Sebuah Pernyataan

2801 Kata
Pria itu benar-benar tepat waktu, pikir Winda. la tidak terlambat atau lebih cepat satu menitpun dari yang dijanjikannya. Tepat setelah 30 menit berlalu, Bima sudah muncul lagi di ruang tamunya dan Winda hanya bisa menghela napas pasrah menyadari bahwa sekarang pria itu memiliki akses penuh menuju kediamannya ini. Bima mengenakan Polo shirt abu-abu yang menonjolkan rambut pirang dan mata hitamnya, dipadukan dengan celana skinny jeans berwarna biru yang membungkus ketat paha kokohnya. Tatkala Winda melihatnya, ia hanya bisa menelan ludah diam-diam. Winda piker ia tidak akan pernah terpengaruhi oleh seorang pria, namun kenyataannya sekarang ia malah meneteskan air liur hanya dengan memandang Bima yang duduk dengan santai di sofa ruang tamunya. "Kau sudah siap?" tanya Bima sambil memberikan senyum lebar. Winda membuang wajahnya dan kembali masuk ke dalam kamar. la mencoba untuk membuang waktu dengan berlama­lama melakukan haI apapun yang terpikirkan olehnya. Dimulai dari membuka lemari dan pura-pura mencari barang, ke kamar mandi dan duduk di atas kloset selama beberapa saat, dan bahkan ke dapur untuk membongkar lemari esnya yang sebenarnya kosong. Ketika akhirnya ia merasakan perutnya berbunyi kencang karena lapar, Winda harus mengalah dan ikut dengan pria itu. Bagaimanapun ia perlu keluar untuk mengisi perutnya yang kosong. "Apakah kita bisa makan terlebih dahulu?" tanya Winda pada Bima akhirnya. Bima menganggukkan kepalanya dan berkata, “Tentu. Kita melewatkan sarapan tadi pagi." Bima bangkit dari duduknya dan memandang Winda dari atas hingga ke bawah. "Kau memiliki jaket?" tanyanya . "Ada," jawab Winda dengan kebingungan yang ketara. "Bawalah kalau begitu." Winda membuka mulut untuk membantah namun tidak jadi karena ia tidak ingin mencari masalah baru dengan Bima. Akan lebih mudah jika Winda menurutinya. Lagipula, tidak akan merepotkan jika hanya membawa jaket. Wanita itu lalu kembali masuk ke kamarnya dan keluar dengan membawa sebuah jaket kulit hitam yang jarang dikenakanya. la tidak memiliki banyak kesempatan untuk mengenakan jaket kulit tersebut. “Ayo!" ucap Bima sambil meraih jaketnya sendiri yang terbuat dari kulit sapi dan berdiri. Pria itu berjalan terlebih dahulu dan Winda mengikuti langkahnya. Saat mereka sudah tiba di basement, tanpa sadar Winda berjalan menuju mobilnya sendiri seperti kebiasaannya jika sudah turun ke area parkir. Bima menarik lengan Winda yang melangkahkan kakinya menjauh, ia tahu apa yang sedang dilakukan wanjta itu. Menghentikan langkah Winda, Bima menerima tatapan bingungnya. "Kita akan berangkat dengan motorku.” Bima memberitahu Winda sambil menelengkan kepalanya ke arah sebuah motor besar yang terparkir di sudut basement itu. "Motor?" ulang Winda. "Ya, motor.” Winda menggeleng. "Aku tidak yakin dengan itu, Bima.” Bima menyengir dan menarik wajah Winda ke arahnya. Sebelum wanita itu sadar, Bima sudah melumat bibir Winda yang sebenamya sudah sangat menggugah seleranya sedari tadi. la senang saat tanpa sengaja wanita itu menyebut nama keluarganya, memberinya sebuah alasan untuk melumat bibir Winda. Menjauhkan wajah nya , Bima menatap ke dalam mata biru yang menatapnya dengan tatapan tidak fokus. Wanita itu sengaja tidak mengenakan kacamatanya dan mengenakan lensa kontak sebagai gantinya . Membuat Bima dapat melihat langsung ke sepasang mata indah Winda. Winda mengerjapkan matanya dan melangkah mundur. Dengan panik wanita itu menoleh ke sekitar mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang menyaksikan ciuman mereka karena hal itu akan menimbulkan skandal yang rumit. Bima terkekeh melihat reaksi wanita itu. "Tidak ada orang lain selain kita di sini, Winda.” Winda memberikannya tatapan tajam. Namun tatapan itu sia-sia karena Bima lebih tertarik memandang bibir merah Winda yang penuh karena ciumannya. “Ada CCTV di sini!" geram Winda marah. "Apakah artinya aku boleh menciummu  jika tidak ada CCTV?" "Tidak! Tidak ada ciuman! Titik!" Bima semakin terkekeh. Namun ia tidak membalas ucapan Winda lagi dan malah menggandeng tangan wanita itu. la berjalan menuju motornya dan memberikan sebuah helm kepada Winda. Winda menggeleng, menolak untuk memakai benda itu. "Aku tidak mau memakainya." "Kau harus memakainya jika ingin berkendara motor." "Aku tidak ingin naik motor," jawab Winda. Bima menaikkan alisnya. "Kenapa?" "Tidak ada alasan. Aku hanya tidak ingin naik.” "Kau takut naik motor?" tebak Bima sambil menahan senyum. la sudah dapat melihat jawabannya saat mata Winda memancarkan kepanikan dan kekeras kepalannya. "Tentu saja tidak!" bantah Winda. "Kalau begitu, tidak ada alasan bagimu untuk tidak naik motorku.” jawab Bima. Winda mengatupkan bibirnya rapat-rapat. la bukannya takut naik motor, hanya saja ia belum pernah naik kendaraan itu seumur hidupnya. la idak tahu apakah benda itu aman untuk dinaiki dan ia tidak tahu apakah ia akan bisa duduk sambil menjaga keseimbangannya di sana. Oke, sepertinya ia memang takut untuk naik motor. Namun ia tidak akan mengakui hal itu kepada Bima. Sudah cukup sering harga dirinya jatuh dihadapan pria itu dan Winda tidak berniat untuk kalah lagi kali ini. la langsung mengambil helm yang masih diulurkan oleh Bima dan memakainya. Winda sedikit kesulitan saat harus mengancingkan helm tersebut dan Bima membantunya dengan senang hati. Setelah itu Bima membantunya untuk mengenakan jaketnya juga sebelum dirinya sendiri memakai jaketnya. Jadi, ini alasan pria itu menyuruhnya membawa jaket. Seharusnya Winda tidak menyetujuinya dan mereka bisa pergi dengan mengendarai mobil. “Kita akan kemana?" tanya Winda saat ia sudah duduk di belakang pria itu. “Restoran. Aku tahu tempat brunch yang enak." Winda kemudian diam. la duduk tegak dan kaku menunggu Bima mengendarai motornya. Mesin itu sudah meraung selama beberapa saat tapi Bima tidak berusaha untuk mengendarai benda itu sedari tadi. "Kenapa tidak jalan?" tanya Winda lagi. “Kau harus berpegangan.” jawab Bima. Winda memandang ke pangkuan dan belakang bokongnya. Ia tidak tahu harus berpegangan di mana. Pertanyaan yang hampir terlontar dari mulutnya tertelan kembali saat Bima meraih kedua tangannya dan merangkulkannya di pinggang pria itu. Tubuh Winda tertarik ke depan dan ia merasakan bagian depan tubuhnya menekan lembut punggung Bima. "Pegang yang erat!" seru Bima. Sebelum Winda dapat memproses ucapannya, Bima langsung memacu motomya dengan kecepatan yang menurut Winda sangat tinggi. la menjerit saat tubuhuya hampir terhempas ke belakang jika bukan karena ia mengencangkan rangkulannya di pinggang pria itu. Diam-diam, Bima menikmati rasa tubuh Winda yang merekat erat punggungnya. Ia juga tidak keberatan dengan pelukan erat kedua lengan wanita itu di perutnya meskipun tangan Winda terkait sedikit terlalu atas menurut seleranya. Akan lebih baik jika wanita itu sedikit menurunkan tangannya. Melintasi jalan kota yang lenggang, tidak butuh waktu yang lama hingga Bima memberhentikan motornya di depan sebuah restoran. Memarkirkan kendaraannya, Bima melepaskan helm yang dikenakannya. la tidak beranjak dari posisinya karena Winda masih memeluk erat pinggangnya, membuat Bima tersenyum kepada dirinya sendiri. "Kita sudah sampai," ucap Bima. Winda menolehkan kepalanya seakan-akan baru menyadari sekelilingnya. Ia langsung melepaskan rangkulannya dan menegakkan tubuh dengan cepat saat sadar bahwa mereka sudah berhenti. Secepat kilat juga Winda melompat turun dari motor Bima dan hampir terjatuh karena kehilangan keseimbangan jika bukan karena Bima yang menahan Lengannya. Bima memberikan sebuah senyuman malas yang menggoda. Tanpa malu-malu, pria itu melepaskan helm yang dikenakan oleh Winda dan turun dari motornya. Ia lalu menyerahkan kunci motornya pada valet yang sudah berada di samping mereka. Menarik lengan Winda, Bima mengajak wanita itu masuk ke dalam restoran. Mereka menikmati sarapan mereka yang terlambat dalam suasana yang secara mengejutkan cukup beradab. Tidak ada perkataan pedas yang keluar dari bibir Winda ataupun godaan yang keterlaluan dari Bima. "Apakah kau memiliki saudara?” tanya Bima di tengah brunch mereka. Winda memasukkan potongan daging yang telah dipotong kecil ke dalam mulutnya sambil mengangguk. la terlalu lapar untuk dapat menjawab pertanyaan Bima dengan kata-kata. "Well, aku anak tunggal," ucap Bima tanpa ditanya. "Sedikit sepi saat kedua orangtuamu sibuk dengan pekerjaan mereka.” Winda menangkap nada lain dari ucapan pria itu dan mengangkat pandangannya. Bima memberikan senyum yang ceria sambil menikmati makanannya dan Winda memutuskan untuk meladeni pria itu. “Aku hanya memiliki satu adik laki-laki," ucap Winda. "Apakah ia seperti dirimu?” Winda berpikir sejenak. Lincoln, adik laki-lakinya bisa dikatakan adalah cerminan dirinya. Bagaimana mungkin tidak jika mereka memiliki orangtua yang sama dan menjalani masa kecil yang tidak berbeda? Tidak, sepertinya jauh lebih buruk bagi Lincoln karena selain tuntutan Jeff dan Sonya, ia harus tumbuh dan selalu dibandingkan dengan.Winda. "Begitulah," jawab Winda. "Jadi, bagaimana bisa kau masih perawan?" Winda tersedak mendengar pertanyaan Bima yang tiba-tiba berubah haluan. Ia menepuk-nepuk dadanya dan meminum air putih sementara Bima tersenyum terhibur melihat reaksi Winda. Sepertinya Bima memang tidak bisa melupakan sifat nakalnya meskipun ia berniat seperti itu. "Tidak usah khawatir,"   ucap Bima lagi.  Aku akan mengajari mu semua hal yang perlu kau tahu." Semburat merah menghiasi wajah Winda saat ia mendengar implikasi yang tersirat dalam ucapan Bima. Ia melem parkan tatapan tajam kepada pria itu dan Bima hanya tertawa terbahak-bahak, membuat setengah pengunjung restoran menoleh ke arah mereka dengan tatapan penasaran. Menyelesaikan makan mereka, Bima membayar bill dan menolak keras saat Winda berusaha untuk membayarnya. La sampai perlu mengancam untuk mencium wanita itu di depan umum jika memang Winda ingin membayar sendiri. Tentu saja wanita itu langsung bungkam karena tidak ada keraguan di antara mereka bahwa Bima pasti akan melakukannya. Keluar dengan senyum penuh kemenangan, lokasi berikutnya yang ada dalam tujuan Bima adalah danau yang terletak di pinggiran kota. Danau itu cukup terkenal sebagai tempat wisata dan karena hari ini adalah hari Sabtu, Bima yakin tempat tersebut cukup ramai. "Kau berniat untuk piknik?" tanya Winda setengah mengejek. Bima memberikan senyum misterius kepadanya dan Winda tahu bahwa apa pun itu, ia tidak akan menyukainya. Terbukti saat pria itu berhenti di bawah sebuah tower yang menjulang tinggi di atas mereka. Menengadahkan kepalanya ke atas, sinar matahari menyilaukan pandangan matanya namun Winda masih dapat melihat apa yang ada di atas puncak tower tersebut. Bungee jump! Bima mengajaknya untuk bungee jumping! “Kau bercanda!" pekik Winda saat ia menyadari dimana mereka berada. Bima menggelengkan kepala nya. "Tidak, aku serius.” Wajah Winda seketika memucat. “Aku tidak akan naik!" "Pengecut," gumam Bima. Winda menolehkan wajahnya ke arah Bima. la tahu bahwa pria itu sengaja memanasinya hanya untuk membuatnya menuruti keinginan pria itu. Namun begitu, Winda adalah orang yang keras kepala dengan harga diri yang lumayan tinggi. "Aku bukan pengecut!" bantah Winda. "Penakut kalau begitu?" "Aku tidak takutl" bantahnya lagi dengan kekesalan yang mulai berkumpul. Bima memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan melewati Winda. "Ayo, kalau begitu." Winda mengatupkan rahangnya. la tidak ingin mengikuti langkah Bima namun ia juga tidak bisa begitu saja mundur sekarang. Memandang kerlingan Bima yang seolah menantangnya, Winda akhirnya memaksa kakinya untuk melangkah. Ia mengikuti Bima masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke atas . Lift yang terbuat dari besi itu tidaklah tertutup sepenuhnya dan lebih mirip dengan sebuah kandang. Ada sedikit rasa penyesalan sekarang setelah ia melibat ke pemandangan di bawah mereka. “Berniat mundur?" bisik Bima di telinganya. Winda semakin mengeratkan rahangnya dan mendelik kepada pria yang berdiri di sampingnya. "Ti-dak." Bima mengulum senyum. Ia yakin Winda sebenarnya tidak ingin melompat dari sana, tapi terlalu keras kepala mengakui kekalahannya. Tapi sebenamya, Bima suda menang saat ini karena berhasil membuat Winda naik ke atas. Tahap pertama sudah lewat, ia hanya perlu memastikan bahwa gurunya melompat. Saat pintu lift terbuka, Winda membutuhkan segenap tekadnya untuk melangkah keluar. Angin kencang berhembus menerpa wajahnya dan ia bersumpah dapat merasakan pijakannya bergerak di bawah kakinya. Mengintip ke tepi, Winda dapat melihat betapa tinggi posisi mereka sekarang. Ia dapat melihat keseluruhan danau dari posisinya dan jantungnya semakin berdegup kencang. Sekctika kcpalanya terlalu pusing untuk berpikir dan Winda bahkan tidak begitu sadar saat petugas menyuruhnya mengisi formulir dan mulai memasangkan alat pengaman. la pikir ia bjsa melakukannya, baru setelah ia clan Bima herdiri di posisi melompat dengan tangan pria itu yang rnenggenggamnya, Winda sadar bahwa ia tidak bisa. Tidak peduli bahwa mereka akan melompat bersama, Winda tidak akan bisa melakukannya. "Stop!" seru Winda. Bima menaikkan alisnya. "Ada apa?" “Aku berubah pikiran," ucapnya cepat. Ia dapat merasakan tangannya lemah dan jantungnya berdegup kencang. "Tidak bisa," jawab Bima. "Sudah sampai di sini, kau tidak boleh mundur.” Winda menggeleng. la tahu bahwa ia sudah tidak memedulikan lagi harga dirinya. Jauh lebih mengerikan memaksa dirinya melompat dari ketinggian 100 meter ini. "Aku tidak bisa.” "Kau bisa, kita akan melompat bersama.” "Kau saja yang melompat. Aku akan menunggu di bawah," tawar Winda. Bima menggigit pipi dalamnya menahan senyum. Winda terlihat seperti anak kecil saat ini dan entah mengapa membuatnya merasa senang. "Baiklah, dengan satu syarat.” ucap Bima. "Apapun," jawah Winda kilat. Bima tertawa. "Kau bahkan belum mendengarnya.” "Aku tidak peduli. Cepat katakan agar aku bisa melepaskan pengaman sialan ini." Pria itu berpura-pura untuk berpikir sejenak sementara Winda mulai menggigit ibu jarinya. "Kiss me," ucap Bima. Winda membelakkan mata nya. "Apa?!" “Cium aku dan kau boleh mundur." Winda merasa pening. Kenapa Winda merasa bahwa apa pun pilihannya sama-sama merugikannya? Yang benar saja! Berciuman atau melompat? la yakin Bima sengaja melakukannya. Menolehkan kepalanya, Winda melihat ke sekelilingnya. Ada dua orang petugas yang menyengir ke arah mereka, sangat jelas bahwa mereka mendengar percakapan mereka. "Now?" bisik Winda. Bima mengangguk. Ia tidak peduli dengan petugas yang berada di dekat mereka dan dapat menyaksikan ciuman Winda untuknya. Mereka boleh melihat asal tidak menyentuh miliknya. Winda menghela napasnya. Ia tahu bahwa mereka sudah pernah berciuman beberapa kali dan bahkan melakukan hal yang lebih dari itu. Tapi sebelumnya, Bima-lah yang lebih dahulu melakukan hal-hal tersebut kepadanya, bukan sebaliknya. Well, kecuali tadi pagi. Wajah Winda merona mengingat kejadian tadi pagi. la tidak tahu apa yang membuatnya menjadi impulsif, yang jelas ia langsung menyesali tindakannya itu. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan amarah dirinya tapi siapa yang tahu hahwa melihat bekas ciuman wanita lain di leher Bima berhasil menyulut amarahnya. "I'm waiting," gumam Bima. Mengepalkan tangannya, Winda mengalungkan kedua tangannya di leher Bima. la dapat merasakan kakinya gemetar karena harus bergerak di lantai tinggi itu namun tahu bahwa ia tidak memiliki pilihan lain. Maka, Winda mengecup bibir Bima singkat. la hanya berniat untuk menempelkan bibir mereka dan menjauh. Namun Bima lebih cepat darinya. Pria itu langsung merangkulkan kedua lengannya pada tubuh Winda dan menariknya lekat. Bibir Bima juga langsung melumat bibir Winda. Saat bibir Bima mulai menciumnya Winda tak bisa untuk tidak terbuai. Ia menikmati gerakan bibir pria itu di bibirnya dan serta merta lupa dengan posisinya. Kakinya pun berhenti gemetar tapi debar jantungnya sama sekali tidak melambat malah berdetak dalam irama yang berbeda. Winda merasa melayang karena ciuman Bima. Melayang? Ini lebih terasa sepcrti terbang. Entah kenapa Winda mendapat firasat buruk. la membuka mata dan bertatapan dengan mata Bima yang mengerling nakal. Sebelum Winda melepaskan pelukan mereka, Bima memiringkan tubuhnya dan memeluk Winda erat. Bima menjatuhkan tubuh mereka berdua ke bawah! Dan Winda rnenje rit. Winda menjerit dan terus menjerit sambil memejamkan matanya. la dapat merasakan adrenalin mengaliri tubuhnya dan memacu jantungnya cepat. Beberapa detik yang terasa berabad-abad kemudian, Winda membuka mata nya dan memandang pemandangan danau di sekitarnya dalam posisi yang terbalik. Telinganya dapat mendengar deru tawa Bima sementara ia berusaha untuk menghirup oksigen banyak-banyak. Winda tidak ingat lagi apa yang ia lakukan setelah itu. Yang ia sadari, ia langsung terduduk lemas begitu menapakkan kakinya di daratan lagi. "Kau baik baik saja?" tanya Bima sambil berjongkok di hadapannya. Winda tidak menjawab. Masih terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Sementara itu, Bima baru merasa khawatir melihat bibir pucat Winda. Buru-buru ia membelikan wanita itu minum yang langsung diteguk habis oleh Winda. "Sudah merasa lebih baik?" Bima mendapatkan sebuah pukulan di dadanya sebagai jawaban. Wanita itu mendorongnya keras hingga ia jatuh terduduk di atas rumput. "Kau gila!" teriak Winda dengan wajah memerah, bukan karena malu namun karena amarah yang menyergapnya. Menerima luapan emosi Winda, Bima tidak berusaha melindungi diri dan malah tersenyum. Katakan ia nekat atau gila, namun ia hanya ingin Winda keluar dari tembok es yang dibangunnya. Wanita itu terus memukuli d**a Bima dengan kesal hingga kehabisan tenaga. Winda hampir menangis karena kesal dan kemudian hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. Terlalu banyak energi yang terbuang dari tubuhnya dalam waktu beberapa menit saja. Tanpa merasa bersalah, Bima malah berpindah posisi ke belakang tubuh Winda dan mendudukkan wanita itu di antara pahanya yang terbuka. la menarik tubuh Winda agar dapat bersandar di dadanya dan wanita itu tidak menolak. "Maaf," bisik Bima di telinga Winda. "Aku hanya ingin membuatmu keluar dari balik dinding yang kau bangun.” Winda terdiam. la masih menundukkan kepala berusaha mencerna ucapan Bima. la tidak mengerti maksud pria itu. Dalam satu minggu terakhir, ia lebih banyak menunjukkan emosinya jika dibandingkan selama 25 tahun ia hidup. "Kau terlalu kaku dan selalu kembali menjadi dingin kepadaku," gumam Bima. "Tidak peduli bagaimanapun aku selalu berhasil memancing emosimu, kau akan kembali ke balik dinding pertahananmu dan menjauh." Pria itu lalu melanjutkan, "Meskipun aku senang menggodamu dan melakukan hal-hal tidak senonoh pada tubuhmu, aku ingin lebih dari itu. Aku ingin bisa melihat emosimu meski di luar ranjang sekalipun." Wajah Winda kembali merona. Telinganya panas mendengar ucapan Bima yang terus terang. "Kenapa?” tanya Winda. la dapat mendengar suaranya serak dan lirih. “Aku belum bisa mengatakannya," jawab Bima. "Tidak sebelum aku yakin seratus persen. Tapi, Winda, satu hal yang kutahu adalah, seperti bungee jumping barusan, bagaimana adrealin menjalari seluruh tubuh kita dan bagaimana kita jatuh karena tarikan gravitasi, seperti itulah perasaanku sekarang. I think I'm falling for you. Unlike many others, for me, it's like a free fall where I can't stop it. I'm free falling in love with you." Pundak Winda membeku mendengar penuturan Bima. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa Bima berkata seperti itu hanya dalam kurun waktu satu minggu? Dan bagaimana bila Winda merasakan dadanya berdesir lembut karena ucapan Bima? Ini tidak masuk akal. Pria itu pasti sedang bercanda dengannya. Bima mengusap kepalanya lembut. “Berhentilah berpikir terlalu keras," tuturnya lagi. "Aku mengatakan ini bukan untuk membuatmu berpikir . Aku hanya ingin kau bersiap-siap karena sepertinya untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku serius tentang perasaanku sendiri." Pria itu lalu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya pada Winda. “Ayo, pulang," ajaknya lembut. Winda mendongakkan kepalanya dan melihat senyum tulus mengukir bibir Bima. Pria itu tidak terlihat sedang menggodanya atau memanipulasinya. Ia terlihat yakin dan jujur saat ini dan itu membuat Winda bimbang. Apakah mungkin?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN