Zakiya menghembuskan nafasnya panjang, meremas kedua tangannya sebelum menggerakan salah satunya untuk membuka pintu. Tapi, tetap saja ia tidak bisa menutupi rasa takutnya yang meluap. Tangannya masih bergemetar saat hendak memegang gagang pintu mobil. Ia menatap lurus, sialnya tidak mendapatkan apapun. Ia harus memastikan jika korban kecelakaan itu bukan Zhafif. Wanita itu menoleh ke arah anaknya yang berada di sampingnya, wajah bocah lekaki tujuh tahun itu nampak pucat. Apa anak itu juga sedang takut? “Zac, Bunda kesana dulu ya. Nanti Bunda balik lagi.” Zakiya menutup pintu mobilnya, menarik nafasnya panjang saat kakinya mulai melangkah. Tak sanggup, baru dua langkah. Ia merasa seperti membawa berpuluh-puluh ton yang menempel di pundaknya. Sekelebat bayangan tentang Zhafif terlintas

