Apakah Aku Cemburu?

2190 Kata
Bima mendengar suara pintu kamar yang dibuka dan membangunkannya dari tidur. Membuka mata, Bima melihat Jangit-langit dan ingat bahwa ia sedang berada di ruang tamu kediaman Winda. Dengan kedua sikunya, Bima menopang tubuh bagian atasnya dan melihat ke arah pintu kamar Winda. Wanita itu baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan samhil mengusap matanya yang masih mengantuk. Sepertinya Winda tidak melihat Bima karena langsung berjalan melewati ruang tamu menuju dapurnya yang mungil. Bima bangkit duduk dan menoleh ke balik sandaran sofa agar ia dapat melihat Winda dengan lebih jelas. Wanita itu bertelanjang kaki dan hanya mengenakan kamisolnya dan celana dalam berwarna abu-abu, terlihat santai bersandar pada kitchen isle sambil menunggu mesin pembuat kopinya berhenti bekerja. Pria itu lalu tersenyum, melihat bagaimana Winda menguap beberapa kali. Wajah polosnya tanpa riasan terlihat cantik pagi ini dan Bima tidak dapat menahan dirinya untuk tidak melahap Winda dengan tatapannya. Ia menikmati bentuk tubuh Winda dari jauh, tidak pemah menyadari seberapa jenjang kaki wanita itu dan bahwa Winda memiliki pinggul yang menggoda. Dengan pinggang berukuran kecil dan p******a berukuran proposional, tubuh Winda sungguh menggugah hasratnya, Meninggalkan permukaan sofa yang empuk Bima berjalan mendekati Winda yang berdiri memunggunginya, Wanita itu mengangkat tangannya untuk memgambil cangkir yang berada di dalam lemari, membuat pakaian yang dikenakannya tertarik dan menunjukkan punggung bawahnya yang seksi. "Nice view," komentar Bima sambil mengusap dagunya bak pria tua m***m yang sedang menilai wanita nya. Winda terkesiap mendengar suara seseorang di baliknya dan memutar tubuh cepat. la hampir saja menjatuhkan cangkir kaca yang berada dalam genggamannya karena terlalu terkejut. "Good morning, Profesor," ucap Bima setelah Winda menatapnya... Boleh aku meminta kopimu?" “Sejak kapan kau ada di sini?!" tanya Winda terkejut. "Hm, di dapurmu? Atau di apartemenmu?” Winda menyipitkan matanya kesal "Kau tahu apa maksudku, Bima." Bima tersenyum dan berjalan mendekati Winda, tidak berhenti hingga tubuh mereka berdiri terlalu dekat sehingga membuat Winda mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi agar dapat melihat wajah Bima. “Apakah Anda sadar bahwa sekarang Anda lebih ekspresif ketika bersama denganku?" tanya Bima. Winda mengerutkan keningnya. "Dengar, Bima." "Bima,” potong Bima. "Panggil aku Bima. Bukankah sudah tidak pantas jika kita terlalu formal terhadap salu sama lain sekarang?" Winda mengatupkan giginya rapat rapat. "Bima.” Kali ini ucapan Winda terputus karena pria itu tiba-tiba merebut cangkir yang berada dalam genggamannya. Tanpa rasa malu, Bima mengisi cangkir tersebut dari mesin pembuat kopi yang berada di balik tubuh Winda tanpa membiarkan Winda menyingkir dari posisinya. Winda tertegun memandang pundak lebar dan d**a telanjang di hadapannya. Bagaimana bisa hanya dengan mengisi secangkir kopi, otot-otot pria itu ikut bergerak di depan matanya? Bima tidak menyembunyikan senyumnya saat ia melirik ke bawah dan melihat ekspresi tertegun Winda. Dengan sengaja ia menopangkan sebelah tangannya yang bebas ke atas konter dapur dan memenjarakan tubuh Winda. Mengangkat cangkir kopi ke bibimya, Bima menyeruput cairan hitam tersebut dengan pelan sambil memperhatikan tatapan Winda yang turun memandang tubuhnya. Wanita itu tampak malu-malu mencuri pandang dan mulai menjelajahi tubuhnya dengan mata. Tatapan Winda lalu naik menuju pundak dan leher Bima. Bima mengerutkan kening bingung saat menyadari raut wajah Winda yang berubah kembali menjadi dingin. Dengan satu sentakan, Winda mendorong tubuh Bima lalu melangkah keluar dari kungkungan tangannya. "Jika kau sudah selesai meminum kopimu, kuharap kau segera angkat kaki dari tempat ini," ucap Winda sambil memunggunginya. Bima meletakkan cangkir kopinya ke atas konter dan menarik lengan Winda, mencoba untuk memutar tubuh wanita itu agar melihatnya. Tapi Winda tidak sedang ingin disentuh oleh Bima sehingga langsung menampik tangan pria itu dan melangkah menjauh. "Aku bukan mainanmu, Bima," desis Winda. Kedua tangan wanita itu terkepal di sisi tubuhnya dan Bima dapat melihat bahwa tubuh Winda sedikit bergetar menahan amarahnya. "Berhentilah mempemainkanku.” lanjutnya lagi. "Aku tidak senang mempermainkanmu, Winda," kilah Bima. Pria itu berjalan mendekat dan Winda melangkah menghindarinya. "Lalu, kau sebut apa perlakuanmu kepadaku?" tanya Winda tanpa berusaha menyembunyikan kemarahannya. "Merayumu? Menggodamu? Mendekatimu?" jawab Bima. Winda mendengus dan tersenyum sinis memandangnya. “Jangan bercanda, kau membuatku mual mendengarnya!" Bima mengerutkan keningnya dalam. "Kenapa? Apa kau tidak merasakan ketulusanku?" tanya Bima membuang semua formalitasnya. "Jangan membohongi dirimu sendiri, Bima. Kau jelas­jelas mempermainkanku, memanfaatkan kepolosanku untuk kesenanganmu sendiri. Katakan, apakah kau berpuas diri meruntuhkan semua kendali diriku dan membuatku malu kepada diriku sendiri?!" "Apa?" "Kau tahu apa yang kumaksud! Winda Kirana, perawan tua yang tidak pernah memiliki kekasih dan kau mempermainkanku untuk menunjukkan kepada dunia bahwa aku perawan tua yang haus akan sentuhan laki-laki!" "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu!" geram Bima. la mulai kesal dengan tuduhan­tuduhan yang dilemparkan oleh dosen cantiknya. Wanita itu hanya menggeleng tidak percaya. Apakah sesulit itu untuk percaya bahwa Bima sama sekali tidak sedang mempermainkan dirinya? Demi Tuhan! Bima berada di sini karena menginginkan Winda tanpa ada agenda tersembunyi. la menginginkan Winda Kirana dan wanita itu pikir Bima sedang mempermainkannya? Apakah ia serendah itu di mata Winda? Harus Bima akui bahwa awal mula 'hubungan' rnereka memang tidak sebaik seharusnya dan Bima memang mengancam Winda saat itu, namun hal itu mudah berlalu bukan? "Biar kukatakan dengan jelas," ucap Bima. "Aku tertarik kepadamu seperti pria yang tertarik terhadap seorang wanita pada umumnya Winda. Dan aku sama sekali tidak berniat bermain-main, tidak sedetik pun." Lagi-lagi Winda  hanya mendengus dan mengibaskan tangannya. "Yeah, aku melihat betapa seriusnya dirimu," gumamnya sinis. Bima menarik lengan Winda. “Apa maksudmu?" Winda menatap mata Bima untuk sesaat kemudian membawa tatapannya turun ke leher pria itu lagi dan berkata, "That!" Bima tidak melepaskan genggamannya ketika Winda menarik tangannya dan berjalan masuk ke dalam kamar. Ia berusaha mencerna maksud wanita itu sambil berjalan cepat menuju kamar mandi dan berkaca. "Damn, Thalia!" umpatnya saat meljhat sebuah kissmark kecil di sisi kanan lehernya. la mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela napas. Sedikit kesal karena ia tidak tahu bahwa Thalia meninggalkan bekas ciuman di lehernya semalam. Namun kemudian, seulas senyuman mengukir  wajah tampannya saat ia sadar bahwa reaksi Winda menunjukkan bahwa wanita itu cemburu. Ya, Winda cemburu dan itu berarti wanita itu memiliki perasaan terhadapnya, bukan? Lebih baik ia memastikannya secara langsung. Dengan langkah ringan, Bima berjalan keluar dari kamar mandi tamu dan masuk ke dalam kamar Winda. la tidak langsung melihat wanita itu di sana dan kemudian mendengar suara shower yang dinyalakan dari kamar mandi wanita itu. Bima mencoba untuk membuka pintu kamar mandi yang sayangnya terkunci. Maka, tanpa memiliki banyak pilihan, Bima membaringkan tubuhnya lagi di atas ranjang dan menunggu wanita itu keluar dari dalam sana. Tidak lama kemudian, suara air yang mengalir berhenti dan Winda keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe dan handuk yang membungkus rambutnya. Bima segera bangkit berdiri sambil tersenyum lebar kepada wanita itu. Winda masih terlihat marah dan satu lirikan ke arah leher Bima sama sekali tidak membuat amarahnya reda. Belum lagi, Bima sama sekali tidak terlihat menyesal dan malah menyengir lebar seolah-olah kemarahannya bukan hal penting. Membuang wajahnya, Winda berjalan ke arah meja rias dan mulai mengeringkan rambut. la sedikit bingung dengan perasaannya dan bertanya-tanya apakah ia marah karena merasa dipermainkan? Atau apakah ia marah karena pria itu b******u dengan wanita lain kemarin? Dan kenapa pula ia harus merasa marah? Sungguh tidak masuk akal. "Aku senang kau cem buru," ucap Bima membuyarkan pikirannya. "Apa?!" sesaat Winda kaget. Cemburu? Yang benar saja! Ia sama sekali tidak cemburu karena itu artinya ia tertarik pada Bima. Bukankah demikian? “Aku tidak cemburu! Bima," bantah Winda. Matanya menangkap kilat jenaka Bima dari cermin. "lalu kenapa kau marah?" "Aku tidak marah!" Bima berjalan mendekat dan memutar paksa tubuh Winda yang berdiri di depan meja riasnya. la menahan kedua bahu wanita itu agar tidak bergerak dan melawan. "Lihat ini," ucap Bima sambil menelengkan kepalanya ke kiri, menunjukkan bekas ciuman yang ada di lehernya. "Katakan bahwa kau tidak marah melihat ini di leherku." Winda menggertakkan giginya. Bima dapat melihat amarah wanita itu menari di matanya yang indah dan Bima menyukainya. "Aku tidak marah!" desis Winda. Sebelum Bima sempat membalas ucapan wanita itu, tiba­tiba saja Winda mengalungkan lengannya pada pundak Bima dan berjinjit sambil menarik tubuhnya mendekat. Bima pikir Winda akan menciumnya namun temyata wanita itu malah menempelkan bibirnya di leher Bima yang terbuka. Bima terkejut merasakan hisapan lembut bibir itu di lehemya dan kehabisan kata-kata. Ia hanya bisa memandang wajah Winda yang memerah setelah wanira itu menjauhkan kepalanya dari leher Bima. "See? Tidak ada alasan bagiku untuk marah," ucap Winda lalu memutar tubuhnya dan masuk kembali ke kamar mandi. Wanita itu membanting pintu kamar mandinya dengan keras. Bima masih berdiri di depan meja rias Winda dengan bibir terbuka dan ekspresi tidak percaya. Apakah wanita itu baru saja meninggalkan kissmark di lehernya? la menatap cermin dan melihat bahwa Winda menciumnya tepat di atas bekas ciuman yang di tinggalkan Thalia, membuat bekas kemerahan yang ditinggal oleh Thalia hilang tertutupi kissmark dari dirinya. Tidak bisa menahan dirinya, Bima tertawa terbahak-bahak hingga matanya berair. la tidak menyangka bahwa Winda memiliki sisi impulsif saat sedang termakan kecemburuan. Hal itu membuat Bima semakin yakin bahwa Winda merniliki perasaan kepadanya dan ia akan membuat Winda mengakui perasaannya. ltu adalah misi hidupnya untuk saat ini. “Pergilah!” teriak Winda dari balik pintu. Bima dapat membayangkan betapa malunya wanita itu sekarang sehingga bersembunyi di dalam kamar mandi. "Keluarlah dari dalam sana, Winda!" seru Bima sambil mengulum senyum. Winda tidak menjawab. "Keluar atau aku akan menyebarkan fotomu!” ancam Bima bercanda. "Kau tidak akan melakukannya!" "Hm? Try me, then! Aku akan menghitung hingga tiga. Jika kau tidak keluar, aku akan langsung menyebarkan fotomu." Bima menunggu selama beberapa detik namun Winda tidak menjawabnya. Ia lalu mulai herhitung, "Satu!” Pria itu berjalan mendekati pintu kamar mandi dan berdiri di depannya. "Aku sudah memegang ponselku dan sedang mencari fotomu sekarang, Winda!" Masih tidak ada jawaban dari dalam sana. "Dua!” seru Bima lagi. "Aku sudah menemukan fotomu di galeri dan siap untuk menekan tombol kirim." Bima mengetukkan kakinya di atas lantai berusaha untuk tidak mendobrak pintu yang masih tertutup rapat dihadapannya. "Tiga!” seru Bima lagi. Pintu di hadapannya langsung terbuka dan Bima dengan sigap menangkap tubuh Winda ke dalam pelukannya. "b******k!" umpat Winda kesal saat dirinya sudah tertahan di dalam kungkungan lengan Bima yang kokoh. "Lepaskan!” Bima berpura-pura tidak mendengar dan menggendong tubuh Winda. Wanita itu meronta minta diturunkan dan Bima baru melepaskanya saat ia sudah mencapai ranjang Winda dan membaringkannya di atas ranjang. "Bima!" pekik Winda saat Bima menindihi tubuhnya. "Menyingkirlah!" "Panggil nama ku, Winda," perintah Bima dengan senyum tersungging di bibirnya. "Tidak!'' tolak Winda. Wajahnya memerah saat ia merasakan jubah yang dikenakannya tersibak menampakkan kulit mulusnya. "Menjauhlah dariku!" "Tidak sebelum kau menyebut namaku, Profesor,” ucap Bima. "b******k!" jawab Winda. "Ck, ck, ck," Bima berdecak. "Umpatan tidak cocok keluar dari bibirmu, Sayang."   Winda berusaha mendorong dan menendang tubuh Bima. Namun sia-sia, usahanya itu hanya semakin membuat Bima mendekatkan tubuh mereka erat. “Sialan! Berhentilah bermain-main!" Kejenakaan dalam mata Bima langsung menghilang mendengar ucapan Winda. la mendekatkan wajahnya dan menatap mata Winda lurus, membuat wanita itu sesaat khawatir telah membuat pria itu marah. "Aku tidak sedang mempermainkamu, Winda," ucap Bima serius. Jantung Winda berdegup kencang. la belum pernah melihat sisi itu dari Bima dan Winda dapat melihat kesungguhan pria itu. Tapi tidak mungkin, pria seperti Bima tidak akan pernah serius dan tertarik kepadanya. "Bohong,” bantah Winda dengan suara yang gemetar. Bahkan ucapan yang keluar dari bibirnya terdengar lemah di telinganya sendiri. "Aku tidak berbohong," ujar Bima lagi. "Aku akan membuatmu mengakui perasaanmu, Winda. Aku berjanji." Mereka bertatapan untuk beberapa saat. Winda berusaha untuk mencari setitik kebohongan atau keraguan dalam mata pria itu namun tidak ditemukannya. la menelan ludahnya saat sadar bahwa Bima memang serius dengan ucapannya. Ya, ampun! la benar-benar terjebak dalam masalah yang rumit. Melepaskan Winda, Bima meluruskan tubuhnya dan bangkit berdiri. Ia memandang Winda yang terlihat masih berusaha untuk mencerna ucapannya. Dengan sekuat tenaga Bima mencoba menahan dirinya untuk tidak menyerang Winda saat ini juga karena posisi dan jubah Winda yang menggodanya. "Lebih baik kau berpakaian, Winda. Aku tidak berjanji untuk tidak menyerangmu jika kau tidak mau," ucap Bima. Winda terkesiap dan bangkit duduk di atas kasur. Tangan wanira itu menahan keliman jubahnya dan memandang tajam Bima, mebuat Bima terkekeh karenanya. "Aku akan pulang dan memberikanmu privasi.” ujar Bima sambiI mengambil kausnya yang tersampir di kursi malas milik Winda. Dengan satu gerakan, Bima sudah mengenakan pakaian hitam tersebut. Bima lalu meraih ponselnya dan melihat jam. "Apakah setengah jam cukup?" tanyanya. "Apa ?" "Apakah setengah jam cukup untukmu bersiap-siap?" "Untuk?" Bima tersenyum menggoda kepada Winda. "Aku ingin mengajakmu berkencan." "Kenapa?" "Apakah kau harus menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan?" Winda menaikkan dagunya dan berkata, "Aku tidak akan pergi berkencan denganmu, Bima." Bima menunduk dan melumat bibir Winda. Mata wanita itu terbelak karena terkejut. "Apa-apaan?" seru Winda sambil menarik wajahnya. Terkekeh, Bima berkata, "Satu kecupan untuk setiap kali kau memanggilku dengan panggilan formal." "What?!" Winda 1nemberikan ekspresi tidak percaya. "Kau tidak bersungguh-sungguh, bukan?" "Coba saja," tantang Bima. Winda mengatupkan bibimya rapat-rapat. la tidak berani untuk mencobanya. Bukan karena ia tidak menikmati ciuman Bima tapi karena ia takut pada perasaan-perasaan yang dibangkitkan oleh pria itu saat ia mencium bibir Winda. “Now, apakah setengah jam cukup?" Winda membuka bibirnya untuk menjawab tidak, bahwa ia tidak mau pergi berkencan atau pergi kemanapun dengan pria itu namun mengurungkan niatnya saat melihat alis Bima yang naik seakan menantangnya untuk membantah. "Fine," ucap Winda sambil menggertakkan gigi. Bima tersenyum dan mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir Winda. Menjauhkan wajahnya, Bima berkata, "ltu, adalah ciuman 'sampai nanti'." Dengan itu Bima pun beranjak dari sana dan meninggalkan Winda. Saat Winda mendengar suara pintu depan yang terbuka kemudian tertutup kembali, ia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan menghela napas. Semua otot-ototnya yang tanpa disadarinya menjadi tegang berada dalam kehadiran Bima serta-merta berubah menjadi rileks dan santai. Ia tidak ingin bergerak dari posisinya dan memikirkan semua hal yang telah terjadi dalam waktu singkat pagi ini. Tapi sayangnya, ia hanya memiliki waktu setengah jam untuk bersiap-siap. Winda akan bersiap-siap, bukan karena ia ingin pergi berkencan dengan Bima, tapi karena ia tidak ingin mengambil risiko pria itu melakukan sesuatu lagi terbadapnya hanya karena ia menolak untuk pergi dengan Bima. Setidaknya, itu yang terus Winda katakan kepada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN