Suara ombak yang menderu, angin laut menerpa setiap bagian tubuh James.
James berada di sebuah tebing ditepi pantai.
Tidak tahu kenapa dia selalu terbayangkan gambaran ini dikepalanya. Ombak dan tebing yang terasa sangat akrab.
Sinar matahari kuning menyinari penuh tubuhnya. Memantulkan siratan cahaya seperti pantulan berlian dikulit James. Wajahnya beberapa hari tampak tidak terawat. Bahkan kumis dan jenggotnya terlihat tumbuh.
Namun tidak memudarkan kesan maskulin dan ketampanannya itu.
Dengan balutan kemeja hitam yang dilipat lengannya, berpadu dengan tangannya yang kekar berotot membuatnya memang telihat seperti mafia yang tidak punya hati.
Dahinya mengkerut, kedua matanya menembus lautan lepas dibalik kacamata hitamnya.
Dipergelangan tangannya terlihat ikatan tali yang tak pernah sekalipun terlepas dari tangannya. Tali itu seakan menari bergerak mengikuti gerakan angin.
Bahu yang lebar semakin menunjukkan kekuatannya. Namun, dibalik kekuatannya, tersimpan sayatan kesedihan yang tak berujung.
Dia adalah pria yang kesepian.......
Drago menatap tuannya dari jauh dengan perasaan heran dan juga kasihan.
Bosnya ini sebenarnya seperti apa? selama ini dia selalu bersikap seperti monster dimanapun, bahkan tidak pernah melepaskan mangsanya hidup-hidup. Namun jika berhadapan dengan wanita itu. Bosnya bisa selembut kapas. Drago merenung sejenak.
''Tuan, kami sudah tahu hasilnya. Memang kelompok mereka dalangnya.''
Drago melapor kepada Bosnya namun dia tetap menjaga jarak.
Bosnya sedang sensitif....
Salah sedikit dia bisa kena tembak.
Huhuhuhu
''Baiklah, siapkan semuanya dan pancing salah satunya.''
''Baik Tuan.''
............
Ruby akhirnya keluar dari rumah sakit. Dia tampak bingung karena rumah sakit ini sangat baik hati. Memberikan diskon yang sangat besar bahkan kata Melinda, Ia awalnya berada bangsal kelas 2 namun tiba-tiba berpindah menjadi kamar VIP.
Tidak bisa menemukan rumah sakit seperti ini dikota.
Hmmm
Ruby pulang dan membawa ponsel yang baru dibelinya.
Akhirnya setelah berhari-hari dia baru bisa membelinya.
Dikamarnya Ruby termenung, sejenak dia berfikir bagaimana cara membayar hutang jika Ia tidak bekerja.
Terlintas difikiran Ruby, bekerja di tempat Iblis itu juga bukan hal yang sangat buruk.
Meski dia tidak berperasaan, namun gaji yang ditawarkan berlipat kali lebih besar dari gajinya kemarin.
Dia memikirkannya berulang kali. Setidaknya dia haru bekerja sampai hutangnya lunas.
Ruby dengan putus asa mengacak acak rambutnya. Menyebalkan.......
Selama beberapa hari James tidak mengganggunya. Bahkan tidak menghubunginya. Ruby merasa cukup aneh. Apakah dia sudah menyesal?.
....
Keesokan paginya dengan dandanan formal rapi Ruby menginjakan kaki di Ma Corp.
Berjalan dengan penuh percaya diri memasuki bagian pengawalan.
Aneh sekali, dia sama sekali tidak dihentikan oleh bodyguard-bodyguard itu.
Bahkan tak ada yang berani memandangnya.
Ruby mengerutkan dahi melangkah menuju lift khusus yang diperuntukan untuk James.
Didalam lift dia masih terheran-heran. Dia tidak menyangka akan semudah ini masuk ke gedung ini lagi setelah hari itu.
Ketika Ruby tiba dilantai kerja James. Dia merasa ruangan-ruangan ini sangat sepi.
Tidak ada tanda kehidupan disana. Sampai akhirnya seorang pengawal menghampirinya.
''Nona, tuan sedang tidak ada disini.''
''Benarkah?'' Ruby terlihat tidak percaya.
''Untuk apa aku berbohong nona, silahkan saja hubungi Tuan langsung.''
''Kapan dia kembali?''
''Nona, tuan ingin berbicara dengan anda.''
Tiba-tiba pengawal itu sudah terhubung dengan James. Dia menyerahkan ponselnya pada Ruby
''Ehmmm...'' Ruby dengan acuh mengangkat panggilan itu.
''Sedang mencariku?''
''Tidak, aku hanya tersesat.''Ruby membalas
''Benarkah????''
''Hmmmm....Itu....aku hanya ingin membicarakan masalah hutang. Kurasa bekerja disini bukan pilihan yang tepat. Aku ingin membuat surat hutang denganmu. Aku akan melunasinya dengan cicilan.''
Suara diseberang tiba-tiba hening, terdengar suara desahan nafas seperti amarah yang sedang terbakar. James mendengar kata-kata itu membuatnya tiba-tiba marah. Namun dengan cepat perasaan itu ditekannya.
''3 hari lagi kembalilah ketempatku.''
James menutup telfonnya
Hmmmm iblis itu selalu seenaknya.
Ruby menyerahkan ponsel itu lagi dan pergi.
Diperjalanan pulang terlintas dipikiran Ruby, dia harus kembali ke kota C.
Kota tempat keluarga Zhang berada, dia ingin mencari tau kebenaran. Ruby tidak percaya jika Reyhan benar-benar meninggal.
Ruby memutuskan untuk pergi ke kota C keesokan harinya.
......
Setelah 4 tahun berlalu, Kota C masih sama seperti sebelumnya.
Kota yang meninggalkan bekas terlalu dalam bagi Ruby.
Anaknya meninggal disini, dia juga meninggalkan Reyhan disini.
Dia berjanji untuk tidak menginjakan kaki di kota ini lagi. Namun hari ini dia melanggar janjinya. Tidak peduli berapa kali Ia melanggar, namun jika itu demi Reyhan dia tidak memperdulikan apapun.
Ruby mengunjungi salah satu rumah pengasuh Reyhan.
Dulu Reyhan sering mengajaknya ketempat itu, karena dia adalah pengasuh Reyhan sejak kecil.
Namanya Bibi Yu.
Rumah Bibi Yu ada disebuah desa yang masih sangat asri. Ruby memakan waktu 2 jam dari pusat kota.
Setibanya Ruby di gerbang desa itu, terlihat masih sama seperti 6 tahun lalu.
Ruby menarik nafas dalam menyusuri setiap jalannya. Baginya ini membuatnya seperti berjalan diatas pecahan kaca. Sangat menyakitkan. Memori yang terus terlintas di jalan ini.
''Bibi Yu......!!!!! Ruby melihat seorang wanita tua yang sedang menjemur obat-obatan. Yah benar, wanita itu adalah bibi Yu.
Bibi Yu menyipitkan mata melihat kejauhan.
''Nona Ruby????? Nona?''
Bibi Yu bergetar
Mereka berdua berpelukan.
''Bibi, bagaimana kabar bibi?'' Aku merinduhkanmu.''
''Nona, kemana saja. Banyak hal terjadi beberapa tahun ini. Bibi selalu tidak tenang.'' Bibi Yu menangis masih memeluk Ruby.
''Bi, benarkan itu? Benarkah Reyhan sudah.....''
''Nona,......
Ruby seperti sudah mengerti jawaban Bibi Yu.
Hatinya terasa remuk, badannya semua lumpuh.
.
.
.
Diteras rumahnya, bibi Yu memberikan sejenis minuman obat kepada Ruby.
Ruby yang tadinya hampir pingsan sekarang dia masih terdiam.
''Nona, tahun itu bibi tidak tahu jelas apa yang terjadi. Namun hari itu bibi tahu bagaimana Tuan muda datang kerumah besar. Menghancurkan semua barang, tak tersisa. Semua barang antik Tuan besar semua tak ada yang utuh. Bahkan Tuan besar tidak berani menemui Tuan muda langsung, sampai pada hari dimana berita kematian Tuan muda terdengar di rumah keluarga Zhang.
Tidak ada yang tahu dimana tubuh Tuan Muda. Namun kabar yang bibi dengar, Tuan muda bunuh diri dengan lompat dari tebing.''
Pyarrr
Gelas ditangan Ruby terjatuh karena tangannya dari tadi bergetar.
Ruby menangis dipundak bibi Yu, dia menangis layaknya anak kecil dipelukan ibunya. Bagimana ini.......
Dia yang membuat Reyhan bunuh diri......
Ini salahnya.....
Jika saat itu, jika saat itu dia tidak mendengarkan perkataan Robert Zhang, dia tidak akan dengan kejam mengusir Reyhan dari hidupnya.
Ruby menangis tersedu. Dia sudah kehilangan anaknya, lalu sekarang Reyhan pergi meninggalkannya
Bagaimana dia bisa hidup setelah ini.....
Hati Ruby hancur....
Dia membuat orang yang dicintainya berakhir seperti itu. Bagaimana dia bisa layak untuk hidup.
Akhirnya dia menemukan jawaban setelah berhari-hari. Dia sebenarnya sudah lelah menangis.
Bibi Yu memapah Ruby untuk beristirahat, menenangkan sejenak tubuhnya.
Bibi Yu tinggal sendirian, setelah kematian Robert Zhang dia kembali ke kampungnya. Dia hidup hanya dengan tabungannya dan menjual obat-obatan.
Hari sudah mulai sore, Bibi Yu membereskan tanaman obatnya.
Ruby yang melihat itu, menghampiri bibi Yu dan membantunya.
''Nona, istirahatlah. Nona belum pulih.''
''Tidak bibi, aku sudah lebih baik berkat obatmu.''
''Nona, obat terbaik bagi hati adalah alam. Nona berjalanlah sekitar sini, desa ini sangat alami.''
''Okee.. Baiklah bibi, aku akan kembali lagi jika hari mulai gelap.''
Ruby meninggalkan bibi Yu dan pergi untuk menenangkan dirinya.
Sebenarnya dia hanya ingin membuat bibi Yu tenang.