“Eunghhh...” Zhafif mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha menyesuaikan kedua matanya dengan cahaya ruangan. Hal yang pertama kali ia lihat adalah senyum Maminya yang masih menyisahkan gurat khawatir. “Udah enakan, Mas? Mau minum?” tanya Zalia. Zhafif mengangguk sambil tersenyum kecil. Remaja itu sudah merasa tubuhnya jauh lebih baik daripada dua hari yang lalu. “Biar Mas ambil sendiri aja, Mi.” Zalia tidak perkataan anaknya, ia menuangkan air dalam teko ke gelas lalu mendekatkannya Zhafif. Lelaki itu meminum dua teguk lalu berterima kasih. Ketika hendak menyamankan tubuhnya, Zhafif sontak menuduk ketika merasakan ada sesuatu yang memeluknya erat. Ia kemudian tersenyum kecil. Zacky. “Tadi Zac Mami suruh tidur enggak mau, eh, waktu disuruh tidur disamping Mas langsung mau,” cer

