“Lo yang b******k!” “Eh, emang lo enggak kayak setan?” “Woi diam anak gue mau tidur!” Zhafif menatap Kanya meminta penjelasan ketika mendengar suara-suara ribut di luar sana yang sangat lelaki itu hapal milik siapa saja. “Gue lagi di rumah Attar dan Lita waktu Zac nelpon, Petra juga datang. Mereka khawatir sama lo. Dan... lo harus dengerin mereka dulu, Fif,” jelas Kanya membuat lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar. “Jangan sampai hal ini bakal jadi penyesalan buat lo di kemudian hari,” lanjut gadis muda itu membuat Zhafif menoleh menatap Kanya. Zhafif terdiam lama, sebelum akhirnya lelaki itu menghembuskan nafasnya. Benar juga apa yang dikatakan Kanya, jika diingat ia sama sekali belum mendengar penjelasan mereka. Zhafif langsung menganggap mereka sebagai seoran

