"Bunda belum pulang juga, Yah?" Zhafif menundukan pandangannya pada Zac yang tadi tertidur di pahanya karena menunggu Zakiya pukabg. Anak laki-laki itu ternyata terbangun dan perlahan bangkit, duduk bersandar pada lengannya. "Belum, Zac. Kenapa bangun? Tidur lagi, nanti Ayah bangunin kalo Bunda pulang." "Enggak ngantuk lagi," katanya sambil menguap. Sisa kantuknya masih tersisa. Remaja lelaki itu mengelus pucuk kepala Zac, lalu mendongak menatap jam yang berada di atas televisi. Pukul sembilan malam. Zhafif tidak merasa khawatir sebab wanita itu sudah memberinya pesan bahwa ia sudah dalam di perjalanan. "Ayah," panggil Zac. "Kenapa Bunda kita kerja terus, enggak kayak Bunda teman-teman Zac yang di rumah?" Zhafif terdiam sebentar ketika mendengar pertanyaan Zac. Bocah tujuh tahun itu

