Setelah berhasil mengendalikan emosi dirinya, Eka duduk menghadapi kedua orang tuanya. Sungguh dirinya tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya diinginkan oleh kedua orang tuanya itu. Kebahagiaan selama beberapa tahun yang telah lewat seakan menguap tanpa bekas begitu saja. Apalagi ia mengkhawatirkan keadaan kakaknya yang sedang hamil muda. Sungguh malang nasib Winda dirinya seperti ditakdirkan untuk selalu dalam belenggu kedua orang tuanya ini. Eka menatap tajam ke arah kedua orang tuanya. Mencoba mencari jawaban dari pertanyaannya yang begitu banyak dan mengganggu pikirannya saat ini. “Mengapa kalian melakukan ini kepada kakakku?” Tanya Eka dengan nada dingin dan tanpa ekspresi. “Oh, tentu saja kami ingin ikut meramaikan kebahagiaan anakku! Apakah kami sebagai orang tuanya dilarang ikut

