“HEI KAU MAU MATI!” Zhafif menunduk meminta maaf pada mobil yang baru saja ia salip, hanya sekilas sebab motor yang sedang dikendarainya melaju dengan kecepatan cukup kencang di jalan yang tengah ramai. Tapi, pria itu sama sekali tak berniat untuk melepaskan tarikan tangannya pada stang gas, ia harus segera sampai disana. Langit yang bewarna orange membuat pria itu sadar bahwa sebentar lagi akan memasuki waktu malam. Ia tidak peduli. Terpenting sekarang ia segera bisa melihat keadaan Zakiya dan Zac. Jantungnya masih berdetak kuat ketika mendengar kabar yang diberikan Bu Mai tadi. Kekhawatiran Zhafif makin menjadi saat hampir tiga jam lamanya Zakiya dan Zac datang ke restorannya, jangankan hadir, anak dan isterinya itu bahkan tak memberi kabar membuat Petra yang melihat temannya sedikit

