang punggungnya. "Kurasa aku harus menggodamu, bukan?" Winda mendesis ketika tangan Bima kembali meraup payudaranya. Pria itu meremas dan mengelusnya namun dengan sengaja menghindari puncaknya yang sensitif, membuat Winda mengeluarkan erangan frustasi. "Berbaliklah, Profesor.” bisiknya lagi . "Aku akan memasukan Anda mendapatkan kenikmatan lain selain dari tanganku saja. Tidakkah Anda menginginkannya?" Tangan Winda yang masih ada dalam cengkraman Bima mengepal erat. "Ti-dak...," ucapnya lemah. Bima menurunkan tangannya di bawah tubuh Winda, menyelinap masuk ke dalam, lapisan gaun yang menumpuk di bawah p******a wanita itu. Ia dengan sengaja menangkupkan tangannya pada lengkungan kembar Winda dan menghindari puncak payudaranya yang sensitif. Tubuh Winda mulai terasa lemah di telapak tangannya dan Bima menyukai hal itu. la suka menjadi penyebab tubuh Winda menggeliat di bawahnya dan mengeluarkan suara-suara erangan kenikmatan, juga erangan frusrasi. Merapatkan tubuhnya, Bima memenjara tubuh Winda dengan tubuhnya sendiri. Bibirnya tidak bisa berhenti untuk mencicipi rasa kulit dosennya itu dan Bima mulai menjelajahi punggung Winda dengan lidah. la mengecup tengkuk Winda dan terus turun hingga ke punggung bawahnya yang ramping. Bima bertekad untuk    membuat Winda menyuguhi tubuhnya sendiri untuk Bima. la memiliki waktu sepanjang malam untuk melakukannya dan Winda              akan dipastikan menyerah pada           tuntutan bibir dan tangannya. Pikiran itu membuat Bima semakin bersemangat dalam usahanya. Winda mulai mengerang frustasi saat tangan Bima tak kunjung menyentuh puncak payudaranya yang keras. Pria itu malah dengan sengaja menjauhkan tangannya dari gundukan lembut itu, membuat Winda semakin frustasi dibuatnya. Tersenyum, BIma terus melanjutkan aksinya dan membawa tangannya semakin turun ke bawah. la menemukan garis c*****************a itu dan sedikit terkejut ketika merasakan bentuk dari pakaian dalam minim yang dikenakan oleh Winda. Anda mengenakan G-string, Profesor?" tanya Bima serak. "Di balik pakaian sopanmu setiap hari, aku bahkan tidak terpikir Anda memiliki lingerie.” Wajah Winda merona hingga ke daun telinganya mendengar ucapan Bima. la memakai G-string sialan itu karena gaun yang dikenakannya berbahan tipis. Karena malu, Winda menggeliat berusaha untuk mendorong Bima dari atas tubuhnya. Namun Bima malah mengambil kesempatan itu untuk menyelipkan tangannya di antara paha dalam Winda dan menangkup kewanitaannya. Ia tidak dapat menahan erangannya lagi dan merasakan tangan Bima yang mengusap garis kewanitaannya yang masih tertutupi secarik kain. Bima memperhatikan bagaimana Winda terbaring pasrah di bawah tubuhnya. b****g wanita itu sedikit terangkat dalam usahanya untuk menjauhkan Bima namun ternyata hanya memberikan akses lebih untuk jemarinya yang sekarang sedang membelai pelan kewanitaan Winda. Perlahan-lahan, Bima membangkitkan gelombang kenikmatan Winda dengan belaian handalnya. Sesekali ia akan mampir di pusat kewanitaan Winda yang terasa lebih keras di balik kain minim itu. Ia akan mengusapnya beberapa kali, membangun               kenikmatan Winda dan        kemudian meninggalkan titik itu. "Argh!” Winda menggeram kecil saat dirasanya Bima kembali mengusap pusat kewanitaannya lagi. Kedua pahanya menjepit tangan Bima di sana dan kepalanya dibenamkan di atas kasur, pasrah pada gelombang demi gelombang yang mulai berkumpul dan membawanya ke pelepasan. "Damn!” umpat Winda mengerang ketika kenikmatan tersebut turun karena Bima menghentikan aksinya. Winda memutar kepalanya ke belakang dan menatap Bima kesal. la sudah begitu dekat tadi namun pria itu dengan sengaja menghentikan perbuatannya. Senyum licik yang terlukis pada bibir Bima merupakan scbuah peringatan kecil sebelum akhirnya pria itu kembali mengulanginya. Bima kembaLi mengelusnya dan mengulang polanya terus menerus dan menghentikannya lagi ketika Winda sudah hampir mencapai pelepasannya. Tangis frustasi wanita itu mengisi ruangan tersebut, membuat Bima semakin menjadi­jadi. "Berbaliklah, Miss Winda," bisik Bima dekat di telinga Winda. Tangan pria itu masih terbenam di antara pahanya dan memulai gelombang baru di pusat kewanitaannya. Winda mengepalkan tangannya lebih erat lagi ketika dirasanya Bima berhasil membawanya mendaki puncak kenikmatannya lagi. la bahkan tidak menyadari saat Bima melepaskan cengkramannya di tangan Winda, membjarkan Winda mencengkram erat seprei di bawahnya. "'Berbaliklah," bisik Bima sekali lagi. Winda tidak dapat berpikir lagi. Yang ada dalam pikirannya adalah pelepasan yang sudah berada di depan mata. Ia kesal karena menjadi lemah di bawah godaan pria itu namun tak kuasa menahan kepalanya untuk mengangguk. Bima tersenyum saat melihat kepala Winda mengangguk kecil. Meski gerakan itu samar namun Bima cukup puas. la lalu menjauhkan tubuhnya sedikit dan memberikan ruang bagi Winda untuk memutar tubuhnya. Dengan wajah merah merona dan mata yang berair, Winda memutar tubuhnya untuk berbaring terlentang. Tangan Bima tidak pernah meninggalkan kewanitaannya selama Winda sedang membalik tubuh, membuat Winda semakin malu. Tidak sanggup menatap Bima, Ia menutup matanya dengan lengan kiri sementara lengan kanannya mencengkram sprei di samping tubuhnya. Sementara Bima , matanya menjelajahi tubuh atas Winda yang terpampang dengan indah. “Anda sangat indah, Profesor," ucap Bima. Ada nada takjub dan memuja ketika pria itu mengucapkannya. Winda menurunkan lengannya dan mengintip ke arah wajah Bima yang menatap tubuhnya dengan sirat penuh pemujaan. Mata yang biasanya jernih dan cerah itu sekarang menggelap dan dikabuti hasrat yang sanggup menggetarkan tubuh Winda. Bima meninggalkan kewanitaan Winda dan menangkup gunung kembarnya dengan dua tangan. Pria itu kemudian menunduk dan berkata, "Kurasa aku harus mencari tahu apakah payudaramu akan terasa pas di mulutku atau tidak.” Winda melengkungkan tubuhnya saat Bima membenamkan wajahnya di antara kedua payudaranya. Pria itu mengecup lengkungan payudaranya yang lembab dan mulai menjilatinya. Lidahnya menjelajahi setiap senti gundukan tersebut dan mulai melingkari puncak payudaranya yang keras. Bima kemudian mengulumnya dan Winda melenguh. Saat BIma, menghisap lembut, Winda mendesah kecil. Ketika gigi Bima menggesek puncak sensitif itu, Winda semakin melengkungkan tubuhnya dan bergerak gelisah. Melepaskan p******a Winda, Bima mengangkat tubuhnya dan tersenyum. Wanita itu tidak lagi menutupi wajah nya dengan lengan dan malah menatap Bima dengan tatapan penuh permohonan. "Perlahan saja sayang," ucap Bima pada Winda. Tangan Bima terjulur meraih gundukan gaun Winda dan menariknya turun secara perlahan. la memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menghentikan usahanya dan senang ketika tidak  menerima penolakan apa pun dari Winda. Setelah gaun ilu terlepas dan menampakkan tubuh Winda yang hanya ditutupi G-string berwarna hitam, Bima kembali menindih tubuh indah itu dan mencari bibir Winda dengan bibirnya sendiri. Tidak peduli seberapa menggoda tubuh Winda, Bima selalu tertarik untuk melumat bibir ranum Winda yang terasa nikmat. la mulai memanggut bibir Winda dan bergerilya dengan lidahnya. Winda mendesah di sela-sela ciuman mereka dan menyelipkan jemari tangannya pada rambut Bima yang terpangkas rapi. Ia memiringkan kepalanya mengikuti gerakan bibir Bima, membalas ciuman Bima, mencicipinya, dan mulai menghisap bibir bawah Bima lembut. Winda tidak tahu bahwa bibir seorang pria dapat terasa begitu lembut. Ataukah ini hanya halusinasinya saja karena sudah terbutakan oleh hasratnya sendiri? WInda tidak peduli, yang ia rasakan sekarang hanyalah kenikmatan yang diberikan pria itu melalui bibir dan lidahnya. Bima kemudian menghentikan pagutannya dan bergeser turun mengecup leher dan pundak Winda. la mengecup d**a Winda yang bergerak naik turun karena kehabisan napas, merasakan panas tubuh wanita itu di bawah tubuhnya sendiri. Tangan Winda masih terbenam di rambut Bima dan menuntun pria itu semakin turun menjelajahi perutnya yang cekung.          Ia mencengkram rambut itu erat ketika  Bima berhenti di atas lembahnya dan menarik turun lapisan terakhir yang melindungi tubuhnya. Malu yang tadi sempat terlupakan menyerangnya kembali dan Winda refleks menutup kewanitaannya dengan tangan. la hampir menangis ketika Bima menarik tangannya dan meletakkannya di kedua sisi tubuhnya. Belum ada pria yang melihatnya di bawah sana sebelum ini. Lebih tepatnya lagi, belum pernah ada satu pun pria yang melihatnya telanjang. Kaki Winda kaku saat Bima memegang kedua paha dalamnya. Pria itu dengan lembut memaksa Winda membuka kedua paha tersebut dan memandangnya lekat-lekat di sana. "Aku menyukai apa yang kulihat, Profesor," ucap Bima. Napas panas pria itu menerpa bagian paling rahasia tubuhnya . "Begitu basah dan begitu siap.” Winda menghirup napasnya kencang. la terlonjak kecil ketika merasakan Bima bergerak mendekatinya. "Jangann!” pekiknya sambil menahan kepala pria itu dengan kedua tangannya. Usahanya sia-sia karena Bima dengan sigap menyingkirkan tangannya dan membenamkan wajahnya di antara kedua pahanya yang terbuka. "AH!” Winda berteriak saat merasakan sentuhan basah pertama di sana. la tidak dapat lagi berpikir. Seluruh darahnya seolah-olah meninggalkan kepalanya dan berkumpul di bawah sana. Kedua pahanya menjepit erat kepala Bima dan tangan yang berusaha untuk mendorong kepala Bima sekarang terbenam diantara rambut pria itu dan bertahan di sana. Winda tidak tahu berapa lama Bima memberikan kenikmatan itu padanya namun klimaksnya datang dengan begitu cepat. Membawanya ke langit teratas kemudian menghempaskannya kembali ke bumi dalam sebuah ledakan dahsyat. Erangan nikmat yang keluar dari bibirnya mengisi setiap sudut ruangan dan Bima menyeringai lebar. Pria itu melahap tubuh Winda yang terengah-engah dengan kedua matanya. la sudah tidak sabar lagi untuk mencicipi tubuh Winda seutuhnya, tapi itu akan ia simpan untuk lain kali. "Anda menikimatinya, Profesor?" tanya Bima. Bima takjub melihat rona yang menghiasi wajah Winda. Setelah semua yang sudah ia lakukan pada tubuhnya, wanita itu masih bisa bersikap malu-malu terhadapnya. Winda menurunkan kelopak matanya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit dari posisinya dan bergeser mundur hingga punggungnya menyentuh bantal-bantal yang masih tersusun rapi. Winda terlihat seksi di mata Bima. Dengan rambut wanita itu yang berantakan, bibir merah yang membengkak, serta tatapan sayunya, Bima dapat melahap Winda lagi saat itu juga. “Katakan, apakah Anda menikmatinya, Profesor?" Tanya Bima lagi. Ekspresi wanita itu jelas sudah mengungkapkan segalanya namun Bima ingin mendengar langsung Winda mengatakannya. la bergeser mendekati Winda dan menyentuh dagu mungil Winda, menengadahkan wajah Winda ke arahnya. "Apakah Anda tidak menikmatinya?" Bima lagi-lagi mengulang pertanyaannya. "Jika Anda tidak menikmatinya, aku akan dengan senang hati mengulang semuanya lagi.” Winda membelakkan matanya sedikit sebelum kilatan hasrat terbersit di matanya. “La-lagi?” lirihnya. Bima mengangguk. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan. "Ya. lagi, Profesor." Winda menelan ludahnya. Bibirnya terasa kering sekarang setelah sebuah ide kotor memenuhi pikirannya. "Jadi? Apakah Anda menikmatinya, Profesor?” Menaikkan pandangannya ke atas, Winda berbohong. "Tidak.” Bima terkekeh dan menarik lepas selimut Winda. "Right answer, Profesor." Winda yakin dirinya sudah gila ketika dengan sengaja membiarkan Bima menyentuh tubuhnya lagi. la bahkan dengan suka rela memberikan akses penuh bagi pria itu untuk menikmati tubuhnya. Setelah 30 menit Bima menjelajahi seluruh tubuhnya, Winda yakin tidak ada satu lengkungan pun yang tidak mendapat sentuhan tangan dan bibir Bima . Belum lagi, Winda tidak tahu sudah berapa kali ia mencapai pelepasannya malam itu. la dapat mendengarkan suara erangannya sendiri dan aroma keringat mereka berdua memenuhi indra penciumannya. Bima sudah melepaskan T-shirt-nya dan Winda menikmati rasa tubuh kokoh pria itu menempel di bagian depan tubuhnya. Bulu-bulu halus yang tumbuh di d**a Bima pun membawa kenikmatan tersendiri bagi puncak payudaranya. Winda mulai berani menjelajahi punggung dan perut Bima yang keras. la dapat merasakan otot-otot pria itu bergerak di bawah sentuhannya. Terasa sangat laki-laki, bertolak belakang dengan tubuhnya sendiri yang lebih lembut dan berlekuk­lekuk. Dan sekarang, keduanya sedang mengambil jeda sejenak setelah Winda meraih puncak kenikmatannya yang terakhir. “Profesor,” geram Bima saat jemari Winda menyentuh p****g pria itu . Nada tertahan pria itu membuat Winda menarik tangannya. "Kenapa berhenti?" tanya pria itu. Bima kembali menarik tangan Winda dan meletakkanya tepat di d**a pria itu lagi. "Aku menyukainya, Profesor." “Benarkah?" bisik Brittany. Jarinya mulai bergerak lagi mengelus p****g keras Bima. "Yeah," gumam Bima. "Anda teruskan itu dan mungkin aku akan mengajarkan Anda cara menyenangkan seorang pria." Winda mendesis. Bayangan memberikan kenikmatan kepada Bima mulai menari di benaknya. Ia hampir berkata pada Bima bahwa pria itu dapat mengajarinya sekarang namun menahan diri. Tubuhnya sudah terasa lemas sekarang dan Winda dapat merasakan kantuk mulai menghampirinya. Butuh energi ekstra bagi Winda untuk menahan kelopak matanya tetap membuka. Bima menyadari hal itu dan mengulum senyumnya. la tidak menyangka ketika memutuskan untuk merayu dosennya, ia malah akan melepaskan seekor singa betina. Meskipun Winda, masih malu-malu dan kaku, tapi setidaknya wanita itu tidak lagi berusaha untuk menghindari sentuhannya. Dengan lembut Bima menangkap tangan Winda dan memutar tubuhnya. la membaringkan wanita itu di depannya dan menghadap ke arah yang sama. "Tidurlah, Profesor. Kita masih memiliki hari esok," gumamnya lembut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN