Hasrat yang Tertahan

2766 Kata
Bima!" teriak seseorang di telinganya. Bima menoleh ke arah sumber suara, seorang gadis dengan pakaian terbuka dan dandanan menor yang menutupi wajah cantiknya. Untuk sesaat, Bima lupa dengan keberadaanya dan siapa sosok yang sudah duduk merapat di sampingnya itu. “Kau melamun sedari tadi. Ada apa?" tanya Amanda. Ya, Bima ingat sekarang. Gadis ini bemama Amanda dan ia adalah salah satu gadis yang sesekali ikut berkumpul dengannya dan teman-temannya. Selain itu, Bima ingat bahwa mereka pernah tidur bersama satu kali beberapa bulan yang lalu. "Nothing.” jawab Bima sambil menaikkan bahunya lalu kembali menegak alkohol yang sedari tadi ada di dalam genggamannya. Pikirannya sedang melayang ke Winda beberapa saat yang lalu, sebelum Amanda datang dan memanggilnya. Panggilan Amanda menyadarkannya bahwa ia seharusnya melupakan Winda malam ini dan bersenang-senang. Setelah Bima kembali ke apartemennya tadi, ia langsung menerima panggilan dari Bobby yang mengajaknya untuk clubbing. Bobby adalah salah satu temannya dan pria itu selalu clubbing hampir setiap minggu nya. Sesekali Bima akan menerima ajakan Bobby jika sedang merasa ingin bersenang-senang. Namun malam ini, ia datang dengan tujuan untuk mengenyahkan Winda dari otaknya karena menurut Bima ia sudah. menghabiskan cukup banyak waktu dalam memikirkan dosen nya itu. "Kau terlihat memiliki banyak pikiran, Bima," ucap Harris yang duduk di sampingnya sambil memangku teman kencannya yang terbaru. "Yeah, kau tidak seperti biasanya," timpal Bobby. Pria itu pun sedang sibuk digelayuti oleh salah satu gadis klub. Bima tidak menjawab mereka malah bertanya, "Siapa Iagi yang akan bergabung dengan kita malam ini?" Bobby menaikkan alisnya sangat menyadari bahwa Bima tidak berniat untuk berkomentar tentang ucapannya dan Harris. Dengan bijak ia menjawab, "Jim dan Morgan sedang dalam perjalanan." "Dan Thalia tentunya," tambah Harris sambil mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah seorang gadis yang sedang berjalan ke tempat mereka. "Halo, semuanya!" seru Thalia ketika ia sampai dan tanpa ragu mengambil botol minuman yang berada dalam genggaman Harris. "Hei, itu" Harris tidak melanjutkan protesnya lagi karena Thalia sudah meneguk minumannya. "Sama-sama," ucapnya kesal sementara teman kencannya hanya terkikik melihat ekspresi Harris. Thalia meletakkan botol minuman tersebut di atas meja dan mendesah lega. "Maaf, aku sangat membutuhkan minum malam ini.” "Kalau begitu aku akan menambah minuman kita," ujar Amanda sambil mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan klub. "Trims, Mandy," gumam Thalia. Wanita itu kemudian menoleh pada Bima yang duduk bersandar dengan ekspresi bosan. "Ada apa dengan wajahmu itu, Bima?" "Biarkan saja dia, Thalia.” ucap Bobby. "la sedang banyak pikiran sepertinya." Thalia melirik Bobby dan Harris yang mengangguk. "Dan apa itu, jika aku boleh tahu?" tanyanya dengan tatapan menyelidik kepada Bima. "Bukan urusanmu, Thalia," jawab Bima kembali meneguk minumannya. Thalia berkacak pinggang dan meraih pergelangan tangan Bima dengan sebelah tangannya yang bebas. "Oke. Kalau begitu kau harus berdansa denganku." "Aku sedang tidak ingin berdansa," tolak Bima halus. "Aku tidak akan mengizinkanmu untuk duduk tanpa bersenang-senang, Bima," ucapnya lagi. "After all, aku yakin tujuanmu datang ke sini adalah untuk melupakan apa pun masalahmu itu, bukan?" Bima membalas tatapan Thalia. Gadis itu menaikkan kedua alisnya dan menantang Bima untuk membantah ucapannya. Tahu bahwa tebakannya benar, Thalia mulai menarik lembut lengan Bima dan memaksanya berdiri. Dengan setengah hati Bima meletakkan botol minumannya di atas meja dan berdiri menuruti keinginan Thalia. Gadis itu mulai menariknya menuruni lantai dansa dan menyeruak di antara kerumunan orang yang sedang berdansa. Thalia mulai bergoyang mengikuti irama musik yang kencang dan berdansa di hadapannya. Bima dengan terpaksa ikut bergoyang menemani Thalia karena ia tidak mau terlihat konyol hanya berdiri di sana tanpa bergerak sedikit pun. Tangan Thalia mulai menyentuh d**a Bima dan mendekatkan tubuh mereka terhadap satu sama lain. Dengan setiap gerakan tubuhnya yang menggoda, Thalia berdansa semakin berani dan semakin dekat ke tubuh Bima. Gadis itu tidak ragu sama sekali menggoyangkan tubuh moleknya dengan gerakan yang memprovokasi Bima. Bima tahu bahwa Thalia sudah tertarik padanya sejak pertama kali mereka berkenalan dan semakin lama semakin berani menggoda dirinya. Alasan utama Bima tidak pemah menerima tawaran Thalia yang sangat terus terang adalah karena gadis itu memiliki ketertarikan khusus terhadapnya dan itu akan menjadi sangat merepotkan jika Bima sampai tidur dengan Thalia. Bima tidak ingin gadis itu berpikir bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih . Setelah  dua lagu bertempo cepat, tiba-tiba saja  DJ memainkan lagu dengan tempo yang cukup lamban. Thalia dengan berani menarik kedua tangan Bima dan meletakkannya di pinggulnya. Gadis itu juga mengalungkan kedua lengannya pada pundak Bima dan melekatkan tubuhnya pada tubuh Bima. "Kau bersenang-senang?" tanya Thalia. Tidak, Bima sama sekali tidak merasakan senang saat ini dan hanya tersenyum masam kepada gadis itu. la sebenamya lebih memilih untuk kembali ke tempat duduknya dan meminum cairan yang dapat mengalihkan pikirannya dari Winda, namun ia malah mendapatkan Thalia bergelayutan padanya. “Aku akan membuatmu bersenang-senang, Bima. Aku pastikan itu," ucap Thalia dengan rasa penuh percaya diri . Gadis itu semakin menekankan tubuhnya dan dengan sengaja menekan s**********n Bima dengan pinggulnya. Bima dapat merasakan bahwa gadis itu menambah tekanan  dengan alunan lagu klub dan tidak mencoba untuk menghentikannya. Ia ingin mencoba melihat sejauh mana ia akan membiarkan Thalia beraksi. Tangan Thalia mulai bergeser melingkari lehemya dan mengelus anak-anak rambut yang tumbuh di tengkuk Bima dengan jemarinya. Gerakkan malas jemari Thalia memang diperuntukkan untuk menggoda pria, belum lagi bentuk tubuh menggiurkan yang hanya dibalut mini dress ketat berwarna merah. Tidak adanya penolakan dari Bima membuat Thalia menjadi semakin percaya diri. Ia mendekatkan wajahnya pada leher Bima dan berbisik, "Bagaimana jika kita keluar dari tempat ini?” "Ke mana?" tanya Bima balik. Thalia menyunggingkan senyum menggoda yang pastinya sudah akan membuat pria lain melayang namun tidak dengan Bima. la terlalu mengenal Thalia dan bagaimana cara berpikir gadis ini. Membiarkan Thalia menariknya, Bima mengikuti langkah Thalia yang membawanya menuju pintu belakang klub. Begitu mereka menginjakkan kaki mereka ke luar, yang merupakan gang kecil dan gelap, Thalia langsung mendorong tubuh Bima ke tembok dan mulai melumat bibir pria itu. Lidah gadis itu menyeruak masuk dengan berani dan Bima belum berniat untuk menghentikan aksi Thalia meskipun ia ragu bahwa dirinya menikmati sentuhan yang diberikan oleh Thalia. la membiarkan Thalia melumat bibirnya dan menelusuri rahang dan lehernya dengan bibir yang bersemangat dalam menjalankan aksinya itu, karena Bima penasaran apakah ia akan bereaksi sama terhadap Thalia seperti bagaimana tubuh dan pikirannya bereaksi terhadap Winda. Lidah Thalia mulai mengecap leher dan jakunnya sedangkan tangan gadis itu mulai turun menjelajahi tubuh Bima dan mengusap selangkangannya yang masih dilapisi celana jeans tua favoritnya. Thalia menarik kepalanya dari ceruk leher Bima saat menyadari bahwa tubuh Bima tidak bereaksi di bawah sentuhannya. la memandang Bima dengan sebelah alis terangkat karena tidak memercayai bahwa pria ini tidak tergoda dengan aksinya barusan. Merasa tertantang, Thalia melepaskan kait celana Bima dan menurunkan zipper-nya. Ia langsung menyelipkan tangannya yang terasa dingin karena udara malam dan menyentuh tubuh Bima di sana. la mengusapnya beberapa kali dan tersenyum miring saat merasakan bagian tersebut memberikan reaksi meskipun hanya sedikit. "Lepaskan kemejamu," perintah T halia.   Bima menuruti gadis itu dan melepaskan kemeja kotak­kotak yang dikenakannya sebagai outter yang dipadu dengan T-shirt hitam di baliknya dan menyerahkannya pada gadis itu. Menerima kemeja Bima, Thalia menjatuhkannya ke aspal kotor di antara tubuh mereka dan tanpa ragu-ragu langsung berlutut di atas kemeja tersebut. Bima melihat bagaimana gadis itu dengan bersemangat menurunkan celananya sedikit dan memulai aksinya di area sensitif Bima, memberikan upaya besar untuk menggoda tubuh Bima agar bereaksi terhadap keahliannya. Bima tidak dapat menahan tubuhnya untuk tidak memberikan reaksi apapun, tapi ia tidak menikmatinya sama sekali. Rasa mulut dan lidah yang hangat di bagian terintim tubuhnya malah terasa sangat salah dan Bima tidak bisa mengeyahkan sosok Winda dari kepala nya. "Berhenti.” ucap Bima sambil mendorong lembut kepala Thalia. Gadis itu tidak menghiraukannya dan malah bergerak semakin jadi. Dengan kesal Bima mendorong tubuh gadis itu sedikit lebih kencang dan mengancingkan kembali celananya. Thalia yang didorong oleh Bima, terduduk di atas aspal yang kotor dan memandang pria itu dengan tatapan tidak percaya. “Apa-apaan?!" tanyanya marah. "Aku sedang tidak ingin bermain denganmu, Thalia,” jawab Bima malas. la tidak peduli apakah Thalia marah ataupun tidak. "What?!” Thalia setengah berteriak sambil bangkit berdiri dan menepuk pakaiannya yang kotor. La merasa terhina karena Bima menolaknya, padahal je las-jelas pria itu sudah mulai terangsang karena aksinya. "Kau mendengarku, aku tidak tertarik untuk bemain denganmu." "b******n!" maki Thalia sambil menampar wajah Bima. Gadis itu dengan kesal kembali berjalan masuk ke dalam klub dan membanting pintu di belakangnya, meninggalkan Bima yang hanya bisa mengelus pipinya yang terasa panas karena tamparan Thalia. Menghela napasnya, Bima mengambil kemejanya dan mengibaskannya kencang untuk melepaskan debu dan kerikiI yang menempel pada kain tersebut. Di saat seperti ini, Bima selalu berharap bahwa ia adalah seorang perokok dan bisa melampiaskan rasa frustasinya dengan cara menghisap tembakau, namun sayangnya tidak. Bima lalu beranjak dari sana dan masuk ke dalam klub. Ia mencari jalannya menuju meja dimana teman-temannya masih sedang berkumpul dan menikmati minuman mereka. Bima dapat melihat bahwa Jim dan Morgan baru saja bergabung bersama mereka. Thalia, yang sekarang duduk di samping  tubuh Jim, memberikan tatapan membunuh ke arahnya. Gadis itu kemudian memalingkan wajahnya dan mulai menggoda Jim, yang dengan senang hati menerima rayuan tersebut. Tidak butuh waktu lama hingga bibir Thalia yang tadi sedang mencumbu Bima mulai saling melumat dengan bibir Jim. Jika gadis itu berpikir bisa mernbuat Bima cemburu atau hanya sekadar menunjukkan pada Bima apa yang terlewatkan olehnya ketika ia menolak gadis itu, maka Thalia salah besar. Bima sama sekali tidak peduli dan malah kasihan kepada Jim yang dimanfaatkan oleh ThaJia . “Aku akan pergi lebih dulu,” ucap Bima. Morgan memandanganya dengan tatapan tidak setuju. "Aku dan Jim baru sampai dan kau sudah mau pergi? Apakah kau ingin ditertawakan oleh kasurmu sendiri?" Bima berdecak dan tersenyum. "Sorry, man," ucapnya. "Aku hanya sedang tidak dalam suasana hati ingin bersenang-senang.” Bobby dan Harris mulai ikut memprotes dan Jim masih hanyut dalam cumbuannya dengan Thalia. "Kau tidak asik, Bima," komentar Harris. "Tidak ada yang meninggalkan klub sebelum hari berganti, buddy." "Ya, benar,” timpal Bobby dan Morgan hampir bersamaan. "Aku akan jadi yang pertama kalau begitu,” jawab Bima. la mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya ke atas meja. "See you on Monday," ucap Bima lalu berlalu dari sana. Bima melambaikan tangannya tanpa menoleh ketika teman-temannya mulai berseru dalam waktu bersamaan. Mengendarai motornya, Bima memutuskan untuk pulang ke apartemennya. Bukan, apartemcn Winda lebih tepatnya. Bersentuhan dengan Thalia tadi membuatnya ingin cepat­cepat membersihkan tubuh dan merasakan tubuh Winda lagi. Ia harap dosennya itu menurut dan tidak mengganti password apartemennya. Bunyi kunci yang terbuka membuat Bima tersenyum. la senang karena Winda tidak mengubah kunci apartemennya dan menghemat tenaga mereka berdua karena Bima tidak perlu mengorek password baru dari bibir Winda. Masuk ke dalam kediaman Winda, Bima tidak repot­repot menyalakan lampu ruangan tersebut. la langsung berjalan menuju kamar wanita itu dan melihat Winda yang sudah terlelap hanya dengan penerangan lampu tidur wanita itu yang remang-remang. Bima melirik jam tangannya dan melihat bahwa waktu menunjukkan pukul setengah satu pagi. Dosennya itu pasti baru tidur selama beberapa jam dan sayangnya Bima dengan terpaksa harus menganggu tidumya yang lelap. la mulai melepaskan pakaiannya sambil berjalan menuju sisi ranjang Winda yang kosong. Sepertinya Winda memiliki kebiasaan untuk tidur di sisi kanan ranjang dan Bima harus mulai membiasakan diri untuk tidur di sisi kiri meskipun itu bukan sisi kesukaannya. Dengan pelan Bima menaiki ranjang dan menyelinap ke balik selimut yang menutupi setengah tubuh Winda. Matanya menjelajahi bagian tubuh profesornya yang terbuka karena Winda hanya mengenakan kamisol tipis sebagai busana tidurnya. Bima tidak sabar untuk mengintip celana seperti apa yang dikenakan oleh Winda di balik selimut ini. Menopangkan tubuhnya dengan siku kanannya, Bima mengamati wajah polos Winda dan mengerutkan kening. Ia menangkap lingkaran mata Winda dan bagaimana sepasang mata yang tertutup tersebut terlihat sedikit bengkak. Apakah dosennya ini habis menangis? Berpikir demikian, Bima menjadi tidak tega untuk menganggu tidur Winda. la menggulingkan tubuh dan berbaring terlentang menatap langit-langit kamar Winda dan menghela napas. Bagian tubuh bawahnya sudah berdenyut minta dipuaskan hanya dengan memandang Winda yang tertidur lelap. Sangat bertolak belakang dengan reaksinya terhadap serangan Thalia tadi. Jika ini tidak mengatakan dengan Iantang apa yang sedang terjadi, sepertinya Bima harus melepaskan beasiswanya karena itu artinya ia bodoh. la tertarik terhadap dosennya sendiri. Sungguh ironis, dia tidak serius dengan satu pun wanita yang seumuran dengannya, ia harus terpikat kepada dosen yang lebih tua tiga tahun darinya. Terlebih lagi, dosen dingin yang sama sekali belum berpangalaman dengan pria. Bima tidak yakin apakah ia ingin menjadi yang pertama bagi Winda karena biasanya cinta pertama selalu pupus. Apa? Apakah ia baru saja mengatakan cinta pertama? Damn! Otaknya sepertinya mulai konslet. la jelas tidak ingin menjadi cinta pertama dari profesornya. Bukankah begitu? Ya, harus begitu. Menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, Bima beranjak menuju kamar mandi. Ia butuh mandi air dingin untuk mendinginkan kepalanya dan juga tubuhnya. Sedikit menyedihkan karena ia harus menyia-nyiakan tubuhnya yang prima dengan mandi air dingin, alih-alih mengambil tubuh Winda dan menikmatinya. Tiga puluh menit kemudian, Bima keluar dari kamar mandi dengan handuk warna pastel milik Winda yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Tanpa repot-repot mengenakan celananya kembali, Bima menyelinap ke balik selimut dan menarik tubuh Winda ke dalam rangkulannya. la menempelkan bagian depan tubuhnya ke punggung Winda dan menopangkan dagunya di atas pundak wanita itu. Winda sama sekali tidak bereaksi dan masih lelap dalam tidurnya, membuat Bima tersenyum kecil karena temyata wanita ini tidur seperti mayat. Bima menyibakkan rambut wanita itu dan melihat bekas ciuman yang ditinggalkannya kemarin sudah berubah menjadi merah kehitaman . Sebcnarnya ia ingin meninggalkan lebih banyak lagi ciuman di leher wanita ini namun ia masih bisa memikirkan kesulitan yang akan dihadapi oleh Winda jika sampai kissmark-nya terlihat oleh orang lain. Mengecup pundak Winda sekilas, Bima menyelipkan tangannya ke dalam kamisol Winda dan bersentuhan langsung dengan p******a wanita itu. la senang karena Winda tidak mengenakan bra saat tidur, memudahkannya untuk menjelajahi tubuh wanita ini. Sedikit bereksperimen, Bima meremas p******a Winda lembut dan menggoda puncaknya dengan ibu jari dan telunjuk. la tidak menahan seringainya ketika dirasakannya puncak p******a Winda bereaksi dan mulai mengeras. Dimainkannya bagian tersebut selama beberapa menit sebelum tangan Bima bergerak menuruni perut datar Winda dan menyentuh celana dalamnya. Winda hanya mengenakan kamisol tipis dan celana dalam katun ketika sedang tidur, sepertinya. Bima tidak keberatan tapi ia akan mengajarkan wanita ini untuk memakai lingerie saat tidur. Mengusap bukit kewanitaan Winda seketika langsung membangkitkan hasrat Bima. la dapat merasakan kejantanannya yang mengeras dan menekan b****g kenyal Winda. Wanita ini akan shock jika sadar dan bisa merasakan bukti hasrat Bima sekarang. Berusaha menahan diri, Bima melepaskan sentuhannya pada tubuh Winda dan berguling menjauh. la menghela napas berat merasakan bagian tubuhnya yang berdenyut dan menuntut pelepasan. "Next time, buddy," bisiknya pada bagian tubuhnya yang berdenyut. Ini bukan malam keberuntunganmu." Bima mencoba dengan sangat keras untuk mengalihkan pikirannya dari tubuh hangat yang berbaring di sebelahnya. la mulai memikirkan rumus-rumus Fisika di kepalanya dan menghitung domba agar kantuk menghampirinya. Usahanya lumayan berhasil karena Bima dapat merasakan bahwa bagian bawah tubuhnya sudah kembali ke ukuran semula. Mengehela napas, ia memejamkan matanya untuk tidur. Tapi tiba tiba, Winda bergerak dan membalikkan badannya. Tangan wanita itu menimpa di dadanya dan kaki Winda melintang di perut bawahnya, membawa Bima kembali sadar akan tubuh wanita disampingnya ini. "Sial," desisnya kesal. Menolehkan kepalanya, Bima melihat puncak kepala dosennya yang bersandar di pundaknya. Wanita ini memang sengaja ingin menyiksa Bima sepertinya karena sekarang aroma shampo Winda mulai menari dan menggoda indera penciuman Bima. “Anda memang sengaja ingin menggodaku, bukan?” tanya Bima pada Winda. Wanita itu jelas tidak menjawabnya. Bima menggeleng dan mendesah. "Aku menyerah untuk bersikap sopan, Profesor." Bima mengangkat tangannya dan merangkulkannya ke pundak Winda. Dengan lembut ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya, merasakan gundukkan lembut Winda menekan sisi tubuhnya. Menggertakkan gigi, Bima berusaha mati-matian untuk tidak memanfaatkan Winda di saat wanita ini tidur tak sadarkan diri. Ia harap resolusinya dalam menjadi seorang pria sejati bertahan hingga besok pagi. Bima kembali memikirkan rumus-rumus Fisika dan menghitung domba di kepalanya untuk mengalihkan pikirannya sekali lagi. Namun kali ini usahanya gagaI karena ia dapat melihat betapa tinggi benda yang terbentuk di atas selangkangannya. Winda saat-saat itu untuk bergerak dan tanpa sengaja menyenggol benda keras nan sensitif tersebut, membuat Bima menggerang karena merasa tersiksa. la kemudian melirik kepala Winda yang masih bersandar di d**a nya. "Persetan," umpatnya samil menggulingkan tubuh mereka. Tubuh Winda sudah berada di bawahnya sekarang dan tidak ada selimut yang menutupi tubuh mereka. Mata Bima menjelajah dari puncak kepala hingga ke ujung kaki Winda, melahapnya dengan tatapan lapar dan penuh nafsu. Menyerukkan kepalanya di antara bahu dan leher Winda, Bima menghirup aroma tubuh Winda yang menggoda. la mulai mencium rahang dan leher wanita itu. Tanggannya pun tidak tinggal diam dan mulai meremas kedua bukit kembar Winda. "Umm…” Winda mengeluarkan gumaman kecil. Kedua alis Winda mengkerut seolah merasa terganggu dengan aksi Bima meskipun kamisol gadis itu mencetak kedua puncak payudaranya yang mencuat indah. Tangan Bima bergeser turun sekali lagi dan mengusap kewanitaan lembut Winda. Dengan kedua lututnya, Bima membuka paha wanita itu dan berlutut di antaranya. la mengelus tubuh Winda dan mencumbunya selama beberapa saat sebelum berhenti secara tiba-tiba. Dada Bima kembang kempis berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan dan kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Bima mengumpat dalam hati kemudian beranjak dari sana. Dengan kesal ia kembali menyelimuti tubuh Winda kemudian meraih celana jeans-nya dan mengenakannya kembali. la memutuskan untuk tidur di sofa ruang tamu Winda saja karena tidak mungkin ia bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN