20. Tersesat

924 Kata
Hembusan angin sore mengenai tubuh indah Ruby, dengan pakaian santai dan jaket cardigan panjangnya dia berjalan mengikuti hatinya ingin menuju. Disekitarnya terlihat hamparan luas bukit-bukit hijau dengan jalan setapak seperti dia berada disebuah hutan yang landai pohonnya. Jalan setapak dibuat dengan rapi seperti memang diperuntukan bagi wisatawan. Kicauan burung dan hawa segar khas pedesaan mengitari setiap langkah Ruby. Dia memasuki kawasan hutan yang indah, keindahanya membuat Ruby tanpa ragu masuk kedalamnya. Dia melihat beberapa petani memikul hasil buminya keluar dari hutan itu, melewatinya sambil tersenyum padanya. Dia rasa hutannya sangat aman untuk manusia. Desa yang sangat unik, memiliki hutan yang indah disekitarnya. Sebenarnya sungguh indah jika bisa tinggal disini, sangat tenang, tidak perlu lagi memikirkan hal-hal lain. Hanya hidup dan makan dari hasil cocok tanam sendiri. Hmmmm. Suatu saat Ia ingin seperti Bibi Yu, tinggal dalam ketenangan ditempat seperti ini. Meskipun dia masih sedih tentang Reyhan, namun dia berjanji tidak akan menangis lagi. Dia ingin selalu membuat Reyhan tersenyum diatas sana. ''Reyhan, maafkan aku. Aku akan menebusnya. Aku akan menjaga bibi Yu dan orang-orang yang kau cintai.'' Ruby menghela nafas beratnya sambil bergumam. Tak banyak permintaannya, dia ingin hidup tenang kedepannya. Tak terasa Ruby sudah berjalan cukup jauh, melewati setiap jalan setapak. Suasana ini membuatnya lupa waktu. Tiba-tiba Ruby terhenti, langit sudah mulai gelap. Gawat.... Dia harus kembali. Jika tidak, bibi Yu akan khawatir. Ruby memutar arah untuk kembali, dia mengikuti setiap jalan setapak yang telah dilewatinya. Dia berjalan terus hingga kakinya terasa lelah, hampir sejam dia berjalan kembali. Namun, dia tak kunjung menemukan desa warga. Bagaimana ini... Apakah dia tersesat.. Hari mulai petang, Ruby ketakutan setengah berlari mengikuti jalan. Dia sudah hampir menangis, Ruby melihat sekitar dan merasa jika jalan ini adalah jalan yang sama. Dia terjatuh tak berdaya, kakinya rasanya sudah terlepas dari badanya. Sangat melelahkan dan sakit sekali. Ruby mendengar seperti ada suara ombak sedari tadi. Apakah ada pantai di daerah sini? Dia tidak membawa ponsel, bagaimana dia meminta bantuan. Setidaknya dia harus mendekati pantai untuk menghindari binatang buas. Langit sudah berubah menjadi petang. Ruby beranjak dan kembali berlari mengikuti arah datangnya suara ombak. Dia berlari sangat kencang dan terbanting berulang kali. Nafasnya memburu dia sangat takut dengan kegelapan. Ditambah lagi suasana mencekam hutan yang tak bersahabat. Sampai Ruby melihat jelas bentuk bulat bulan bersinar dibalik semak-semak tinggi. Dia meraih semak itu dan berjalan sedikit lebih jauh, suara ombak terdengar lebih jelas. Sampai akhinya akhirnya dia keluar dari hutan dan menyentuh sebuh tebing. Karena berlari terlalu senang Ruby hampir jatuh ke jurang. Dibawahnya ombak besar berkecamuk. Angin yang sangat besar, seperti menabrak Ruby. Dia akhirnya bernafas dengan lega, setidaknya dia bisa keluar dari hutan. Rubu duduk lemas diatas sebuah batu, terkulai tak berdaya. Sampai tak lama kemudian Ruby mendengar suara erangan kesakitan dari balik batu didepannya. Dia bergidik.... Apakah ada orang yang tersesat sama dengannya? Suara rintihan itu semakin keras. Ruby berjalan mendekati sumber rintihan itu. Melihat dibalik kegelapan Ruby melihat seorang berjas hitam dan dipenuhi dengan darah. Ruby berteriak..... ''Apa yang terjadi denganmu?'' Ruby bertanya namun dengan posisi menjauh, dia takut jika ini adalah jebakan. Suara erangan itu tidak jelas sedang mengatakan apa. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Suara tembakan yang tak berhenti terus menerus. Seperti sedang terjadi hujan tembakan. Ruby dengan Reflek bersembunyi dibalik sebuah batu besar dan menutup telinganya. Dia berada disisi lain dari orang berlumuran darah tadi. Sepertinya suara tembakan berasal dari tembing sejajar diseberang sana. Dia mendengar sejumlah orang berteriak sambil melepaskan tembakan. Ruby semakin tidak tahan dengan bunyi tembakan. Dia takut sekali.... Sampai akhirnya suara tembakan menghilang. Suasana kembali menjadi tenang, namun terdengar samar percakapan orang diseberang sana. ''Hahahaha, tak kusadari kau sangat licik...'' Mendengar suara itu Ruby mengintip dibalik batuan. Tampak samar namun dia bisa melihat jelas wajah orang itu dibawah cahaya bulan. Wajahnya seperti terlihat bekas sayatan, rambutnya dikuncir keatas. Dari suaranya sepertinya seorang pria, jas hitamnya juga membuatnya terlihat gagah. ''Apa kau sangat suka bercanda, jangan mengujiku.'' Terdengar suara lainnya, Namun Ruby baru menyadari adanya banyak orang didepan pria itu. Seorang maju diantara yang lainnya dan menodongkan pistol dengan satu tangannya. Awalnya Ruby sama sekali tidak dapat melihat sosok itu. Setelah diamati berulang kali dan cahaya bulan mulai mengenai wajah itu. Ruby terkejut dan terperangah? Reyhan??..... Ah bukan bukan.... itu James.... Dia menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia tak percaya apa yang ada didepan matanya. Sebelumnya dia hanya melihat adegan itu di film. Tapi hari ini dia menyaksikan sendiri dengan kedua matanya orang yang menodongkan pistol. Ruby bergetar.... Apa yang James lakukan? Dia akan membunuh orang itu? Ternyata selama ini memang iblis itu kejam?. Pantas saja dia disebut mafia. Dooorrr...!!!!! Suara tembakan yang sangat keras membuat tubuh laki-laki didepan James lemas berlumuran darah dan jatuh kedalam jurang. Ruby tak sengaja menjerit. Namun segera dia menutup mulutnya Suara Ruby terdengar disebrang sana. Menyadari dirinya menarik perhatian, Ruby mencoba untuk kabur dan pergi. ''Siapa disana?!!!!'' Terdengar suara teriakan dari sekumpulan pria itu Ruby tidak memperdulikan dan kembali mengambil langkah. Belum sempat dia berlari... Seorang pria disebelahnya yang terkapar itu, memanggil Ruby. ''Nona, tolong aku..'' Ruby berusaha tidak mengindahkan. Namun, Ruby adalah orang yang sangat lembut, dia tidak tega. Ruby berusaha memapah pria itu. Ruby yang tidak pandai berlari, ditambah dia sudah kehabisan tenaga. Sekarang dia harus memapah seorang pria. Dia rasa dirinya sudah terlalu baik. Apakah dia adalah seorang Bunda Maria? Tak lama dia berjalan, tubuh mereka menabrak sekumpulan orang yang menghadang mereka. Akibat tabrakan itu, Ruby terjatuh di tanah. Dia berfikir, jika itu James. Kemungkinan dia langsung dibunuh adalah sangat kecil. Dia mencoba berdiri.... Namun yang dia lihat didepannya bukan James..... Matanya tiba-tiba gelap......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN