“Yuk, Zac turun.” “...” Zhafif yang sudah memegang tas milik Zacky mengerutkan dahinya ketika melihat ke belakang dan mendapati wajah bocah itu yang cemberut. Tangannya yang hendak membuka pintu mobil ia urungkan. “Ayoo, Zac turun. Bunda mau kerja,” ajak Zhafif lagi ketika anaknya itu masih betah duduk di belakang dan tak medengarkannya. Zhafif menghela nafasnya, ia sangat tahu sekali anak laki-laki itu masih ingin menghabiskan waktu bersamanya juga Zakiya. Ia pun juga sebenarnya ingin. Tapi, mengingat bahwa sampai saat ini Zakiya juga belum memberikan jawaban membuatnya harus menahan. Sebenarnya Zhafif bisa saja untuk tidak memperdulikan jawaban Zakiya—-atau tidak meminta wanita itu memilih dirinya atau Bara. Dan, mereka akan kembali seperti dulu. Namun, tidak ada yang menjamin bah

