Keluh keringat membanjiri tubuh pria itu, nafasnya nampak tersengal. Namun, tidak ada alasan yang membuatnya berhenti. Ada dua sosok yang sedang menunggunya, dua sosok yang sekarang mengharapkan kehadirannya. Zhafif memarkirkan motornya asal, teriakan dari satpam sekolah untuk menyuruhnya memperbaikinya ia abaikan. Maafkan saja dirinya, Pak. Ia benar-benar membutuh waktu untuk bisa hadir di acara Pentas Bakat Zac. Lelaki remaja itu berlari menembus kerumunan, matanya tertuju pada seorang anak kecil yang baru saja naik ke atas panggung. Nomor urut 30. Tunggu, tunggu. Nomor urut Zac berapa? Ah, astaga. Tidak harapan lagi untuk Zhafif melihat Zac tampil, pria kecil itu mendapat nomor urut 15. Itu artinya dia sudah sangat terlambat. Dengan tubuh Zhafif lemas, ia keluar dari kerumunan yang

