“Lebih baik kamu pergi dari sini.” “Tapi, Pi...” “Pergi dan jangan pernah menginjakan kaki kamu disini lagi!” Hatinya terasa begitu hancur ketika mendengar kalimat itu dari Maminya. Wanita itu mengusirnya, tak mau lagi melihatnya disini. Bahkan wanita itu mengatakannya tanpa menatap Zhafif. Seolah mengatakan bahwa ia muak dengan kehadirannya. Zhafif terisak, mengusap air matanya yang telah kering dengan punggung tangannya. Remaja itu sadar, harusanya sedari dulu ia meninggalkan Raka dan Zalia. Zhafif adalah sumber kesakitan dan kepedihan untuk mereka. “Mas Zhafif pergi, Mi,” pamitnya. Namun sebenci apapun Zalia padanya, Zhafif berharap bahwa marahanya sang Mami hanya sebentar saja. Pria itu meninggalkan kedua orang yang membesarkannya dengan hati perih, walau seorang lelaki, Zhafif

