Bab 45 - Pedesaan

2120 Kata

Setelah berjalan berpuluh-puluh menit akhirnya aku bisa bernapas lega saat melihat rumah penduduk yang berjejer rapi. Ibu Sari masih berada disampingku tidak pernah meninggalkanku barang sedetikpun. "Ayo... Kita ke rumah bidan dulu." ujarnya sambil terus melangkah, aku terus mengikuti walaupun sesekali harus meringis karena luka dikaki dan juga perutku yang terasa sangat perih. Kami terus berjalan melewati rumah penduduk disini, sepertinya tempat ini benar-benar jauh dari Jakarta padahal seumur hidupku aku belum pernah keluar Jakarta bukan karena sesuatu hal tetapi bunda memang lebih betah dirumah ke mall saja sangat jarang. Bunda keluar hanya untuk sekedar beli keperluan, pengajian, pertemuan sesama teman arisan. Keluar kota saja tidak pernah lalu bagaimana dengan luar negeri? Langk

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN