“Mbak langsung mau jemput Zac?” Lala melangkahkan kakinya mengikut langkah bosnya menuju ruangan mereka. Ia dan bosnya itu baru saja keluar setelah dua jam lebih berada di ruangan sunyi untuk mendengar hal yang sangat membosankan, meeting. Sebenarnya itu bagi Lala. Tidak bagi Zakiya yang mendengarkannya dengan antusias. “Iya, kenapa?” tanya Zakiya datar. Lala meneguk ludahnya. Ngeri. Entah apa yang terjadi pada bosnya saat di rumah pagi tadi tapi yang jelas sesuatu yang tidak mengenakan terjadi. Sejak sampai di kantor, mood-nya nampak sangat buruk. “Sesekali nanti ajak saya ya, Mbak,” cicit Lala tertawa garing. “Iya, kapan-kapan. Saya pergi dulu, La.” Zakiya melirik jam yang melingkar di tangannya, masih ada dua puluh menit sebelum bel pulang sekolah Zac berbunyi. Wanita itu segera

