“Aisshh...” “Kenapa gue bego banget, sih?!” Attar dan Petra sontak saling pandang kala melihat tingkah Zhafif yang sedari beberapa menit yang lalu terus berseru seperti itu, mengatakan sesuatu yang nampaknya sedang ia sesali. Entah apa, mereka pun tak tahu dan pria itu belum menceritaknnya. “Lo kenapa, Fif?” tanya Attar yang merasa perlu mengajak pria itu berbicara. “Iya, lo kenapa? Kalo mau curhat masalah rumah tangga tuh ada si Abah Attar,” sahut Petra tersenyum jahil yang mendapat dengusan dari Attar. Zhafif menghela nafasnya, lelaki itu meraih gelas berisi air lemon dengan batu es di dalamnya. Asam. “Ini enggak dikasih gula sama Mbak Dini?” tanyanya menyebutkan nama pemilik warung yang sudah mereka kenal. “Kan yang lo tadi mesan tanpa gula,” ingat Petra. “Kalo seseorang dari m

