Ajaib.
ltu yang ada dalam pikiran pertama Winda saat ia membuka matanya. la menolehkan kepalanya ke sisi sebelah ranjang dan melihat bagian itu kosong, tidak ada tanda-tanda bahwa ada seseorang yang sempat menidurinya semalam. Lalu, Winda berjalan keluar dari kamarnya dan mengintip ke ruang tamu, di mana ia tidak melihat sosok orang lain di atas sofanya.
Ajaib. Sekali lagi ia berpikir demikian. Ajaib karena Bima mengantarnya pulang semalam dan tidak mencoba untuk masuk ke apartemennya. Pria itu meninggalkan Winda di depan pintu dengan sebuah belaian singkat di pipinya dan sebuah kecupan ringan di bibimya.
Winda berdiri dj posisi yang sama dengan tatapan skeptikal selama beberapa saat sebelum akhirnya sadar bahwa pria itu sungguh-sungguh meninggalkannya dan membiarkan Winda mendapatkan ketenangannya kembali. Membuat Winda sedikit... kecewa? la tidak mengerti kenapa ia harus merasakan hal tersebut.
Winda melakukan aktivitasnya seperti biasa. la kemudian bersiap-siap dan mengenakan setelan olahraganya yang paling nyaman yang dapat ditentukannya. Menyalakan pemutar lagu, Winda keluar dari kediamannya dan mulai berlari.
la selalu menyempatkan diri untuk berlari pagi sesering mungkin disela kesibukannya, meskipun yang sering terjadi adalah satu minggu berlalu sebelum akhirnya ia bisa berlari setiap minggu pagi. Seperti minggu ini. Bukan salahnya, pikir Winda. ltu karena terlalu banyak hal yang memakan pikirannya seperti Bima dan Sonya.
Mencegah dirinya untuk berpikir tentang kedua orang itu, meski karena alasan yang berbeda, Winda berlari mengelilingi area tempat tinggalnya selama satu jam sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali.
Ia berjalan dengan napas terengah memasuki lobi gedung, tidak menyadari seorang pria yang berdiri dari posisi duduknya saat melihat Winda melenggang di hadapannya.
“Winda!" seru pria itu menghentikan langkah Winda.
Winda menolehkan wajahnya dan melihat siapa yang memanggilnya. Ada sedikit perasaan menyesal setelah ia melihat siapa yang memanggilnya. Seharusnya, ia pura-pura tidak mendengar.
"James," sapa Winda sambil memaksakan sebuah senyuman. "Apa yang membawamu ke sini?"
James tersenyum dan berjalan mendekatinya, terlalu dekat dalam pendapat Winda sehingga ia mundur satu langkah dari pria itu.
"Kita memiliki janji sarapan, bukan?” tanya James.
Winda rnengerutkan keningnya bingung. Janji? Sarapan?
"Sonya berkata bahwa ia sudah memberitahumu dan kau setuju.” ucap pria itu lagi.
Winda diam-diam mengumpat. Penyesalan keduanya hari ini adalah tidak mengangkat panggilan Sonya ataupun membaca pesan yang dikirimkan oleh ibunda tercintanya itu semalam.
Winda berdeham dan berkata dengan sehalus mungkin. "Aku khawatir bahwa aku lupa, James. Aku butuh waktu yang sangat lama untuk bersiap-siap, lain kali, mungkin?”
"Ah, tidak masalah.” jawab James. "Sonya sudah memberitahuku bahwa kau mungkin akan lupa dan memintaku untuk membiarkanmu mengambil waktumu untuk bersiapsiap.”
Way to go, Winda! pikir Winda dalam hati. la jelas salah memilih kata-kata dan James sepertinya adalah tipe pria yang tidak mengerti penolakan halus. la harus mengubah strateginya.
"Maaf, James. Aku tidak yakin kalau aku mengerti apa yang sedang dilakukan oleh ibuku," ucap Winda.
James sedikit mengerutkan keningnya namun masih tersenyum kepada Winda. Pria itu jelas tidak mengerti maksud Winda.
“Apa yang sebenarnya ibuku katakan padamu?" Tanya Winda.
Pengertian mulai tersirat dalam wajab James. "Ah, Sonya mengisyaratkan bahwa aku boleh mendekati putrinya. Apakah aku salah menangkap isyarat yang dikatakannya?"
"Tidak.” jawab Winda. "Kau tidak salah menangkap maksud ibuku."
"Jadi, tidak ada masalah, bukan?"
Winda mendengus kecil dan tersenyum. “Tentu saja ada. Masalahnya adalah, aku dan ibuku tidak pernah sepaham."
"Maksudmu kau tidak menginginkan hubungan dengankun?”
"Ya, dan tidak dengan siapa pun.” Winda berkata. Ia kemudian langsung melanjutkan ucapannya. "Ku harap kau bisa menyampaikannya pada rekanmu yang lain, seperti Frans misalnya, karena aku yakin bahwa kau bukan satu-satunya pria yang menerima isyarat ibuku."
Senyum ramah James menghilang digantikan dengan senyum tertahan. "Dengan senang hati aku akan menyampaikanya."
"Terima kasih."
"Tapi bukan berarti ini selesai sampai di sini.” ucap James membunuh kelegaan yang muncul di hati Winda. "Aku mengerti bahwa kau tidak pemah memiliki hubungan dengan siapa pun selama ini dan bahea Sonya dengan jelas mengatakan bahwa kau dingin dan kaku, lebih tepatnya tidak memiliki perasaan. Her words, not mine."
Winda merasakan sesuatu yang tajam menembus hatinya mendengar ucapan James.
James meneruskan, "Dan dengan begitu, sebenarnya tidak pernah ada pikiran bahwa aku akan memulai sesuatu yang romantis denganmu."
"Jadi, apa yang kau inginkan?" tanya Winda dengan nada dingin.
"Kau cerdas, jadi aku akan mengatakan ini secara gamblang. Kurasa kita akan cocok untuk bekerja sama dan berteman,” jawab James.
"Teman?”
"Kau dan aku, kita akan memiliki hubungan simbiois mutualisme. Jika kau menikah denganku, aku akan mendanai penelitian orangtuamu. Aku tahu itu adalah tujuan mereka begitu gencar menyodorkanmu ke dalam pelukanku. Dan lagi, dengan uangku, kau tidak perlu bersusah payah membuat nama bagi dirimu sendiri. Dan terpenjara dibalik tembok universitas tempatmu berada sekarang. Sedangkan aku, aku hanya membutuhkan istri di atas kertas, untuk alasannya kau tidak perlu tahu. lt's a win-win solution."
Winda menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia merasa marah mendengar ucapan James yang sungguh merendahkan dirinya. Ada apa dengan kemarin dan hari ini? Dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, ia mendapatkan pengakuan dari dua pria yang berbeda. Tapi tentu saja, perasaan yang dirasakan nya sekarang berbeda dengan kemarin.
Winda menghitung sampai sepuluh sebelum membuka mulutnya dan berkata, "Kau terdengar sangat cocok dengan ibuku, James. Kalian sungguh memiliki pemikiran yang luar biasa."
"Trims?"
"However, aku rasa kau kurang cerdas karena tidak mengerti ucapanku," lanjut Winda. "Aku berkata bahwa aku tidak sepaham dengan ibuku. Jadi, kau bisa bawa semua idemu dan Sonya, dan pergi dari tempat ini sekarang juga karena aku tidak tertarik. Have a good day, Sir."
Dengan itu Winda memutar tubuhnya dan melangkah meninggalkan James. la dapat merasakan amarah memenuhi setiap rongga tubuhnya, membuatnya ingin memaki ibu nya sendiri. Apa yang sebenamya Sonya inginkan? Tidak cukupkah ia menyusahkannya selama 25 tahun hidupnya? lbunya gila jika berpikir ia akan bisa memaksakan kehendaknya kali ini.
Winda sudah cukup bersabar menuruti keinginan Sonya, tapi tidak kali ini. Windaa bertekad.
Senin pagi, Winda tidak memiliki tenaga untuk bangun dari tempat tidur. lni pertama kalinya ia merasa ingin kembali bergelung di balik selimut dan tidak bertemu siapa pun selama satu minggu ke depan.
Tahu bahwa itu adalah hal yang mustahil, Winda keluar dari balik selimut dan ke kamar mandi. la melihat pantulan wajahnya di kaca dan menyadari bayangan hitam yang mengisi bahwa matanya. Bukan pemandangan yang asing baginya, namun sepertinya ia harus berhenti melakukan kebiasaan menangis pada malam hari.
Berbicara dengan Sonya tidak pernah membuatnya tidur dengan nyenyak. la selalu berakhir dengan tenggorokan sakit karena terlalu sering menaikkan suara agar Sonya mau mendengarkan ucapannya dan mata sembab karena jatuh tertidur sambil menangis.
Dan semalam, ceritanya tidak jauh berbeda.
Ia menghubungi Sonya untuk mengatakan pada ibunya bahwa ia tidak tertarik untuk terlibat dengan apa pun yang ada dalam rencana Sonya. Winda berusaha untuk membuat ibunya mengerti namun sia-sia. Sonya tidak mau mendengarkannya dan itu membuat Winda kesal.
Melirik jam tangannya, Winda melihat bahwa ia tidak memiliki banyak waktu. Ia bersiap dengan secepat kilat dan dalam waktu kurang dari 15 menit, Winda sudah siap dengan busana kerjanya dan berangkat.
Profesor Salman mengirimkan pesan kepadanya dan mengatakan bahwa pria itu mengharapkan kehadirannya pagi ini dan itu artinya Winda harus datang lebih awal dari biasanya.
Suara tumit sepatu Winda mengetuk lantai lorong universitas yang sudah mulai ramai dipenuhi mahasiswa. la sesekali mengangguk kecil menerima sapaan sopan dari beberapa mahasiswa dan tersenyum, bukan hal yang biasa dilakukannya namun terasa mudah untuk dilakukan.
Saat dirinya sampai di depan pintu ruangan rektor, Winda mengetuk dan kemudian melangkah masuk. la langsung disambut dengan senyum ramah Mia, asisten muda yang dipekerjakan oleh Profesor Salman.
"Selamat pagi, Mia."
"Selamat pagi, Winda!" balas Mia menyapanya dengan antusias. "Prof. Salman sudah menunggumu."
Mia bangkit dari posisinya dan berjalan melewati tubuh Winda. Wanita muda itu mengetuk pintu ruangan Profesor Salman sekali clan memhukanya . "Miss Winda sudah datang, Prof. Salman," ucapnya pada pria yang sedang duduk di balik mejanya.
Prof. Salman hanya melambaikan tangannya tanpa sekalipun memalingkan wajahnya yang tertunduk membaca beberapa kertas di atas meja.
"Trims," ucap Winda pada Mia yang memberikannya jalan.
Setelah itu Mia menutup pintu dan meninggalkannya bcrdua dengan Profesor Salman.
"Anda memintaku untuk datang, Prof?” tanya Winda.
"Duduklah, Miss Winda," Profesor Salman mempersilahkannya.
Winda menarik bangku yang ada di depan Profesor Salman dan duduk sementara pria itu menutup berkas yang ada dihadapannya.
"Jadi, aku sudah mengirim kan e-mail kepada Benedict dan ia setuju,” ucap Profesor Salman secara langsung. "Kapan kau akan memulai penelitianmu?"
Bibir Winda terbuka karena terkejut. la tidak menyangka bahwa Profesor Salman akan secepat ini menghubungi Benedict atau bahwa siapa pun pria itu akan menanggapi tawaran yang diberikan dengan begitu cepat.
"Well, kapan pria itu bisa memulainya?" tanya Winda.
Profesor Salman tersenyum lebar. "Kapan pun. In fact, aku sudah memintanya untuk datang pagi ini. la akan tiba beberapa saat lagi."
Tepat setelah Profesor Salman berkata demikian, ketukan halus terdengar di pintu dan Winda kembali mendapati Mia berdiri di sana. Kali ini, ada seorang pria berambut cokelat yang berdiri di belakangnya. Pria itu kurus dan tinggi dengan ukuran tubuh berukuran sedang yang keras.
"Ah, Benedict!" seru Profesor Salman sambil berdiri.
Mia langsung mempersilakan pria yang bemama Benedict tersebut untuk masuk ketika Prof. Salman mendekat dan memeluk Benedict sekilas . Ia menepuk punggung Benedict beberapa kali sambil menggiringnya untuk masuk ke dalam ruangan dan menutup pintu.
Winda secara otomatis berdiri saat Prof. Salman berhenti di sampingnya dan mengayunkan tangannya ke arah Windaa. "Kenalkan Miss Winda, Benedict. Benedict, Profesor Winda Kirana,” ucap Prof. Salman.
"Hai, Benedict," sapa Winda sambil mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan denganmu."
"My pleasure," jawabnya sambil menyambut uluran tangan Winda dan menyalaminya . Winda sedikit terkejut mendapati genggaman tangan yang kuat, berlawanan dengan kesan yang diberikan oleh pria itu. "Cukup panggil aku Ben saja karena kita akan bekerja sama untuk jangka waktu yang lama. Aku akan memanggilmu Winda jika kau tidak keberatan."
Winda tersenyum simpul. Benedict adalah seorang yang percaya diri dan itu terlihat dari bahasa tubuh dan ucapannya. Winda hanya berharap pria itu tidak keras kepala karena itu akan menjadi masalah di antara mereka.
"Tentu, Ben," jawab Winda.
"Kalau begitu, semoga kita cocok, Winda," ucap Benedict sambil terseyum lebar dan mengencangkan genggaman tangannya sesaat sebelum melepaskan tangan Winda.
Tersenyum! Winda sedang tersenyum dan Bima terpana. Ia tidak pernah menyangka bahwa dirinya dapat merasakan hal seperti ini, bahagia dan senang melihat wanita itu tersenyum. Tidak dipungkiri lagi bahwa Winda cantik dan semakin cantik saat tersenyum meskipun bibir wanita itu banyak melengkung sedikit.
la dapat menyadari bahwa beberapa murid lainnya sedikit terkejut melihat dosen killer mereka tersenyum. Wanita itu bahkan membalas sapaan beberapa mahasiswa yang melewatinya. Bima boleh merasa bangga karena ia tahu bahwa ini adalah berkat peranannya yang cukup besar.
Mata Bima masih mengikuti langkah Winda yang menuju ruangan Prof. Salman, kemudian menghilang ke balik pintu. la tidak memiliki banyak waktu pagi ini dan ada kelas yang harus diikutinya, jika tidak, Bima yakin dirinya akan berdiri di sini dan menunggu wanita itu keluar.
Oleh karena itu, ia melangkah menuju ruang kelasnya dan duduk di samping Utomo yang sudah lebih dulu tiba. Sahabatnya itu langsung mencondongkan tubuhnya ke arah Bima.
"Ada apa?" tanya Bima.
"Kau menghilang sejak jumat malam,” ucap Utomo demikian seolah-olah ucapan pria itu cukup mendetail bagi Bima.
"Jadi?”
"Jadi, keberatan mengatakan padaku ke mana saja kau pergi? Kau sebarusnya datang ke tempatku hari Sabtu. Aku dan Sinta mencoba untuk menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif."
Bima mengerang menyesal mendengar ucapan Utomo. la lupa bahwa ia memiliki janji dengan Utomo dan Sinta, dan ia mematikan ponselnya karena tidak ingin siapa pun mengganggu kencannya dengan Winda.
“Kau lupa," ucap Utomo saat melihat ekspresi Bima. Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan. “Kupikir ada sesuatu yang penting yang terjadi kepada mu, tapi ternyata kau lupa.”
"Maaf,” gumam Bima. "Aku pergj ke suatu tempat dan lupa membatalkan janji kita."
“Suatu tempat?" Utomo tidak menutupi perasaan herannya. Pria itu memutar tubuhnya menghadap Bima dan menyipitkan mata. "Kau tidak pernah menggunakan istilah 'suatu tempat' denganku. Biasanya itu adalah 'kampus' atau 'rumah' atau 'club', tapi tidak pernah 'suatu tempat'. Apa yang kau sembunyikan, man?"
Bima menelan ludahnya. "Tidak ada."
Utomo menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. "Alright. Apa kah kau juga pergi ke ‘suatu tempat' pada hari Minggu?"
"Tidak, aku pulang ke rumah. lbuku memintaku untuk pulang."
Utomo menjentikkan tangannya dan kembali duduk menghadap depan sambil bergumam, Jadi, 'suatu tempat' ini jauh lebih penting dari rumahmu. Aku penasaran dimanakah 'suatu tempat' ini."
"Tomo.” geram Bima memeringatkan. la tidak ingin Utomo berusaha untuk mencari tahu.
Utomo hanya menyilangkan tangannya di depan d**a dan mengangkat dagunya menunjuk pintu masuk, mengisyaratkan Bima untuk diam karena dosen mereka sudah masuk ke dalam kelas. Bima hanya menghela napas.
Mereka memfokuskan pikiran mereka pada pelajaran hari itu dan Bima hanya berharap bahwa Utomo lupa tentang hal itu setelah kelas ini selesai. Namun sial karena sepertinya daya ingat Utomo jauh lebih kuat dari harapannya.
Utomo terus bertanya di sela pelajaran mereka, selama istirahat, dan selama pelajaran kedua mereka berlangsung. Bima bahkan berusaha menulikan telinganya selama makan siang karena temannya tidak berhenti bertanya.
"Jadi, kau tidak mau memberitahuku?” tanya Utomo sambil mengiringi langkah Bima yang berjalan keluar dari kantin.
"Tidak. Berhentilah bertanya," jawab Bima.
Utomo mengangguk dan masih mengikuti Bima yang kemudian berhenti di depan pintu kamar mandi. Bima membalikkan tubuh membuat Utomo berhenti mendadak.
"Tomo."
"Apa? Aku sudah berhenti bertanya, bukan?” Ucap Utomo dengan polos.
Utomo adalah sahabat terbaiknya namun Bima tahu bahwa kadang kala pria itu bisa menjad1 sedikit menyebalkan.
"Kau langsung pulang?" Tanya Utomo.
Bima tidak menjawab. la sebenamya masih ingin berada di sini sambil menunggui Winda namun sepertinya Utomo memiliki pikiran sendiri. la tahu bahwa Utomo akan menempel padanya untuk sisa hati ini hanya untuk membuat Bima menyerah dan memberi tahu pria itu ke mana ia pergi pada hari sabtu.
"Ya, aku akan langsung pulang," jawab Bima akhirnya. "Bagus. Aku butuh tumpangan.”
Cengiran pada wajah Utomo membuat Bima ingin menceburkannya ke kolam terdekat. Namun demikian, Bima hanya bisa mengangkat bahu pasrah dan kembali memutar tubuhnya untuk berjalan keluar dari gedung.
Saat mereka berjalan ke arah area parkir, telinga Bima menangkap suara tawa seorang pria namun tidak memedulikannya dan malah mempercepat langkah kakinya. Lain-halnya dengan Utomo, pria itu menoleh dan melihat Winda sedang berjalan santai dengan seorang pria.
"Wow.” gumam Utomo. "Kurasa dunia akan kiamat. Ice Queen berjalan dengan seorang pria.”
Bima menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Utomo yang berjalan di belakangnya menabrak punggung Bima dan hampir terjatuh.
"Auch!" seru Utomo sambil memegang hidungnya karena menabrak kepala Bima. "Kenapa berhenti?”
Bima menoleh pada Utomo kemudian mengalihkan pandangannya ke sekeliling mereka. la mencari sosok Winda yang tadi terlihat oleh Utomo dan ternyata benar adanya, bahwa seorang pria sedang berjalan bersama dengan Winda.
Siapa pria itu?
Bima tidak tahu dan ia tidak ingin tahu. Dadanya terasa panas melihat kedekatan tubuh di antara keduanya dan bagaimana pria itu menunduk memandang kepala Winda dengan tatapan memuja. Winda sendiri terlihat santai di samping pria itu dan tersenyum kepadanya.
Bima tidak menyukainya. Ia tidak bisa menerima bahwa wanita itu tersenyum begitu mudahnya kepada pria lain sedangkan ia harus bersusah payah meruntuhkan sikap dingin dosennya. Tidak, Bima tidak akan membiarkan jerih payahnya dituai oleh pria lain.
Bima mulai melangkah menuju ke dua orang tersebut namun Utomo menarik lengannya.
"Kau mau ke mana?" tanya Utomo.
Sial, Bima lupa tentang Utomo. la memandang ke arah Utomo kemudian kembali melihat ke arah Winda dan si pria tinggi yang berjalan menuju sebuah kendaraan SUV yang terparkir tidak jauh dari sana.
Persetan dengan Utomo! Ia tidak akan peduli jika sahabatnya itu tahu sekarang. Dengan tergesa-gesa Bima mengeluarkan kunci motornya dan mendorongnya ke dalam genggaman Utomo.
"lni. Kau pulanglah lebih dulu, aku masih ada urusan,” ucap Bima.
“Apa?"
Utomo tidak menerima jawabannya karena Bima langsung melesat berlari ke arah Winda sambil memanggil dosennya itu. Bima dapat merasakan tatapan heran Utomo yang mengiringinya. la hanya bersyukur bahwa sepertinya sahabatnya itu cukup bijak untuk tidak mengejarnya.
"Profesor!" seru Bima.
Kali ini Winda membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Bima yang berlari kencang, begitu juga dengan pria yang herada di samping Winda. Keduanya haru saja mencapai kendaraan SUV berwama putih dan membuka pintu penumpang.
"Bima," ucap Winda ragu saat Bima sudah mencapai keduanya.
Bima melirik pria yang masih berdiri dekat di samping Winda. la sedikit kesal karena harus mendongakkan kepalanya karena ternyata pria ini jauh lebih tinggi darinya.
"Ada apa, Bima?” tanya Winda.
Bima mengembalikan pandanganya kepada Winda dan tersenyum. "Maaf, Profesor, tapi aku memiliki beberapa pertanyaan tentang bab yang kau bawakan minggu lalu."
Winda mengerutkan keningnya tanda tidak percaya namun berkata, "Kau bisa datang nanti sore ke ruanganku, Bima, aku tidak memiliki waktu sekarang."
"Tapi…”
“Nanti sore, Bima," potong Winda.
Bima mengeraskan rahangnya. la mencoba untuk mencegah dirinya menarik tangan wanita itu dan membawanya pergi dari tempat ini sekarang juga. Bagaimanapun, mereka memiliki penonton saat ini.
"Kau bisa mengajaknya bergabung untuk makan siang dengan kita, Winda," ucap si pria secara tiba-tiba.
Winda mendongakkan kepalanya memandang sosok di samping nya. "Oh?”
Pria itu langsung memutar kepalanya ke arah Bima dan berkata, "Kami akan makan siang dan kau bisa bergabung... Bima, bukan?"
Bima mengulurkan lengannya dan tersenyum ramah kepada pria itu meskipun ia tidak menyukai sosok tersebut. "Bima Pandawa, salah satu murid Prof. Winda,” ucapnya memperkenalkan diri.
"Benedict, partner Winda," balasnya dengan ramah.
Bima mengeratkan genggaman tangannya saat mendengar pria itu memperkenalkan dirinya sebagai partner Winda. Partner apa? Sial! Pria itu bahka n menyebut nama kecil Winda. "Senang berkenalan dengan Anda, Sir. Tapi aku khawatir bahwa aku memiliki beberapa hal pribadi yang harus kudiskusikan dengan Miss Winda," ucap Bima memberikan penekanan pada ucapannya.
Benedict menaikkan sebelah alisnya memandang Bima kemudian Winda. Sedetik kemudian, pria itu tersenyum dan melepaskan jabat tangan mereka.
"Tentu. Kalau begitu lain kali saja, Winda," ujamya.
Winda ingin membantah namun ia dapat menangkap tatapan tajam Bima yang diberikan kepadanya. Jadi, ia hanya mengangguk dan tersenyum kepada Benedict.
"Baiklah, Ben, lain kali," ucapnya.
Benedict menutup pintu penumpang yang masih terbuka dan berjalan memutari kendaraan tersebut. Pria itu lalu masuk ke balik kemudi dan melambaikan tangannya sebelum menjalankan mobilnya pergi meninggalkan area parkir.
"Ben?” tanya Bima dengan tatapan mencela setelah mereka hanya tinggal berdua di sana. “Kau memanggil nama kecilnya?”
Winda menggelengkan kepala dan memutar tubuh berjalan menuju sedannya yang terparkir tidak jauh dari sana.
"Siapa dia?" tanya Bima mengikuti Winda.
"Bukan urusanmu, Bima."
Bima menarik tubuh Winda kemudian mendorong punggung wanita itu bersandar pada sedannya dan memenjara wanita itu dengan kedua lengannya.
“Panggil aku Bima, b******k!" geramnya sambil memukul atap mobil Winda, membuat Winda melompat karena teckejut.
Mata Bima diliputi oleh emosi membara karena merasa kesal. Wanita itu dengan mudahnya memanggil pria lain dengan nama kecilnya namun menolak untuk menyebut nama Bima meski mereka hanya berdua saja.
"Kau adalah mahasiswaku," ucap Winda lirih. Wanita itu memaodang Bima dengan tatapan yang terlihat sedih. "Bagaimana mungkin aku memanggil nama depanmu?"
"Di mata orang lain, ya. Tapi tidak diantara kita. Aku bukan muridmu saat kita nanya berdua, Winda." bantah Bima.
Winda terdiam. la ingin membantah ucapan Bima namun tahu bahwa memang itu sedikit benar keadaannya. Apa yang Bima lakukan kepadanya saat mereka hanya berdua saja tidak dapat dikatakan sebagai hubungan antara guru dan murid.
"Benedict adalah partner penelitianku," ucap Winda akhirnya. la tidak tahu kenapa ia harus menjelaskannya kepada Bima namun ia tahu bahwa dengan memberi tahu hal ini kepada Bima akan dapat membuat emosi Bima sedikit reda.
"Hanya itu?”
Winda mengangguk. "Sekarang, boleh kau lepas kan aku?"
Bima menyengir dan mengambil kunci mobil Winda dari tangannya. "Aku yang akan menyetir,”
Winda tidak berusaha untuk protes dan naik ke dalam sedannya. Pria itu kemudian membawanya keluar dari area universitas dan pulang menuju apartemen mereka.