Ekspetasi tak pernah sesuai dengan realita. “Zhafif, bagaimana ini?” Zakiya menghembuskan nafasnya panjang sambil menatap ke arah anak tangga lalu kembali pada sosok lelaki yang ada di depannya. “Zac pasti marah sama saya.” “Ini salah saya tidak melihat jadwal dulu,” ujarnya frustasi. Zhafif yang berada di depan wanita itu di meja makan, berpindah menjadi duduk disamping isterinya. “Zac enggak akan marah sama Mbak,” katanya meyakinkan. “Bagaimana bisa? Saya yang membuat acara camping kita batal,” keluh menatap lelaki disampingnya dengan mimik muka bersalah. “Saya yang nanti bicara sama Zac dan bilang bahwa persiapannya belum selesai, atau nanti saya bilang kalo saha ada acara jadi harus ditunda dulu.” “Kamu berbohong demi saya?” tanya Zakiya. “Tidak Zhafif. Saya tidak disuka diboho

