Melihat apa yang ada didepan matanya, Ruby dibuat takjub. Tidak mendengarkan apa yang dikatakan James. Hanya melihat tubuh James yang masih setengah telanjang. Meski terlihat banyak bekas luka namun tidak mengurangi keindahan setiap lekuk ototnya. Sinar matahari melewati jendela menyinari tubuh itu dengan kilauan keringat.
''Kurasa kamu memang sudah tidak tahan lagi.'' Serigai James yang melihat ekspresi Ruby.
Muka Ruby yang sudah seperti udang rebus membuat James tersenyum licik.
Ruby dengan refleks membalikan badan sambil menutupi muka dengan kedua tangannya karena malu. Bagimana dia bisa cepat tergoda. Sungguh memalukan.
James tiba-tiba sudah berada dibelakang Ruby menyentuh pinggang tipis Ruby. Membisikkan sesuatu dengan hembusan nafas panasnya tepat ditelinga Ruby.
''Kita mulai malam ini ya diranjangku.''
Mendengar bisikan James yang tiba membuat Ruby terperangah, berbalik badan dan kemudian terdengar suara pukulan tepat mengenai pipi.
Prak....
Tamparan Ruby tepat mendarat di pipi James. Membuat mata James tiba-tiba berubah menjadi memerah seperti mata iblis.
''Tuan, tolong jaga sikap anda!!!.
Ruby menatap James dengan penuh kebencian. Mengeluarkan koran-koran dari dalam tasnya, berisi berita hilangnya cincin itu. Melemparkan dengan penuh kekuatan ke badan James.
''Berita ini sengaja anda yang keluarkan ke publik kan? ,perusahaan kami sedang kesulitan karena ini. Apakah anda memang suka menjadi pengecut seperti ini. Bukankah kita sudah sepakat kemarin?!''
Mata James menghitam, kata kata ''pengecut'' terngiang-ngiang dikepalanya. Berani-beraninya wanita ini memanggilnya pengecut.
Dengan mata yang sudah mengeluarkan urat merahnya. James maju meraih tangan Ruby dengan kasar menyeretnya menuju meja kerjanya.
Menghimpit Ruby diujung meja kerja. Tampak Ruby yang kini mulai ketakutan dengan tindakan James.
''Tuan jangan seperti ini, kumohon!''
James menekan Ruby dengan kedua tangannya, hingga dia tidak memiliki jarak untuk melarikan diri kekanan maupun ke kiri. Ruby dipenjara oleh kedua Tangan James.
''Apa yang ingin anda lakukan?!'' Teriak Ruby lagi.
Dia memukul d**a James, mengisyaratkan untuk melepaskannya. Namun semakin Ruby melawan semakin membakar emosi James.
''Apa yang kau katakan tadi? Aku pengecut?!'' Bentak James
''Tuan anda sungguh keterlaluan, lepaskan.....!'' Ruby masih melawan melawan James
James yang sudah gelap mata, dengan kasar tangan kirinya memegang leher Ruby. Tangan kanannya sudah mengangkat pinggang Ruby menaikannya ke atas meja. Hak Tinggi Ruby sudah terpisah dari kakinya.
Dengan ganas James mencium leher Ruby. Sudah tidak tau berapa banyak perlawanan dari Ruby, namun tenaganya tetap kalah dengan laki-laki iblis itu. Dia tidak menyadari jika kata-katanya tadi sudah mematik emosi macan yang sedang tidur.
''Tolong.....!''
Ruby berteriak, namun sekeras apapun dia berteriak tetap tidak ada yang akan merespon. Ini kandang macannya. Siapa yang akan menolong.
Air mata menetes dari wajah putus asa Ruby, membasahi pundak James.
Barang-barang di meja James sudah berantakan bahkan beberapa sudah jatuh ke lantai. James masih terus menciumi leher putih Ruby. Kemeja Ruby ditarik hingga terdengar suara robekan. Kini kancingnya pun sudah terlepas sebagian.
Ruby sudah sangat putus asa, dia tidak berdaya, hingga yang dia bisa lakukan hanya menangis dengan keras. Kata-kata tidak sengaja keluar dari mulut Ruby.
''Reyhan....Reyhann....huhuhuhu Reyhan...''
Tangisan Ruby terdengar ke telinga James yang hampir tuli karena nafsunya. Menghadapi wanita ini sungguh membuatnya lepas kendali.
Tidak memperdulikan apapun dan terus menyerangnya, ingin menjadikan miliknya seorang, namun tiba-tiba james tersadar karena dia mendengar nama pria lain dari mulut wanita itu.
Membuatnya sudah kehilangan seluruh nafsunya.
''Apa yang kamu katakan?!'' James masih berteriak
Ruby hanya terus berusaha melawan, tidak menghiraukan teriakan James.
Sialllll......
James mengumpat dan akhirnya melepaskannya, dengan kesal dia berbalik.
Ruby merasa sesak, menutupi mulutnya dan tangan lainnya menutupi dadanya yang terbuka kemudian turun dari meja.
''Pergilah, aku tidak ingin melihatmu.!!''
James berkata tanpa perasaan mengusir Ruby.
Ruby menangis dengan secepat kilat meninggalkan ruangan dengan telanjang kaki, dan keadaan yang tidak enak dilihat.
James sungguh kesal, dulu di Las Vegas Ruby juga menyebutkan nama pria itu.
Sekarang nama itu keluar dari mulut Ruby lagi. Apakah pria yang melamar wanita itu di Las Vegas?. Jelas memang dia. Pria yang sudah melamar wanita itu pasti bernama Reyhan. Pikir James dengan frustasi.
Hatinya masam
Tidak boleh ada pria lain ......
Dengan cepat James menyuruh pengawal pribadinya untuk menghadang Ruby di pintu bawah dan memberikan pakaian ganti padanya. Melihat keadaan Ruby tadi, membuatnya khawatir.
''Jangan biarkan dia keluar sebelum mengganti pakaianya.''
.
.
Air mata Ruby terus mengalir namun terus dihapusnya seiring Ruby meninggalkan gedung itu. Dia sudah berganti pakaian dengan terpaksa,
Bagaimana tidak, kemejanya sudah tidak berbentuk karena ulah iblis itu. Tas yang dibawanya juga berukuran kecil bagaimana bisa menutupi sobekan kemejanya.
Namun sepatunya masih tertinggal didalam, dia keluar dengan bertelanjang kaki, sudahlah....
persetan dengan hal itu. Lebih baik bertelanjang kaki dari pada bertelanjang d**a. Ruby berjalan mencari taxi untuk segera pergi.
Hari mulai petang.
Mencari taxi di jalan ini bukan hal yang mudah. Dia terus berebut dengan orang. Ada apa dengan hari ini sungguh membuatnya ingin memaki dunia.
Hari ini dia harus menelan fakta, cincin milyaran tidak ditemukan, Pria itu benar-benar bukan Reyhan dari tanda-tanda ditubuhnya, lalu dimana Reyhan. Dan terakhir pria itu melecehkannya. Sungguh hari yang lengkap.
Dia terus menunggu Taxi selanjutnya yang lewat. Namun tidak ada satupun yang kosong.
Mata Ruby kembali berair, sepertinya dia mulai menangis lagi, hingga tidak lama kemudian mobil Bugatti hitam berhenti disampingnya.
Bugatti yang menonjolkan kegarangannya. Membuka salah satu sisi kacanya, tepat disamping Ruby. Terlihat sosok pria tampan yang tidak lain adalah James.
Dia sudah mengenakan kemeja hitam dan rambut yang berantakan didahinya, terlihat sengaja terurai didahinya.
''Naiklah.... Aku akan mengantarmu?'' James berbicara dari sisi kemudi.
Ruby terus diam dan berjalan maju.
''Jangan menguji kesabaranku lagi, cepat naik.!!!''
Teriakannya tidak dihiraukan Ruby, James sudah hampir gila turun dari mobil.
Menarik tangan Ruby dengan kasar.
''Apa kau tuli, kalau kubilang naik ya naik.''
''Dasar b******k, apa yang kau inginkan?!
Kata-kata umpatan sudah tidak tahan keluar dari mulut Ruby.
Dahi James mengeryit.
Sungguh beraninya wanita ini.
Dia menarik Ruby ke dalam mobil Buggatinya. Memenjarakan Ruby dengan sabuk pengaman yang hanya bisa dilepas olehnya.
Mengunci pintu mobilnya hingga James menyentuh kemudi.
Ruby terus berteriak dan mencoba melepaskan sabuknya namun tidak bisa lepas. Ruby sudah sangat kesal
''Tuan, aku bisa pergi sendiri, anda tidak perlu mengantarku!''
''Apa kau tidak tahu, berapa banyak wanita yang ingin ku antar?!, seharusnya kau bahagia bisa duduk disini.''
Kata James dengan kesombongannya.
Bugatti hitam meluncur dengan mulus, kecepatan penuh menembus kepadatan lalu lintas kota.
Ruby yang pasrah akhirnya terdiam, percuma dia melawan iblis ini. James dengan tenang berada dibalik kemudi.
''Kau sudah tau namaku kan?''
Tanya James tiba-tiba
''Nona Ruby......kuharap kita bisa bekerja sama kedepannya!''
Dengan santai Ruby menoleh.
''Jika yang tuan maksud adalah kerjasama sebagai simpananmu, Cihhh. Maaf aku tidak tertarik.''
Kata-kata Ruby mengusik James.
Bugatti yang sudah melaju cepat tiba-tiba dibanting ke kiri. Berhenti menepi dari jalan raya.
''Nona Ruby, Kau masih berhutang padaku, apakah sudah lupa?'' James mengingatkan Ruby mengenai cincin itu.
'' Tuan James, tadi anda melecehkanku apakah anda juga sudah lupa?!'' Teriak Ruby dengan frustasi.
Entah James tidak tau harus senang karena namanya tiba-tiba disebut atau harus marah karena kata-kata melecehkan.
James mengerang dan berkata
''Waktumu tinggal 2 hari lagi, apa kau bisa menemukan cincin itu?''
Ruby menjawab dengan menaikan nadanya.
''Tuan James, jika cincin itu tidak ditemukan. Aku akan menggantinya dengan uang.''
Dia tahu jika semua hasil lelang sudah diserahkan ke badan amal. Jadi Ruby harus mengembalikannya dengan uangnya sendiri.
''Apa kau sanggup membayar?!''
Mata james menyipit dengan menunjukan kelicikan.
'' Walaupun seumur hidupku tidak bisa membayarnya, sampai matipun aku tidak akan sudi jadi simpananmu.!!!''
Wanita ini sungguh membuat James sakit kepala. James menunjukkan raut muka kesalnya. Dia lebih memilih mati dari pada menjadi simpanannya. James mencoba bersabar.
''Baiklah hari ke 3 serahkan padaku semua uangnya, beserta biaya ketidakpuasan. Totalnya 50 Milyar.''
Ruby tersentak dengan angka itu?
''Apa anda sudah gila, bahkan anda membelinya hanya 30 Milyar, anda ingin aku membayarnya 50 Milyar.!''
''Hanya ada 2 pilihan, aku sudah mengatakan pilihan yang lain. Terserah padamu pilih yang mana.'' Bibir james terangkat satu sisi menunjukkan kemenangannya.
Ruby terdiam tak ada kata yang keluar dari mulutnya seperti membeku, bagaimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Terlebih lagi orang disampingnya adalah iblis mafia. percuma saja melawannya.
''Baiklah pikirkan lagi, Aku akan mengantarmu pulang, tunjukan padaku jalannya.'' James masih tersenyum licik
''Tidak perlu, aku akan kembali ke kantor.''
Jawab Ruby yang baru tersadar dari lamunannya.
''Aku akan mengantarmu ke kantor.''
Belum sempat Ruby menjawab. James sudah melajukan Bugattinya melesat dengan kecepatan sangat tinggi.