"Saya dan Bara pernah tinggal bersama. Kami melakukan yang seharusnya tidak pernah kami lakukan. Saya tidak lagi suci Zhafif." Nafas remaja pria itu rasanya tercekat ketika mendengar pengakuan dari Zakiya oleh telinganya. Zhafif meremas tangannya sambil memejamkan matanya. Jujur, ia cukup kecewa. Namun, hal itu tidak merubah rasa sayangnya terhadap wanita yang berada di hadapannya. Jika Zakiya dulu sama sekali tak memperdulikan tentang asal usulnya yang tidak jelas, maka sekarang Zhafif merasa tidak perlu terlalu memperdulikannya. “Saya enggak peduli, Mbak,” ujar Zhafif jujur. Hal itu memancing kerutan di dahi Zakiya yang mendengar. Sebenarnya, terbuat dari apa hati Zhafif ini? “Saya cuman kecewa—-atau lebih tepatnya takut,” ungkap pria itu sambil menatap Zakiya sendu. “Ternyata Mbak Z

