Didepan gedung Shining Corp.
Bugatti hitam berhenti tepat didepannya. Jam sudah menunjukan jam 8 malam. Seharusnya kantor sudah sepi namun Ruby bersikeras untuk lembur.
Suasana di dalam mobil hening tak ada yang mendahului untuk berbicara. James pun tidak berencana segera membuka pintu mobil.
Suasana hening yang sungguh mencekam.
''Tuan, tolong buka pintunya. Tenang saja aku tidak akan melarikan diri. Akan kubayar hutangku.''
Tidak mendengar ocehan Ruby, James turun tanpa membuka terlebih dahulu pintu penumpang.
James membuka pintu Ruby dengan tangannya sendiri, dia berjongkok dan menarik satu kaki Ruby.
''Kau wanita yang sungguh ceroboh, ingatlah selalu memakai sepatu. Sepatu akan membawamu ketempat yang pantas.''
James berkata dengan suara lembut terdengar sangat meluluhkan, memakaikan satu persatu sepatu hak tinggi Ruby yang sempat tertinggal di ruangan James.
Tindakan James ini membuat hati Ruby masam, bagaimana dia terlihat seperti Reyhan jika lembut seperti ini. Mata Ruby sudah berair, ditahannya air itu untuk keluar.
Kedua sepatu sudah terpakai, James mendekat kearah Ruby wajahnya tepat didepan wajah Ruby. Sangat dekat....
''Bukan aku yang menyebarkan berita itu. Aku akan menyelidikinya.''
Nafas James sudah menyentuh pipi Ruby sangat hangat. Detak Jantung Ruby tak dapat dikendalikan. Keberadaan James, dan aroma maskulinnya sangat menekan....
Kedua mata yang bertemu, saling bertatapan. Saling menembus satu sama lain, seperti merasakan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dibalik tatapan keduanya. Seperti perasaan saling merinduhkan. Sangat hangat...
Klik...
Suara sabuk pengaman yang terlepas. Merusak suasana romantis mereka. Membuyarkan semua lamunan Ruby.
Pipi Ruby pun memerah dibuatnya.
Ruby dengan cepat mendorong James menjauh dan keluar dari mobil.
''Terimakasih....!''
Ruby berencana menghindar dan langsung pergi. Namun tangannya kembali ditarik James. Dia meremas pergelangan tangan Ruby. Ruby berusaha keras melepaskannya.
''Sebenarnya apa yang anda inginkan?''
James menatap mata Ruby dan ingin mengatakan sesuatu. Namun terdengar suara laki-laki memanggil
''Ruby....!''
Itu suara Andre terdengar dari jauh.
''Tuan, tolong lepaskan. Bosku sedang melihat kita.''
Ruby memohon pada James.
''Ingat, waktumu tersisa 2 hari. Pikirkan dengan matang.''
James akhirnya melepaskan tangan Ruby dan beranjak menuju mobilnya.
Andre ternyata tidak salah lihat, perempuan itu memang Ruby. Tapi siapa laki-laki itu. Tidak pernah dia melihat Ruby dengan laki-laki disekitarnya kecuali dirinya dan timnya. Andre mendatangi Ruby, setelah melihat pria itu masuk ke mobilnya.
''Ruby, dari mana saja kamu, aku mencarimu dari tadi. Timmu bilang kamu menemui orang itu?''
Ruby mengangguk dan terlihat lemas.
''Siapa pria tadi? Apakah dia pemenamg lelang?''
Respon Ruby masi sama, dia masih mengangguk tanpa mengeluarkan suara kemudian menggiring Andre untuk masuk kedalam kantor.
Pemandangan itu terlihat jelas oleh James. Ternyata pria itu adalah bosnya?
Hhmmmm.
Mata James menyipit melihat kepergian mereka. Terlihat matanya tajam seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Tangannya sudah mengepal diatas setir kemudi.
Cari Matii.....
-------------
Ruby kembali duduk dimejanya. Memegang keningnya. Dia berpikir bagaimana mendapatkan 50 milyar.
Andre melihat keanehan Ruby dan bertanya.
''Bagaimana, Sudah dapat jawaban?. Dia ingin uang?''
Ruby mengangguk,
''50 milyar, 2 hari lagi. Jika tidak.....''
''Apa? 50 Milyar? Dia Lintah Darah atau apa? Jika kita tidak memberikannya dalam 2 hari memangnya apa yang akan dia lakukan?'' Andre penasaran
Ruby tidak ingin Andre mengetahui syarat itu.
''Andre dia berbahaya, aku akan menyelesaikannya sendiri. Perusahaan sudah cukup menanggung kerugian.'' Ruby dengan putus asa bersandar pada kursinya.
''Kamu ingin menanggungnya sendiri? bagaimana kamu bisa mendapatkan 50 Milyar dalam waktu 2 hari ?. Aku akan meminjam ke Ayahku sekarang. Tenang lah.'' Andre mencoba menenangkan Ruby.
''Tidak.... Andre jangan Biarkan CEO terlibat, tidak dikeluarkan saja aku sudah bersyukur.'' Ruby memohon kepada Andre dia tidak ingin melibatkan perusahaannya.
Lalu bagaimana sekarang. Kepala Ruby Hampir Pecah.
''Andre, apa polisi sudah memberi kabar?''
Dia ingin memastikan
''Tidak, tidak ada jejak sama sekali. Bahkan mungkin dilakukan oleh orang dalam. Karena dilakukan dengan sangat rapi. Ruby, apa kamu mencurigai seseorang di dalam timmu?''
Andre menanyakan dengan serius
''Andre, aku percaya sepenuhnya pada timku. Mereka tidak mungkin membunuh diri mereka sendiri. Dengan begini, mereka juga terancam.''
Dia seperti ingin menangis, menenggelamkan wajahnya dilengan yang ditempelkan dimeja.
''Ruby, satu-satunya cara hanya dengan meminjam, nanti berjalan waktu aku akan bantu melunasinya.''
Andre sedang berpikir.
''Kau kira siapa yang mau meminjamkan 50 milyar dalam satu malam? Bahkan aku pun tidak punya barang untuk dijaminkan?.''
Tiba-tiba ide melintas dikepala Andre.
''Kau ingat Mr. Kang? Milyader dari korea? Dia dulu sangat menyukai hasil kerjamu. Bahkan selalu memujimu disetiap acaranya. Dia juga sangat menyukai barang antik. Dirumah nenekku ada beberapa barang antik, coba kita tawarkan sebagai jaminan. Kurasa itu adalah uang kecil baginya, terlebih lagi dia punya kesan bagus terhadapmu?''
Ruby dengan mata bersinar memandang Andre
''Apakah kita harus ke Korea dulu untuk menemuinya?''
''Tidak...., besok adalah hari ulang tahun kota kita. Ada sebuah pesta yang diadakan untuk beberapa investor. Dia akan datang. Kurasa ini kesempatan bagi kita, aku akan menggantikan ayahku dalam undangan.''
Andre menjelaskan dengan semangatnya.
''Andre, terimakasih.....'' mata Ruby berkaca-kaca
Tak tahu lagi bagaimana Ruby harus berterimakasih dengan Andre, dia selalu baik padanya. Namun, Ruby tidak merasakannya sebagai cinta. Hal itu yang membuat Ruby semakin merasa bersalah.
''Baiklah, aku akan mengantarmu pulang, besok kau harus tampil secantik mungkin, mengerti?''
Andre akhirnya mendorong Ruby untuk pulang. Keadaan Ruby sekarang memang sangat kacau.
......
Ruby selesai mandi. Dia melihat layar ponsel yang baru dinyalakannya, dia hampir lupa jika memiliki handphone di tasnya.
Hahahaha.
Terlihat dilayar, beberapa panggilan tidak terjawab dari Andre dan Sarah.
Tapi, ada juga hampir 30 panggilan tidak terjawab dari iblis itu?.
Matanya terbelalak.
Tidak lama kemudian, Hpnya bergetar lagi.
Iblis itu lagi?......
Apalagi ini? Apa dia sedang menagih hutangnya setiap menit? Dasar lintah darat. Mafia kejam, dan bajingaann..
Ruby akhirnya memblokir nomor iblis itu.
Semua amarahnya ingin dia tumpahkan. Bagaimana dia bisa membayangkan ada
Hari ini.
Sungguh sial.
Ruby menutup kepalanya dengan bantal.
Tiba-tiba ada bunyi dering lagi.
Tidak mungkin dia sudah memblokirnya.
Ruby melihat layar ponselnya.
Rupanya nomor lain,...
Mungkin saja ini nomer iblis itu juga. Huh.
Sangat kesal Ruby mematikan ponselnya.
Dia menutup kembali kepalanya dengan bantal.
Menyebalkan.....
-------
Dibalik meja kerja di sebuah Villa pribadi.
Mata coklat yang ditembus sinar bulan, tampak sedang mencoba meremuk Ponselnya.
Berani-beraninya wanita itu.....
Tidak hanya mengacuhkan telfonnya tapi juga memblokir nomornya.
Bibirnya terangkat sebelah semakin menunjukkan pikiran liciknya.
''Dia harus diberi pelajaran.!!!!''
Dia memandang Ponsel yang ada di tangannya sudah remuk seketika.
Terlihat jelas gelang kain terkait kuat dipergelangan tangannya.
Memandang gelang itu dengan dalam.
Selama beberapa taun gelang itu selalu menemaninya. Tidak pernah terlepas dari tangannya.
Bahkan saat pertama bertemu ayah angkatnya, dia masi mati-matian mempertahankan gelang ini.
Jika ada orang yang melepaskan dengan paksa, dia tidak segan-segan menyakiti orang itu.
Entah mengapa gelang ini bagai segalanya dalam hidupnya.
Sejak dia sudah pulang ke Negaranya. Dia ingin mencari tau asal usul gelang ini.
Dan asal usul dirinya......