Nasib Buruk

2867 Kata
Winda bangkit duduk dan mengerjapkan mata sekelilingnya. Sisi ranjang sebelah kanannya terlihat sedikit berantakan, gaun dan celana dalamnya tergeletak begitu saja di kaki ranjang, dan tenggorokannya kering seolah-olah ia tidak minum selama berhari-hari. Untuk sesaat, Winda bingung dengan kondisi tubuhnya yang tak mengenakan busana sehelai pun di balik selimut dan kondisi kamarnya yang terlihat berantakan. Lalu kesadaran menghantamnya. "Oh, God!" erangnya sambil membenamkan wajahnya ke bantal yang berada di pangkuannya. lngatan tentang kejadian semalam bertubi-tubi. Tidak ada satu bagian pun menghantamnya yang terlewatkan dari ingatannya. la, Winda Kirana, dengan sangat sadar membiarkan mahasiswanya sendiri b******u dengannya. Apa yang sebenarnya ia pikirkan semalam? Mengangkat wajahnya lagi, Winda baru  menyadari bahwa Bima tidak terlihat pagi ini. Ia tidak tahu apakah Bima masih ada di kediamannya ini ataukah pria itu sudah pulang ke apartemennya sendiri. Winda berharap yang terakhir. Keluar dari balik selimut, Winda berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi. la tidak mau mengambiJ risiko Bima masih ada di sini dan melihatnya dalam keadaan telanjang. Meskipun apa yang mereka lakukan seharusnya membuat kondisi tubuhnya yang telanjang menjadi hal sepele, namun Winda terlalu sadar pagi ini untuk tidak merasa malu. la meraih jubah mandi dan mengikat talinya kuat-kuat. Memegang keliman jubah tersebut erat-erat, Winda berjalan keluar dari kamar mandi dan mengintip keluar. la menilai situasi apartemennya dan ketika dirinya tidak melihat tanda­tanda keberadaan Bima di sana, Winda memberanikan diri berjalan ke luar. Ruangan pertama yang ia singgahi adalah dapur. Winda mengambil segelas air putih dingin dari lemari es dan meneguknya banyak-banyak, merasakan sensasi dingin yang meredakan rasa haus di kerongkongannya. Setelah itu, ia mulai membuat sarapan untuk dirinya sendiri karena perutnya berbunyi kencang menandakan lapar. Mungkin aktivitasnya semalam, telah menghabiskan banyak energinya. Selang beberapa waktu kemudian, Winda menghabiskan sarapannya dan mulai bersiap-siap. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan waktu yang sudah tidak pagi lagi namun Winda mengambil waktunya dengan santai karena inj adalah hari terakhir mengajar dalam minggu ini ia tidak memiliki kelas pagi di hari Jumat. Winda menangkap secarik kertas yang ditempel di meja riasnya saat ia hendak merias vvajah. la tidak mengingat melihat kertas tersebut saat bangun tidur tadi dan meraih kertas terscbut. Membaca tulisan acak-acakkan di sana membuat jantung Winda melompat kecil. Pesan itu bertuliskan: “l had one of the greatest time with you last night, Profesor. Can't wait to do it again anytime soon! -Bima- P.S. Don't even try and think to change your password, you won't like the consequences.” Winda meremas kertas tersebut menjadi bola kertas kecil dan melempamya ke dalam tempat sampah. Entah kenapa pesan Bima berhasil membuat Winda merona dan membencinya di saat bersamaan. Well, mungkin tidak sungguh-sungguh membenci, hanya saja seharusnya Winda setidaknya marah terhadap pria itu dan bukannya merona seperti anak ingusan. Menyingkirkan Bima dari pikirannya, Winda memandang pantulan dirinya dan mulai merias diri. la baru saja mengangkat rambutnya yang sudah kering untuk di ikat seperti biasanya namun berhenti ketika matanya menangkap kemerahan abstrak di bawah telinga kanannya. Buru-buru Winda melepaskan rambutnya. la baru ingat bahwa Bima meninggalkan bekas ciuman baru di sana yang tidak dapat ditutupi dengan kerah pakaian yang tinggi. Dengan terpaksa, Winda membiarkan rambutnya tergerai lurus menutupi lehernya. Sctelahsiap dengan semua persiapannya, Winda kemudian berangkat menuju universitas. Ia baru saja memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pengajar ketika mobil SUV hitam milik rektor universitasnya datang dan parkir tepat djsamping sedannya. "Miss Winda!”   panggil Pak Salman ketika pria itu turun dari mobilnya dan melihat Winda. “Selamat siang, Pak Salman," sapa Winda dengan senyum sopannya. Pria tua yang sudah kehilangan sebagian rambutnya itu mengangguk kepada Winda dan mulai berjalan menjajari langkah wanita itu. “Bagaimana dengan penelitianmu?” tanya Salman. "Aku belum memulainya, Pak," jawab Winda. Salam mengerutkan keningnya tanda tidak setuju. "Kenapa? Apakah kau menemukan kendala?" Winda menggeleng, "Well, aku belum menemukan kandidat lain yang cocok setelah Fransisca Dewi dengan berat hati menolak panggilanku." Winda sudah mengirimkan e-mail kepada salah seorang mahasiswa paska sarjananya, Fransisca Dewi yang sudah luJus tahun lalu, memberikan panggilan kepada wanita itu untuk menyelesaikan program S3-nya dan melakukan penelitian untuk Winda. Sayangnya Fransisca berkata bahwa ia menikah baru-baru ini dan hamil dengan kondisi janinnya yang kurang baik sehingga tidak memungkinkan baginya untuk bekerja. Salman mengetukkan telunjuknya di dagu dan berpikir. "Hm, aku memiliki kandidat lain yang kurasa cocok untuk membantumu," ucapnya. "Siapa?" “Namanya Benedict, dia adalah salah seorang muridku empat tahun yang lalu," jawab Salman. "Dia lulus dengan nilai fantastis dan dia juga memiliki tingkat ketekunan dan ketelitian yang tinggi. Aku bisa menjamin bahwa Benedict akan menjadi asisten yang pantas untukmu, Miss Winda. Jika kau tidak keberatan dengan rekomendasiku, aku bisa mengiriminya e-mail dan memintanya untuk datang segera mungkin.” Winda mengangguk. "Tentu, Profesor Salman. Jika kau sangat merekomendasikan Benedict, aku tentu akan menerimanya dengan tangan terbuka.” Keduanya menghentikan langkah mereka ketika sampai di depan ruangan Winda. "Good!" ujar Salman sambil me nepuk pungungnya ramah. "Aku akan menghubunginya kalau begitu.” "Oke." Profesor Salman melambaikan tangannya sambil berkata, "Omong-omong, kau terlihat lebih mudah didekati dengan rambut tergerai. Kau harus sering-sering melakukannya." Tangan Winda secara refleks naik menyentuh rambutnya. Sebuah senyum heran menghiasi bibirnya dan ia tidak tahu kenapa. Tidak ada perasaan risih dan janggal karena ia harus berpenampilan berbeda dari biasanya. Yang ada hanyalah perasaan nyaman dan... bebas? WInda tidak yakin. Menggeleng pelan, ia membuka kunci ruangannya dan masuk. Ia masih memiliki banyak waktu hingga kelasnya di mulai, cukup untuk mengecek semua materi pelajarannya. Dan itulah yang Winda lakukan sepanjang siang. Bima berjalan melewati ruangan Winda setelah kelasnya selesai beberapa menit yang lalu. Ia berdiri di sana untuk beberapa saat dan menimbang, apakah ia akan masuk atau tidak? Sebenarnya sekarang ia sedikit ragu dengan dirinya sendiri dan apa yang sedang dilakukann ya selama hampir seminggu ini. Profesornya yang dingin jelas merupakan salah satu faktor penting di dalamnya. Bima tidak pernah berpikir bahwa ia adalah seorang pria yang b******k namun ia juga tidak pernah menganggap dirin ya adalah pria gentle man yang tidak pernah mengambil keuntungan dari tubuh seorang wanita. Namun, bersama dengan Winda, ia merasa bahwa ia menjadi seorang pria yang melampaui b******k. Biasanya, jika ia sedang menginginkan tubuh seorang wanira, Ia akan mencari pasangan cinta satu malam dan berpisah keesokan paginya. Wanita yang pernah bersamanya tidak pernah menuntut lebih karena tahu bahwa Bima tidak memiliki perasaan apa pun terhadap mereka. Namun dengan Winda, sesuatu yang berbeda jelas telah terjadi. Seperti contohnya, 'pertemuan' mereka yang sudah terjadi sebanyak tiga kali. Bima sama sekali tidak menyetubuhinya dan memilih untuk memuaskan diri sendiri atau mandi air dingin agar hasratnya reda. Ia yakin jika Winda adalah wanita lain, Bima pasti sudah melampiaskan nafsunya sejak ciuma mereka yang pertama. la tidak perlu mendengar langsung dari bibir dosennya bahwa ia masih perawan, semua reaksi yang diberikan oleh Winda berteriak bahwa wanita itu masih perawan. Bima bahkan tidak yakin bahwa Winda pernah berhubungan khusus dengan seorang pria seumur hidupnya. Jadi, apakah itu alasannya? Karena Winda masih perawan? Bima tidak yakin. Oh, dan pagi tadi. Saat ia bangun di samping tubuh telanjang Winda, yang ingin Bima lakukan adalah melanjutkan bergelung bersarma wanita itu dan menghabiskan harinya di atas ranjang. la ingin melanjutkan menggoda Winda seperti sebelumnya, menyaksikan bagaimana ia memancing sisi panas Winda. Sesuatu yang belum pernah terlintas ingin dilakukannya ketika la bersama dengan wanita lain. Belum lagi perasaan enggan yang menyergapnya begitu ia tahu bahwa ia harus pergi karena memiliki kelas pagi ini. ltu semua membuatnya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apa yang sebenarnya sedang terjadi terhadapnya. Apakah ia... ? Tidak, sepertinya tidak mungkin . Bima menggeleng, ia lalu memilih untuk melanjutkan langkah kakinya dan pergi. Sepertinya ia mulai gila atau sudah kena batunya karena telah berani menggoda dosennya sendiri. "Bima!" seru seseorang memanggilnya. Bima menghentikan langkah dan menoleh. la melihat Utomo setengah berlari ke arahnya dengan membawa beberapa buku pelajarannya. “Kau mau ke mana?" tanya Utomo sambil terengah­engah mengatur napasnya. "Pulang,” jawab Bima singkat. Utomo menggelengkan kepalanya. "Kau seharusnya ikut denganku ke rumah sakit, bukan ?" Bima mengerang ketika ia ingat akan hal itu. Ia sudah berjanji untuk pergi bersama Utomo menjemput Sinta dari rumah sakit. "Maaf, aku lupa,'' gumamnya. "Kita langsung berangkat sekarang?" Utomo mengangguk. Mereka lalu berjalan bersama menuju parkiran. Motor yang biasa selalu dikendarai oleh Bima tidak terlihat hari ini. Sehagai gantinya, sebuah Mercedez-Benz S Class berwarna hitam terparkir di sana. Mereka langsung menaikinya dan melaju menuju rumah sakit. la sengaja membawa mobil yang jarang ia kendarai itu karena akan menjemput Sinta di rumah sakit. Bima menawarkan diri untuk membantu Utomo menjemput Sinta dari rumah sakit karena pria itu tidak memiliki kendaraan sama sekali dan Bima tidak tega membiarkan Sinta naik kendaraan umum saat kondisinya masih belum benar-benar pulih. Sedikit informasi, kedua orangtua Utomo sudah meninggal beberapa waktu yang lalu . Meskipun orangtua Utomo memiliki cukup tabungan, namun dengan kondisi Sinta yang memiliki kelainan jantung sejak kecil, maka pria itu harus berkerja sambilan di berbagai tempat untuk menambah keuangan mereka. Mereka juga harus sering-sering berhemat. Seperti sekarang ini, sebernanya Sinta masih harus berada di rumah sakit untuk satu minggu lagi namun gadis itu memohon kepada dokter yang merawatnya sejak kecil agar ia bisa keluar dan tinggal di rumah. Dengan berat hati dokter tersebut mengizinkannya dengan syarat bahwa Sinta harus istirahat total di rumahnya. "Apakah kondisi Sinta kali ini sudah lebih baik?" Tanya Bima. “Ya, kuharap demikian. Kami masih harus melihat perkembangannya terlebih dahulu," jawah Utomo. "Kau tahu kan bahwa kau hanya perlu mengatakan padaku jika kalian membutuhkan sesuatu?" Utomo tersenyum dan menepuk pundak Bima. "Aku tahu. Thanks, man." Bima mengangguk meskipun ia tahu bahwa Utomo akan lebih memilih untuk mengandalkan diri sendiri daripada harus meminta bantuan Bima. Saat mereka sampai di rumah sakit, Sinta sudah berganti pakaian dan menunggu mereka di ruang rawat. Gadis itu sedikit pucat namun tetap tersenyum lebar menyambut kedatangan mereka. "Akhirnya!" serang Sinta. ''Aku sudah berlumut menunggu kalian." "Hai, Sin," sapa Bima sambil mengusap kepala gadis itu. "Bagaimana keadaanmu?" "Better than ever," jawabnya senang. "Bolehkah kita pergi sekarang?" "Lima menit, Sin," ucap Utomo. "Aku barus menyelesaikan administrasinya .” Utomo kemudian pergi meninggalkan Bima berduaan dengan Sinta. "Trims, Bima," ucap Sinta tiba-tiba. Bima menaikkan alisnya bingung. “Untuk apa?” "Untuk selalu menjadi teman yang baik bagi Tomo dan juga menjadi kakak keduaku." Mata gadis itu terlihat sedikit basah. "Ada apa, Sin?" tanya Bima khawatir. Ia menyentuh tangan gadis yang biasanya selalu tersenyum riang itu. "Apa ada yang sakit?” Sinta menggelengkan kepalanya kuat. "Tidak, aku hanya sedang merasa terharu. Kenapa kau begitu bodoh harus menanyakannya?" Bima terkekeh mendengar ucapan Sinta . la lalu merangkulkan sebelah tangannya dan mengusap lengan gadis itu lembut. "Sama-sama, Sin." Sinta menyandarkan kepalanya ke d**a Bima dan balas merangkuJ pria itu sejenak sebelum akhimya melepaskan rangkulan mereka. "Ayo!" seru Utomo ketika pria itu kembali. Bima langsung meraih tas berpergian Sinta dan membawanya sementara Utomo mengalungkan tangan Sinta pada lengannya. Bertiga, mereka berjalan beriringan keluar dari rumah sakit dan pulang menuju kediaman Utomo bersaudara. Sesampainya di rumah Utomo, mereka memesan pizza untuk makan siang dan Bima menghabiskan waktunya selama beberapa jam di sana. Baru setelah pukul sembilan malam Bima akhimya pulang ke apartemennya sendiri. Saat ia memarkirkan mobil di basement, ia melihat Winda yang baru saja kcmbali dan keluar dari mobiJnya sendiri. Bima mengerutkan kening bingung. Walaupun terdengar seperti penguntit, Bima tahu bahwa Winda hanya memiliki dua kelas hari ini dan seharus nya sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu . Dari jenis pakaian formal yang dikenakan Winda, Bima tahu bahwa dosennya belum pulang sama sekali dan langsung pergi ke tempat lain setelah kelas yang diajarnya selesai sore tadi. Wanita itu terlihat lelah dan putus asa. Sekilas ia melihat Winda mengelap matanya sendiri. Apakah dosen killer-nya sedang menangis? Yang benar saja! Buru-buru Bima keluar dari mobilnya sendiri dan berlari mengejar Winda yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam gedung. "Profesor!" seru Bima. Wanita itu tidak menghiraukannya dan berdiri menghadap pintu lift dan menunggu. Bima tahu Winda mendengarnya karena sekilas ia dapat melihat perubahan tubuh Winda yang menjadi kaku saat ia memanggilnya. "Apa Anda baru pulang?” tanya Bima berbasa-basi sambil berdiri di sampingnya. Winda tidak menoleh dan memandang ke layar digital di atas pintu lift. "Apa yang kau inginkan, Bima?” dingin tanyanya. Mulut Bima terbuka sedikit. la tahu bahwa biasanya Winda selalu bersikap dingin dan datar, namun kali ini ia dapat menangkap sesuatu yang berbeda dari nada ucapan wanita itu. "Apakah terjadi sesuatu, Profesor?” tanya Bima ragu-ragu. la ingin tahu apa yang membuat suasana hati Profesornya menjadi seperti ini namun ia juga tidak ingin dikatakan suka ikut campur. Winda tiba-tiba tertawa dingin dan menoleh ke arahnya. Bima kaget ketika mendengarnya dan lebih terkejut lagi saat melihat sepasang mata di balik kaca mata itu memandangnya dengan kedinginan yang belum pernah ditunjukkannya. "Tidak perlu bersikap manis, Bima,” ucap Winda sinis. "Sudah cukup permainanmu. Katakan, apakah kau belum puas memanfaatkanku?" "Apa? Aku tidak pernah memanfaatkanmu, Profesor." Winda mendengus tidak percaya. "Kau sama saja dengan kedua orangtuaku, selalu memanfaatkanku untuk kepentingan pribadi. Well, mereka juga selalu lupa ketika melakukannya.” Bima banya bisa mengerutkan dahinya bingung. Ucapan yang keluar dari bibir Winda lebih terdengar seakan wanita itu sedang mengeluh kepada dirinya sendiri. Namun Bima tidak bisa melewatkan kemarahan dan kepahitan yang tersirat dalam perkataan Winda. Apa yang sudah teejadi dalam kurun waktu kurang dari dua belas jam? Pintu lift kemudian terbuka dan Winda melangkah masuk ke dalam. Wanita itu memandang Bima dingin dan berkata, "Selamat malam, Bima." Ucapan wanita itu secara tidak langsung menyuruh Bima untuk tidak menaiki lift yang sama. Bima mengepalkan tangannya. la tidak bergerak dari posisinya dan melihat pintu lift yang menutup dengan Winda yang berada di dalam nya. Winda membanting pintu apartemennya dengan kencang dan langsung terduduk di lantai.. Ia menopang kedua tangannya di atas lutut dan mengusap kedua pelipis nya sambil bersandar di daun pintu. la lelah dan marah. Setelah semua hal yang terjadi di hidupnya, ini adalah pukulan tertelak yaug pernah di hadapinya. Winda tahu bahwa ibunya selalu bersikap sinis kepadanya dan ayahnya lebih memilih untuk menutup mata akan apa yang terjadi di antara dirinya dan Sonya. Tapi ia tidak pernah berpikir bahwa ada hal yang lebih buruk yang dapat menimpanya. Sore tadi Sonya tiba-tiba saja menghubunginya dan memintanya untuk datang ke rumah. la seharusnya ia tidak memenuhi panggilan Sonya dan belajar bahwa tidak pernah ada hal baik yang akan terjadi jika itu sudah menyangkut diri Sonya, dan Winda dengan polosnya pergi menemui orangtuanya. “Apa pendapatmu tentang Frans dan James?" tanya Sonya sore tadi ketika dirinya sampai ke rumah mereka. "Frans dan James? Kedua pebisnis yang kau undang untuk makan malam?" Sonya mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil. "Tentu saja, siapa lagi jika bukan mereka?" "Well, mereka oke kurasa. Apakah mereka calon yang akan mendanai penelitianmu kali ini?" Sonya mengangguk dan tersenyum. Senyum yang memberi tahu Winda bahwa ia tidak akan suka mendengar perkataan Sonya berikutnya. “Kita sedang memberikan proposal investasi kepada mereka," ucap Sonya. "Kita? Maksudmu kau dan aku?" "Dan ayahmu tentunya." Winda mengerutkan keningnya. “Apa yang sedang kau rencanakan?” “Aku ingin kau menikah dengan salah seorang dari mereka," jawab Sonya lantang. Wanita itu masih tersenyum setelah mengucapkan hal yang kekonyolan terbesar abad ini sedangkan Winda mengepalkan tangannya erat-erat. Tidak peduli seberapa besar Winda berharap bahwa Sonya tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, ia terlalu mengenal Sonya. "Kau gila!" teriak Winda. la sudah terlalu marah untuk dapat meredakan suaranya. "Umur mereka bahkan lebih tua dari Ayah!” "Mereka memang sedikit tua namun tidak ada larangan yang mengatakan bahwa kalian tidak boleh menikah hanya karena perbedaan usia yang jauh." "Dan kenapa aku harus menikah dengan mereka?" Tanya Winda sambil menggertakkan giginya. la bersusah payah menahan amarahnya agar tidak melakukan hal yang akan disesalinya nanti. “Kau tahu bahwa penelitianku ini membutubkan dana besar, bukan?” Sonya tidak membutuhkan Winda untuk menjawab pertanyaannya dan lanjut berkata, "Penelitian ini terlalu penting untuk gagal. Aku membutuhkan salah satu dari mereka untuk menyuntikkan dana, dan karena James sedang mencari seorang istri dan Frans sudah melewati dua tahun semenjak ditinggal istrinya, aku rasa merupakan keputusan brilian jika kau menikah dengan salah satu dari mereka dan membujuknya untuk bergabung dalam riset ini. Winda mengeleng. "Aku yakin jika hanya itu tujuanmu, tidak perlu sampai ada pernikahan, bukan?” Sonya menghela napasnya bosan. "Tentu saja tidak. Dengan pernikahan, kerja sama kita akan lebih kuat,” jawab Sonya. "Apa?” "Kau mendengarku. Apa yang akan kita teliti sangat penting dan aku tidak mau mengambil risiko bahwa hal itu akan gagal karena hubungan yang retak. Jika kau menikah dengan salah satu dari mereka, itu akan menjadi jaminan kuat bagiku dan ayahmu. Lagipula, jika bukan dengan pernikahan, apa yang bisa kau perbuat? Kau terlalu kaku tanpa memiliki daya tarik sebagai wanita simpanan, jadi kurasa setidaknya kau pantas untuk menjadi seorang istri." Seharusnya Winda merasa tersinggung dan sakit hati karena ucapan Sonya yang merendahkannya. Seharusnya, namun Winda tidak merasakannya, ia tidak memiliki energi untuk meluapkan amarahnya lagi. Winda tahu saat itu bahwa Sonya sudah terlalu terobsesi dengan apa pun yang ada dipikiran wanita itu. la bahkan tidak bisa lagi merasakan kasihan pada Sonya karena tidak memiliki hati. "Tidak," ucap Winda. "Kau gila jika berpikir aku akan menurutimu.” Senyum Sonya turun dan matanya mendelik penuh kekesalan pada Winda. "Tidak bisakah kau menjadi anak yang berguna barang sekali saja, Winda?" Winda ingin tertawa mendengarnya. la bukan boneka yang bisa dimainkan oleh orang tuanya ketika hati dan dimanfaatkan kapan pun mereka mau. la tidak tahu apa yang ada di pikiran Tuhan ketika memberikannya pada sepasang manusia yang tidak mengerti arti menjadi orangtua. Winda keluar dari kediaman orangtua nya. Cukup sudah usahanya selama ini untuk menjadi anak yang berbakti dan mencoba untuk menyadarkan orang tua nya bahwa ia adalah manusia dan masih merupakan putri mereka. Cukup sudah. Memijat tulang diantara kedua matanya, Winda menghela napas. Hatinya seharusnya sudah kebal dengan semua drama Sonya dan Jeff, namun entah kenapa ia dapat merasakan sebuah lubang menganga di sana. Tidak peduli bagaimanapun sifat Sonya dan Jeff, mereka masihlah orangtuanya dan Winda tidak pernah mengharapkan hal lain selain diterima oleh orangtuanya apa adanya. "Tidak ada yang akan menerimamu apa  ada nya, Win. Kapan kau akan belajar?" gumamnya kepada diri sendiri. Bagaimana mungkin Sonya dan Jeff akan dapat menerimanya jika muridnya sendiri bahkan bisa mempermainkan dan memanfaatkannya? Winda harus mulai menerima kenyataan pahit bahwa sepertinya ia memang bernasib jelek.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN