11. Penagih hutang

1217 Kata
Pesta ulang taun kota dirayakan sangat meriah. Baik di jalan raya maupun di rumah-rumah. Masyarakat sangat antusias. Di sebuah ballroom hotel bintang 5 terkenal dikota A. Berkumpul orang-orang terkenal, baik investor dalam dan luar negeri. Kota A sangat terkenal dengan beberapa hasil tambangnya. Pantas investor yang datang pasti bukan orang biasa di negeri ini bahkan luar negeri. Karpet merah digelar dalam ballroom. Suasana pesta tak kalah ramai, para tamu mulai berdatangan dan berbaur untuk urusan bisnis tentunya. Musik klasik mengiringi datangnya setiap undangan. Suasana tercipta sangat elegan dan romantis. Ditengah keriuhan acara, muncul sosok yang asing berjalan di karpet merah. Sosok itu berhasil menarik perhatian semua mata. Tak terkecuali kaum hawa yang matanya mulai bersinar. Pria bertubuh tinggi, dengan postur sempurna dan kaki jenjangnya. Bentuk hidung yang tinggi, raut wajah yang mendominasi. Wajahnya sangat tampan. Mata coklat yang terlihat sangat dingin. Tuxedo hitam melekat ditubuhnya. Seakan mengagungkan bahwa dia layak disebut dewa. ''Kudengar dia adalah anak angkat Ma.'' Seorang pria berbisik pada orang disampingnya. ''Banyak berita mengatakan Organisasi Ma memperluas kekuasaan berkali-kali lipat berkat orang ini'' Bisik yang lainnya. '' Ya, kudengar dia juga sangat dingin dan kejam. Dia masih sangat muda tapi sudah membuat pebisnis senior ketakutan. Sungguh mafia yang kejam.'' Kata seorang lagi. Seorang perempuan menyela pembicaraan mereka. ''Bukannya kekuasaannya di Las Vegas? Mengapa dia muncul disini? Ini benar-benar gawat. Matilah kita......'' Diikuti oleh keresahan orang-orang itu. Walikota berjalan maju dan mengulurkan tangan pada James ''Selamat datang kembali tuan muda Ma.'' James membalas jabat tangan walikota ''Sungguh kehormatan bisa hadir di acara ini Pak Walikota.'' ''Kudengar kehebatan tuan muda Ma, tidak menyangka masih semuda ini. Aku sangat terkesan. Kuharap kita dapat bekerjasama kedepannya.'' Walikota berkata dengan antusias sambil menepuk lengan James. ''Jangan sungkan...'' James menyambut dengan senyum merekahnya. Senyuman yang mampu mencuri perhatian kaum hawa disekitarnya. James berjalan bersama pengawal pribadinya yang biasa dia panggil 'Drago' berjalan dan berpisah dari rombongan Walikota, berdiri pada sebuah meja kecil yang dipenuhi gelas wine berkualiatas tinggi. Tak lama kemudian seorang wanita muda elegan, seperti tampak menonjol dibandingkan wanita lain sangat berani mendekati James. Sebelum mendekat, Drago sudah menghalanginya. ''Nona, tuan kami tidak ingin diganggu.'' Kata drago dengan wajah garangnya ''Dia terlihat tidak berpasangan, aku hanya ingin menemaninya.'' kata wanita itu ''Nona, Tuan muda alergi terhadap wanita. Terlebih lagi dengan wanita seperti anda.'' Mulut Drago memang sangat pedas. Tak pandang pria ataupun wanita. Wanita itu mendengus kesal dan pergi. Wanita sekarang sangat agresif, batin Drago sambil menggeleng kepalanya. Suasana pesta makin dipadati dengan undangan. Tiba-tiba pandangan orang-orang tertuju pada pintu masuk. Terlihat.. Pasangan yang terlihat serasi muncul berjalan dikarpet merah. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan pinggul yang tipis dibalut dengan gaun panjang merah bertali ikat leher. Bahunya terekspose sempurna. Dilehernya berhias kalung permata 'Ruby merah'. Orang-orang tidak tahu jika demi terlihat elegan dia harus menggali tanah seharian untuk mencari kalung ini. Wanita itu Berjalan dengan anggun berpegang pada lengan seorang pria. Pria yang tampan dan lembut namun kecantikan wanita itu lebih menarik perhatian. Rambut coklatnya bergelombang diurai rapi. Semakin menunjukan keindahannya. Ruby dan Andre tampak tersenyum pada para tamu undangan yang dari tadi memandangi mereka. Seperti mereka adalah tuan rumah acara itu. ''Andre, apa kau mengenal mereka semua? Kenapa mereka memandang kita terus?'' ''Tidak semuanya, tapi kurasa mereka hanya iri melihat kita''. Kata Andre sambil berbisik Ruby menepuk lengan Andre sambil tertawa. Pemandangan ini tertangkap oleh sepasang mata elang. Mata itu terlihat membara seperti sedang terbakar. Gelas wine James sudah hampir pecah dibuatnya. Berani-beraninya wanita itu..... Nomor James diblokir seluruhny, sekarang dia muncul dihadapannya dengan mesra bersama seorang laki-laki. Pandangan mata Ruby akhirnya bertemu dengan tatapan dingin James. Seketika itu tubuh Ruby membeku ditempat. Iblis itu mengapa selalu ada dimana-mana???. Membuatnya kesal, rencananya bisa gagal jika ada Iblis itu disini. ''Ruby, ayo Mr. Kang ada disana.'' Kata Andre sambil menyentuh pinggang Ruby. Tampak James tidak senang dengan tindakan Andre, matanya mulai menyipit. Senyum liciknya kembali muncul. Mengawasi dari kejauhan James melihat mereka bertemu dengan tamu asing, sepertinya terlihat akrab dan terlihat Ruby berbisik pada pria asing itu. Hal ini membuat James penasaran setengah mati, ada hubungan apa mereka dengan orang asing itu sampai beberapa menit dihabiskan bersama. Belum sampai pembicaraan ke intinya. Mr. Kang sudah diajak berdansa oleh istrinya. Ruby sudah gelisah dibuatnya. Apakah dia akan berhasil mendapakan pinjaman. Tangan Ruby mulai dingin, namun tangan hangat Andre mengajaknya pula untuk berdansa. Alunan musik klasik berpaut menjadi satu, menjadikan suasana ballroom nampak seperti suasana yang romantis. Setiap pasangan nampak berdansa mengikuti alunan musik. Ruby dan Andre juga sudah ada dilantai dansa menikmati suasana, namun acara dansa berpasangan berubah menjadi dansa berganti pasangan. Berputar dan menemukan pasangan yang lain. Sejenak Ruby dan Andre tercengang. Alunan musik berubah menjadi lebih cepat. Mereka terpaksa untuk saling melepas karna banyak orang yang sudah saling bertukar. Ruby mulai berdansa dengan pria lain, tapi nampak sedikit bingung. Namun dia berusaha untuk tersenyum. Saatnya berganti pasangan lagi, Ruby sudah ingin menepi namun didepannya sudah ada yang mengajaknya berdansa lagi. Ruby kenal orang itu. Dia adalah Pengawal pribadi James, Drago. ''Halo nona, ijinkan aku berdansa denganmu.'' Ruby masi terdiam namun tangannya sudah ditarik drago kearah lain. Bukan untuk berdansa. Tangan Ruby diberikan kepada tuannya. James Ruby tersentak, wajah James sudah ada didepannya. Mencengkram tangan Ruby sambil menyinggungkan bibirnya dengan senyuman. ''Nyalimu sangat besar ternyata.'' Satu tangan James memeluk pinggang Ruby dengan erat dan mulai berdansa. Ruby masih terbeku ''Bahkan masi sempat bermesraan dengan pria lain?'' James berbisik pada telinga Ruby. Ruby memberontak dan ingin melepaskan diri. Namun pinggangnya dipeluk kuat oleh James. Tubuh keduanya sudah sangat menempel. Orang yang tidak tahu pasti mengira mereka adalah suami-istri. ''Apakah ini kebiasaan tuan, berkeliaran sebagai penagih hutang?'' Kata Ruby tenang ''Tentu saja, cepat buka blokir nomerku. Atau kau tanggung konsekuensinya!!!!. Mata James menyipit, satu tangannya semakin meremuk Ruby dalam pelukannya. James membelai rambut di dahi Ruby menuju telinganya. Mata James mengikuti setiap gerakan tangannya. Ruby kehilangan kata dengan gerakan James ini. Seperti listrik yang masuk ketubuhnya. ''Kuberi syarat lain, jika ingin hutangmu lunas !'' James membisikan lagi dengan mesra. Ruby masih terdiam terbodoh sejenak. ''Bekerjalah ditempatku, segera keluar dari tempatmu sekarang.''. James berbicara dengan nada yang menekan. Ruby tersentak, pria ini sungguhh...... Tangannya ingin melawan. Namun James sudah menambahkan kata yang membuat Ruby lemas. ''Dan lagi, apa kau ingin menunggu Shining Corp hancur untuk membuatmu berhenti bekerja?'' Tambah James, tidak membiarkan Ruby mengelak. ''Jamess......Kau adalah orang yang paling mengerikan yang pernah kulihat.!! Ruby mengepalkan tangan dengan mata yang berkaca-kaca ''Kamu akan mengerti lagi, seberapa mengerikannya aku.'' Ruby memandang James dengan penuh kebencian. Sangat membencinya.... Ruby membisu ingin sekali meremukan tulang iblis ini. Namun sebelum meremukannya, dia dulu yang akan remuk. Bagaimana bisa dia melepaskan pekerjaan impiannya. Dasar iblis licik. Batin Ruby...... Keduanya berdansa ditengah lantai dansa, seolah ini adalah dunia mereka berdua. James terus memeluk Ruby, menggerakan kakinya dengan santai. Begitu pula Ruby mengikuti setiap langkah kaki James. Orang disekitar mereka sangat iri melihat pemandangan ini. Mereka berdua bak Dewa dewi yang menari diatas khayangan. Sangat serasi dan indah untuk dilihat. Ditengah dansanya, Mata James jatuh pada kalung dileher Ruby, dari tadi memang dia melihatnya namun tidak dengan jarak sedekat ini. Kalung ini terlihat sangat familiar. Seperti sebuah benda yang terus berputar dikepalanya. Dimana dia melihatnya. Kening James mengerut, dia berfikir sangat keras. Namun dia tidak ingin berfikir terlalu jauh, dia sedang menikmati suasana. Sudah lama jiwanya tidak setenang ini......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN