Disudut sebuah ranjang besar di dalam kamar dengan interior minimalis yang hangat. Tampak memang dirancang untuk seorang wanita.
Sinar matahari pagi memasuki ruangan, perlahan sinar merasuki setiap sela-sela korden putih di jendela kamar itu.
Cahaya matahari seperti menyilaukan mata Ruby, dia yang masih terlelap selain merasa silau juga merasakan tubuhnya yang remuk seperti dipukuli ratusan orang.
Terlebih lagi kedua kakinya lemas dan dia merasa panas pada area itu.
Bergerakpun Ruby sudah tidak sanggup. Dengan berat dia mencoba membuka matanya.
Mata yang terbuka akhirnya ditutupnya lagi.
Bergerak, mencoba mencari posisi yang membuatnya tidak sakit.
Tidak lama kemudian, Tiba tiba dia tersentak dan kelopak matanya terbuka lebar.
Ruby terbangun dari tidurnya, terduduk dengan mata yang susah payah dibukanya. Selimut dibadannya tidak mampu menutupi bagian d**a Ruby yang telanjang.
Menyadari apa yang terjadi, dia dengan cepat menutup bagian tubuhnya. Kepala terasa Ruby sakit bak dihantam gong besar. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi. Tapi sakit ditubuhnya membuat Ruby tak berdaya.
Tidak jauh dari ranjang, terlihat sosok samar dengan setelan celana dan kemeja hitamnya. Kakinya disilangkan, satu tangannya memegang sebuah koran. Dan satu tangan lainnya diletakkan dibelakang lehernya.
Melihat sosok itu Ruby dengan reflek menutup mulutnya. Menutup selimutnya dan bersembunyi didalamnya.
Dia akhirnya sadar....
Ruby, bodohhh.
Kenapa bisa tidurrr dengannyaa....kenapa memprovokasinya...!!!!!!
Sejenak Ruby mengingat semuanya, dia tidak lupa tindakan bodohnya mencium iblis itu dengan gila. Bermain bersama iblis itu dengan gila diranjang ini.
Setiap detail akhirnya dia ingat dan terngiang jelas di pikirannya. Seluruh otaknya dipenuhi oleh adegan panas semalam. Sungguh gilaa.
Bagaimana semalam iblis itu menghabisinya hingga dia selalu memohon ampun.
Bermain sepanjang malam, dia sudah tidak tahu sudah berapa kali. Harus dia akui, James sangat ahli hingga membuat tubuhnya melayang.
''Jangan sembunyi lagi!! Cepat keluar, kau harus bertanggung jawab.!!''
Kata James dengan suara beratnya yang khas, berjalan disamping ranjang.
Bertanggung jawab???
Siapa yang bertanggung jawab?
Ruby terbelalak dengan perkataan James.
''Cepat mandi, aku tunggu di meja makan.''
James berjalan meninggalkan ruangan.
Ruby masih bersembunyi dibalik selimut, dia masih menyesali semuanya.
Meskipun dia yang mencium Iblis itu duluan. Tidak seharusnya Iblis itu membalas, dan membuatnya berakhir disini. Lagi pula anggap saja ini adalah Cinta semalam.
Tapi, bagaimana dia bisa menghadapinya setiap hari..huhuhu..sungguh bodoh.
Ruby terus memukul kepalanya.
Entah mengapa sepanjang malam tadi, Ruby merasa orang yang bersamanya adalah Reyhan. Dia sangat gila karena dia mengira Iblis itu adalah Reyhan. Terlalu merinduhkan seseorang juga bukan hal yang baik. Huhuhuhu.
Selesai mandi Ruby memakai handuk dan melihat kondisi kamar itu.
Dia terbelalak tak percaya. Sisa kegilaan semalam, Bantal terjatuh dimana-mana.
Pakaian berserakan bahkan gaun Ruby terlihat sudah tak berbentuk.
Wajah Ruby bersemu merah melihat pemandangan ini.
Di sisi sofa terlihat sebuah pakaian bersih. Sepertinya James yang memberikannya. Ruby memakai pakaian itu dan pergi menuju meja makan.
Apartemen ini seperti sebuah penth house, sangat luas dan interior yang mewah.
Dalam perjalanan menuju meja makan, Ruby bertanya-tanya. Apakah ini apartemen James?
James terlihat duduk dimeja makan.
''Cepat makan , setelah ini kita masih ada pekerjaan.'' James berkata dengan santai sambil meminum s**u hangat.
Ruby melihat James yang santai setelah kejadian ini. Membuat dia lega.
Ruby duduk dan melipat tangannya mencoba rileks dan membuka pembicaraan.
''Tuan James, kurasa kita sama-sama dewasa. Pria wanita yang tidak mempunyai hubungan dan melakukan hal ini karena mabuk. Kurasa ini hanya cinta satu malam. Bukan hanya aku yang salah, tapi kau juga. Kita lupakan ini oke..?''
Ruby berkata dan mencoba untuk santai seperti tidak terjadi sesuatu
James tebeku sesaat....
Cinta satu malam?
Semudah itu wanita ini mengatakan cinta satu malam???
Dahi James mengkerut
''Nona Ruby, apakah kau pernah mendengar pepatah, suami istri satu malam, adalah suami istri selamanya?''
James mengepalkan tangannya. Dia sudah mulai marah.
''Suami istri selamanya? Apa maksudmu? Apakah kau sudah gila!!!?''
Ruby tak percaya apa yang dikatakan James
''Hahahah, nona apakah kau sudah lupa siapa yang duluan memulai?''.
James berusaha menekan amarahnya.
''Tuan, apakah pantas membawa wanita mabuk ke rumahmu?'' Kata Ruby dengan nada tinggi
''Ini rumahmu?'' Jawab James
''Rumahku, aku tidak ingat memiliki rumah ini.'' Kata Ruby sambil memalingkan wajahnya.
Sebentar.....
Rumah?
Jangan-jangan kunci apartemen yang diberikan James kemarin adalah tempat ini?
''Ini akan menjadi rumahmu, selama kamu disisiku. Kau yang semalam memulainya dirumahmu. Diposisi ini seharusnya aku yang minta pertanggung jawaban bukan?''
Tanya James dengan meyipitkan matanya.
Dasar Iblis, sesuka hati menindas. Memutar balikkan sesuatu. Bahkan selalu saja mengintimidasi.
Batin Ruby kesal.
''Tuan, aku ingin mengundurkan diri.
Aku tidak ingin berada disisimu.''
Ruby beranjak meninggalkan ruang makan, berencana mengambil barangnya dikamar.
Belum sempat Ruby berjalan jauh, tubuhnya sudah terangkat. James tiba-tiba sudah menggedong Ruby.
James menendang pintu kamar dengan keras. Membawa Ruby ke sisi tempat tidur, melemparkannya ke Ranjang. Amarah James sudah ada dipuncaknya.
Dengan begini habislah Ruby.
Dengan cepat James menindih tubuh Ruby.
''Brengsek....Apa kau tidak cukup semalam?'' Ruby meronta-ronta
James mengelus puncak kepala Ruby
'' Nona, sepertinya kau yang tidak puas semalam, sudah mau melarikan diri ya. Kali ini aku ingin membuatmu puas''
James tersenyum licik.
Sepertinya James yang memang belum puas, nafsunya selalu dibuat menggebu oleh wanita ini. Dari awal dia yang tidak bisa menahan.
Dia ingin terus ada didalam Ruby.
Entah sihir wanita ini selalu membuatnya mabuk. Apalagi Ruby yang suka sekali membuat amarahnya naik. Semakin menaikan gairahnya.
Ciuman hangat James memasuki celah leher putih Ruby.
James menekah seluruh tubuh Ruby. Mencium dengan gila seperti tak ingin menyisakan satu celahpun.
Ruby tak berdaya dibuatnya. Kakinya sudah dikunci oleh kaki James. Tangannya sudah tak bisa bergerak. Dia terjebak.
Bagaimana bisa dia terjebak dengan Iblis ini berulang kali. Sungguh memalukan.....
James menarik seluruh kancing baju Ruby hingga terlepas.
''Dasar Ibliss....Brengsekkk. Lepaskan aku...''
Mulut Ruby yang terus mengumpat disambut dengan ciuman hangat James.
Rasa manis memenuhi seluruh mulut keduanya.
Kedua d**a Ruby yang berisi sudah menjadi kesenangan James. James Memainkanya dengan kasar dan berirama. Tidak mengizinkan satu sisipun terlewatkan.
Rambut panjang Ruby yang terurai indah didadanya semakin membuat nafsu James menggila.
James melepaskan kemejanya dengan kasar. Tubuh kekarnya yang telihat sangat panas, membuat mata Ruby berkabut sesaat.
Tubuh keduanya yang telanjang sudah saling menempel satu sama lain. Saling bergesekan. Tubuh Ruby yang awalnya menolakpun dibuatnya mengikuti irama gerak tubuh James.
Ruby mengumpat dalam hati.
Bagaimana bisa dia tenggelam dalam suasana ini.
Benda panas di bagian bawah James yang mengeras tegak sempurna. Sudah tidak bisa menahan lagi ingin merangsek masuk.
Tubuh Ruby bergeliat dibuatnya.
''Lihatlah, tubuhmu saja sangat penurut. Mengapa mulutmu selalu seenaknya.''
James dengan suara serak berkata.
Mata keduanya sudah memburam.
Tiba-tiba ponsel di meja sebelah berbunyi.
Itu adalah suara dering ponsel Ruby.
Ruby yang awalnya terhanyut, kini mulai sadar dan dia mendorong d**a James.
''Lepaskan, ada yang menelfonku.''
Dahi James mengerut.
''Jangan pedulikan, Konsentrasilah..!!!!''
Dengan keras lagi Ruby mendorong James
''James ponselku berbunyi terus!!!
Dengan amarah James mengambil ponsel itu dari meja sebelah ranjang.
Melihat sebuah nama terlihat. Itu adalah panggilan dari Andre.
Andre?
Nafsu James tiba-tiba menghilang. Pandangan yang tadinya memburam kini digantikan dengan padangan penuh amarah.
''Siapa Andre?''
Tanya James dengan nada penekanan