18. Reyhan meninggal?

1168 Kata
Susah payah Ruby mencoba menggapai ponselnya. Semakin Ruby ingin meraih ponsel ditangan James, semakin James menjauhkannya. ''James, berikan padaku.'' Tubuh Ruby masih ditekan James di Ranjang. ''Siapa Andre?!!!!'' Tanya James dengan marah. ''Bukan urusanmu!!!'' Ruby berkata sambil mendorong James dengan kuat sehingga membuat James terjatuh ke sisi ranjang. Ruby akhirnya dapat meraih kembali ponselnya, kali ini dia bisa mendapatkannya. Ruby berlari sambil memungut bajunya. Dia berlari dengan setengah telanjang. ''Hallo, andre....apa ada yang terjadi?'' Ruby tau jika andre menelfonnya dipagi hari. Itu adalah alarm bahaya, karena dia tau Andre tidak pernah sembarangan menelfonnya bahkan dipagi buta. ''Ruby, melindaa.....'' Belum sempat kata-kata terucap dari Andre. Ponsel Ruby sudah direbut oleh James. Dengan keras James membating ponsel Ruby. Sekarang ponsel itu hancur berkeping-keping di lantai. Ruby memandang ponselnya dengan mata yang berkaca-kaca. Plakkk.... Sebuah tamparan mendarat di pipi James. ''Kau pikir kau siapa?'' Ruby berkata sambil bergetar dan air mata keluar tanpa ijin dari mata Ruby. Mengalir sangat deras. James yang ditampar, dia sangat marah. Tidak ada wanita yang berani menamparnya. Wanita ini sangat kurang ajar.... Dengan jelas James melihat air mata itu. Air mata yang mengalir dari mata Ruby. Tiba-tiba hatinya menjadi sangat masam. Dahinya mengkerut. ''James, kau adalah monster..kau tidak layak mendapatkan cinta.!!!'' Entah mengapa Ruby ingin mengatakan ini tapi dia sungguh putus asa. Memungut ponselnya dan mencari kartu sim didalamnya. Mendengar perkataan Ruby, James membeku. Kata-kata itu seperti terngiang berulang kali ditelinganya. Hatinya sangat sakit. Ruby menyebut James adalah Monster, tidak layak mendapatkan cinta???. Mendengar kata-kata itu James panas dengan amarahnya. Namun, Melihat Ruby yang menangis sesegukan tiba-tiba hati James menjadi luluh. Hatinya yang keras entah mengapa menjadi lembut. ''Pergilah.....!!!!'' Kata James dengan tegas namun menyisakan kelembutan. James meninggalkan ruangan dengan cepat memakai kembali kemejanya. Tanpa menunggu lagi Ruby mengemasi barangnya dan pergi dari apartemen itu Dia sangat sedih. Mengapa hidupnya tak pernah memberinya ketenangan bahkan sekarang ada Iblis yang tidak tahu malu disampingnya. ...... Dirumah Ruby Dia berlari mecari Ibunya.. ''Bu....Bu dimana?'' Ruby mencari disetiap sudut ruangan. Tidak menemukan Melinda sama sekali. Ruby terjatuh lemas, dia tidak bisa menghubungi siapapun. Ponselnya sudah hancur, bagaimana ini. Tiba-tiba pintu terbuka, Melinda terlihat masuk ditemani oleh Andre. ''Bu, dari mana saja aku mencarimu.'' Ruby dengan panik memeluk Melinda. ''Anak ini, Semalaman tidak pulang. Mau buat ibu khawatir ya?'' Sambut melinda dengan pelukan. Ruby seketika ingat kalau dia belum memberi tahu ibunya soal pekerjaan dan semalam tidak pulang. ''Bu, semuanya terjadi begitu cepat. Nanti akan kuceritakan ya.'' Kata Ruby menenangkan Melinda. ''Ruby, aku baru membawa bibi melinda ke dokter. Darahnya sangat rendah.'' Kata Andre ''Terimakasih banyak.'' Ruby tersenyum pada Andre. ''Bu, aku ingin bicara dengan Andre, Ibu masuklah dulu. Minum obatnya ya.'' Ruby mengantar ibunya ke dalam. ''Sudahlah, aku tidak pikun. Jangan memapahku seperti ini.'' Kata Melinda ''Baiklah......'' Melinda sudah masuk kedalam. Ruby menemui Andre di teras rumahnya. ''Andre, maaf merepotkanmu lagi. Kenapa kamu bisa tahu kondisi ibuku?'' Tanya Ruby penasaran ''Aku mampir kesini semalam, ada yang ingin aku bicarakan. Tapi tidak menemukanmu sampai pagi. Semalam kemana?'' Tanya Andre ''Ada beberapa urusan.'' Ruby tersenyum kaku ''Aku menemukan pekerjaan untukmu, dan masalah pinjaman itu aku akhirnya menemukan orang yang bersedia memberi pinjaman.'' Andre dengan serius menjelaskan Ruby berfikir sejenak. benar, lebih baik meminjam dan pergi secepatnya dari iblis itu. Dia tidak ingin dipermainkan lagi. ''Andre, siapa yang bisa meminjamkan?'' Tanya Ruby penasaran. ''Aku baru saja bertemu dengannya kemarin. Dia sedang investasi di perusahaan kami. Ketika aku menanyakan untuk pinjaman. Dia menyetujuinya.'' Jawab Andre. ''Benarkah, sepertinya dia bukan orang biasa?'' Tanya Ruby ''Namanya Roger Zhang.'' Jedarrrrrr........ Ruby seperti disambar petir disiang bolong. Roger Zhang pempimpin tertinggi keluarga Zhang. Roger adalah Kakek dari Reyhan. Selama ini memang Ruby tak pernah bertemu denganya. Tapi dia yakin semua tindakan Robert Zhang yang tidak lain adalah ayah Reyhan, dikendalikan oleh Roger Zhang. Sekarang Robert sudah meninggal,tapi bukan tidak mungkin Roger tidak mengenalinya. Keluarga Zhang memiliki kekuasaan di kota C. Namun Ruby tahu jika beberapa tahun ini usaha keluarga Zhang telah meluas ke seluruh negeri. Jelas, Ruby tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Zhang itu. Lagipula dia sudah berpisah dari Reyhan. Tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Bagaimana keadaanya dia tidak tahu lagi. ''Tidak, sepertinya aku berubah pikiran. Aku akan mencari jalan keluarnya sendiri. Andre, tenanglah masih ada waktu untukku. Soal pekerjaan, aku sudah mendapatkannya.'' Kata Ruby ''Aku tahu pasti jawabanmu akan seperti ini, dimana kau bekerja?'' Tanya Andre ''Andre, maaf aku sedang tidak enak badan. Kurasa harus istirahat segera.'' Ruby mengalihkan pembicaraan ''Baiklah, kurasa akan kuberitahu kakek Zhang untuk pembatalan. Hahaha, sebenarnya aku sangat kasian padanya. Dia tidak punya penerus untuk perusahaan?'' Kata Andre sambil tersenyum Dahi Ruby mengerut..... ''Tidak punya penerus?'' Tanya Ruby serius ''Ya, anaknya baru saja meninggal. Dan cucunya sudah meninggal 4 tahun lalu. Tidak ada penerus lagi.'' Mendengar perkataan Andre, telinga Ruby seakan berdengung?. CUCUNYA MENINGGAL????? 4 TAHUN LALU? Dada Ruby sesak seperti tertimpa sesuatu. Dia sulit untuk bernafas. ''Andre aku masuk dulu.'' Ruby dengan cepat meninggalkan Andre. Andre yang ditinggalkan nampak bingung memandang kepergian Ruby. Baginya sekarang Ruby terlihat seperti orang asing dan terus menghindarinya. ..... Didalam kamar Ruby menangis tanpa suara... Terasa sesak didadanya dengan bertenaga Ruby memukul-mukul dadanya. Dia tidak bisa bernafas. Bagaimana bisa Reyhan bisa meninggal? Dia tidak terima.. Tidak, dia tidak percaya. Ruby harus mencari tahu.... Tapi lelah ditubuhnya membuatnya seperti kehilangan tenaga. Matanya mulai buram. Bahkan melihat sekelilingnya bergerak berputar. Ruby terjatuh.... Tak lama Ruby sudah tak sadarkan diri. ........ Samar disebuah hutan dengan nuansa serba putih menghiasi setiap pohonnya, Daunnya putih hingga rantingnya. Semua berpadu tampak indah. Ruby berjalan pelan melihat sekeliling. Mencoba mencari jalan keluar. Namun setelah berputar jauh dia kembali dijalan yang sama. Tak lama terdengar suara tangisan anak kecil. ''Ma....maaaa.....'' Seorang anak laki-laki memanggilnya. ''Ruby........'' Tiba-tiba terdengar suara Reyhan.. Kedua suara yang saling bersahutan. ''Anakku?....sayang kamu dimana?? Ruby berlari mencari arah datangnya suara. ''Reyhan....selamatkan anak kita....!!!'' Ruby terus berlari namun tak menemukan apapun sampai akhirnya kedua suara itu menghilang. ''Tidakkkkk.....'' Ruby menangis dengan penuh penyesalan. Ruby terasa sakit hingga tubuhnya mati rasa. Sakit itu mengantarkan Ruby ke dunia nyatanya. Dia terbangun dari mimpi panjangnya. Mata Ruby akhirnya terbuka setelah tidak sadarkan diri berhari-hari. Dokter mengatakan dia tidak kritis, namun pasien tidak ada kemauan untuk bangun. Itu yang membuat Ruby harus tertidur beberapa hari di rumah sakit. ''Ruby, nak Ibu akan segera kembali.'' Melinda senang dengan sadarnya Ruby dan segera memanggil dokter. Tiba-tiba air mata Ruby mengalir deras, dia merasakan sesak di dadanya. Anaknya sudah tiada, bagaimana bisa Reyhan juga pergi meninggalkannya. huhuhuhu Ruby menangis seperti orang yang ketakutan. Dokter segera datang. Setelah mendapatkan pemeriksaan, Ruby sedikit lebih baik. Dia berbaring sepanjang hari dan setelah itu Dia hanya terlihat lemah karena beberapa hari telah tertidur. Mungkin karena beberapa minggu ini dia mengalami rentetan kejadian yang membuat pikirannya lelah dan ditutup dengan berita meninggalnya Reyhan. Dia sungguh tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Beberapa hari masih dihabiskan Ruby dirumah sakit. Dia enggan pulang, hingga suatu ketika dia ingat ponselnya. Dia belum membeli ponsel. Ruby menepok dahinya. Bagaimana bisa dia lupa. Hmmmm biarlah lagipula dia memang tidak ingin berhubungan dengan siapapun dulu. Dia ingin ketenangan....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN