16. Pergi ke neraka bersamaku

1341 Kata
Ruby dengan kesal mengikuti ke arah perginya James. Disebuah ruangan yang dipenuhi dengan corak hitam nampak seperti lemari. ''Cepat pilih, ganti juga pakaianmu. Temani aku pergi.'' Kata James sambil membuka lemari yang dipenuhi baju-baju wanita. Tiba-tiba masam terasa dibibir Ruby, berapa banyak wanitanya. Sampai menyiapkan banyak barang wanita begini. James juga membuka lemari disisi lain, terlihat jelas beberapa baju milik James. Dia menarik salah satu jas hitamnya. ''Pergi kemana?'' Tanya Ruby sambil mengambil salah satu gaun. ''Kalau pergi ke neraka bersamaku apa kau mau?'' Tanya James ''Hmmm, melihatmu saja sudah neraka.'' Kata Ruby tanpa menyadari apa yang dia katakan. Mendengar perkataan Ruby, amarah ditubuh James berkumpul dikepalanya. James tiba-tiba membuka coatnya, melepaskan kaosnya hingga terlihat dadanya yang telanjang datang mendekati Ruby. ''Aaaa....apa yang kau lakukan.!!!!'' Ruby menutup mukanya dengan malu. Pria ini selalu asal. ''Apa ini yang kau bilang neraka?. Neraka ini akan memberimu kenikmatan....'' James berbisik tepat ditelinga Ruby. Bisikan yang membuat nafas Ruby berubah menjadi berat. Pria ini sungguh sangat mendominasinya. Sejenak Ruby terhanyut dan telinganya sudah memerah. Reaksi tubuh Ruby sudah tidak bisa membohongi James. James tersenyum licik. ''Aku akan memberikannya, jika kamu memintanya.'' Kata-kata ini membuat raut wajah Ruby berubah, matanya membulat menatap James. ''Tuan, kurasa kepala anda terbentur kemarin.'' Ruby membuyarkan fantasi James. '' Cepat ganti bajumu, 5 menit kutunggu diluar.!!!'' Bentak James dengan kecewa dan amarahnya. Ruby melihat kepergian James hanya menggelengkan kepala. Ibilis ini sangat moody. 5 menit kemudian Ruby keluar dengan gaun selutut berwarna biru tua dan blezer yang sepadan. Riasan diwajahnya sangat pas untuk acara semi formal. Santai namun sangat memikat. Rambutnya yang tadinya terurai sudah diikat dengan rapi. James yang melihat kedatangan Ruby dengan tampilannya ini. Sejenak terdiam, mengapa bayangan ini sangat nyata. Seperti bayangan yang tidak asing. James hampir terhuyun. Kakinya tidak stabil menopang. Dia berpegangan di dinding. ''Tuan, anda masih sakit?'' Tanya Ruby melihat wajah James yang berubah menjadi pucat. ''Ayo cepat pergi.'' James meninggalkan Ruby dengan cepat, 2menyembunyikan kegelisahannya. ..... Hari sudah gelap. Disebuah restoran paling terkenal dikota. Restoran dengan satu-satunya gelar Michelin dikota itu. Interior Klasik mendominasi setiap detailnya. Pasti tak sembarangan orang bisa memesan restoran ini, batin Ruby. Disudut ruangan terlihat seseorang melambai kearah James. ''James, apa kau melupakan paman?'' Seorang laki-laki tua memeluk James. Ruby mengikuti dibelakangnya. ''Tidak mungkin paman Sam..'' James berkata menenangkan orang tua itu. Disebelahnya berdiri seorang gadis cantik yang nampaknya masih sangat muda menunjukan keanggunannya. ''Kau masih sangat tampan, wah siapa wanita ini?'' Paman Sam memandang Ruby dengan bingung sekaligus takjub dengan kecantikannya. ''Dia Ruby, sekretarisku.'' Kata James sambil menarik pinggang Ruby. Mata paman Sam memicing, sudah terjawab jelas dari bahasa tubuh James wanita itu bukan hanya sekretaris bagi James. ''Kak James .'' Gadis disebelah paman Sam mulai menyapa. James hanya mengangguk sedikit acuh dan mempersilahkan paman Sam untuk duduk. Mereka mulai memesan makanan. Suasana yang awalnya hangat berubah menjadi sangat sunyi, tak ada yang mulai pembicaraan. Hingga kemudian, Paman Sam dengan santai memulai pembicaraan. '' ohooo, James pamanmu ini sudah sangat tua. Bahkan kau kembali saja tidak memberi kabar. Apa kau sungguh menanggap aku tidak berguna lagi ya.'' Kata paman Sam seperti menyindir ''Paman, aku sangat sibuk beberapa hari setelah kembali. Maaf tidak memberimu kabar.'' Balas James ''Kak James, sudah lama tidak bertemu. Terakhir kurasa setahun lalu. Kita masih minum teh bersama.'' Kata gadis itu dengan anggun. Dibalik keanggunanya, Ruby merasa gadis ini selalu memandang Ruby seperti pesaingnya. Ruby diantara mereka terlihat paling kikuk. Makanan mulai berdatangan. Tidak lupa juga disajikan anggur terbaik disetiap gelasnya. Mereka bersulang. *ting... Ruby meminum anggurnya dengan santai. Tapi James memandang Ruby dengan anggur yang belum diminumnya. Mata James mengisyaratkan sesuatu. ''Ehemmm.....'' James berdahem agar Ruby paham. Ruby sedikit bingung dengan isyarat James, dia melebarkan matanya tanda benar-benar tidak mengerti. ''Paman, aku baru keluar dari rumah sakit kemarin.'' Kata James putus asa. Ohhhh,..... Ruby langsung mengambil alih gelas James. ''Maaf, aku yang akan menggantikannya minum, pencernaan tuan James sedang tidak baik.'' Glek glekk. Gadis pintar. Batin James ''James, apa sesuatu terjadi?'' Tanya Paman Sam dengan khawatir. ''Tidak paman, hanya sedikit masalah pencernaan. Kurasa hanya terlalu lelah mempersiapkan perpindahan saja.'' James menjawab dengan santai ''Baiklah James, kamu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Jangan sungkan jika terjadi sesuatu. Cyntia juga bisa membantumu. Lagipula disini siapa lagi yang kau kenal. Lebih seringlah bermain bersama Cyntia. Kalian sudah akrab, lebih baik jika lebih akrab lagi bukan.'' Kata paman Sam dengan sedikit penekanan Gadis disebelah paman Sam bernama Cyntia, anak bungsu paman Sam. salah satu model terkenal di negaranya. Cyntia sendiri sering mengikuti beberapa fashion show international. Tapi anehnya Ruby sama sekali tidak mengenalinya. Baru setelah beberapa pelayan berisik dibelakangnya membuatnya paham. Gadis didepannya adalah seorang celebrity. ''Ayah, kurasa kami hanya perlu sedikit waktu lagi. Jangan membuatnya tertekan.'' Bujuk Cyntia pada paman Sam Ruby akhirnya paham ternyata ini adalah acara perjodohan. Iblis ini sungguh membuat emosinya habis. Bagaimana bisa Ruby harus terlibat dalam urusan pribadi mereka. Seolah menjadikan Ruby sebagai objek orang ketiga. Huffftt ''Baiklah, ayah tidak memaksa. Hanya saja kurasa lebih cepat lebih baik bukan. Hahahaha.'' Paman Sam mengangkat gelas lagi dan bersulang sekali lagi Ruby harus meminum anggur James. Anggur ketiga dan keempat sudah diminum Ruby habis. ''Paman, Cyntia masi muda. Dia sangat bebas. Lebih baik bisa membuatnya lebih banyak bergaul dengan seumurannya. Itu lebih baik.'' Jawaban James mengisyaratkan sebuah penolakan. Terlihat raut putus asa tergambar di wajah paman Sam. Disisi lain, Wajah Ruby sudah memerah, dia memiliki toleransi alkohol yang sangat rendah. Wajahnya yang seperti ini selain terlihat imut juga membuat James sangat tergoda. ''Paman maaf kurasa dia sedang tidak enak badan. Aku akan membawanya kembali.'' Kata James berpamitan pada paman Sam dan Cyntia. James memapah Ruby keluar yang sudah kehilangan setengah kesadarannya. ''Gadis pintar, begini baru ada gunanya.'' Bisik James di telinga Ruby Sontak Ruby terperangah, setidaknya sekarang dia masih sedikit sadar. ''Tuan James....., sampai jumpa.'' Ruby berjalan oleng dan mencari taxi. ''Ehhh kamu mau kemana?'' Tanya James sambil manangkap pundak Ruby. ''Kemana saja asal tidak bertemu denganmu....'' Jawaban orang mabuk terkadang memang menyakitkan. ''Bermimpilah.....!!!! dengan amarahnya James menggedong Ruby dan Mengangkatnya dibahunya. Ruby tidak henti meronta-ronta. Memukul punggung James. Tanpa peringatan James memukul p****t Ruby. Bagian empuk itu terasa panas. ''Dasar iblis, sakitt......!!!'' Tanpa memperdulikan teriakan Ruby, James memasukkan Ruby pada mobilnya. Sabuk pengaman Ruby sudah dipasangnya, James memasuki bagian kemudi melajukan Bugatti hitamnya dengan kecepatan tinggi. Ruby sudah bergeliat merasakan hawa panas membakar tubuhnya. Panas sekali, sepertinya anggur tadi bukan anggur biasa. ''Heii.....AC mobil ini kenapa mati?'' Tanya Ruby dengan suara parau menggesekkan badanya ditempat duduk. Keadaan Ruby sekarang sudah terlihat sangat menggoda James. Blazer yang menutupi tubuhnya sudah dilepas. Hanya menyisakan gaun yang memperlihatkan kulit d**a mulusnya. Gaunnya tersibak memperlihatkan kulit pahanya. Gerakan Ruby ini seirama dengan naik turunnya tenggorokan James. ''Wanita ini.....!!!!'' ''Minum sedikit saja sudah seperti ini. Bagaimana dia bisa minum dengan laki-laki.'' James yang membayangkan hal itu mulai marah. ''Jangan harap ada kesempatan minum dengan laki-laki lain.!!!!'' James membentak Ruby. Ruby sudah tidak bisa mendengar apapun. James mempercepat laju mobilnya menembus keriuahan malam kota. Disebuah apartemen. James menggendong Ruby dan membawanya ke bagian kamar mandi. Dibawah guyuran air dingin tubuh Ruby ditahan oleh tubuh kekar James. Guyuran air ini membuat Ruby sedikit demi sedikit tersadar. Dia mulai melihat dengan jelas, namun yang dia lihat hanya bayangan James tepat didepannya. ''Reyhann.....?'' Ruby memegang wajah James dengan tangannya. Reyhan? Dibatin James wanita ini menyebut nama itu lagi dan lagi. Mata James berkabut menggelap. ''Reyhan... jangan tinggalkan aku, kumohon.'' Ruby tersedu dan menangis. James mulai bertanya-tanya apa Reyhan, bosnya itu meninggalkannya?. ''Jangann.... sebut nama itu didepankuuu.!!!!'' James mengerang menyingkirkan tangan Ruby. James ingin pergi namun kedua tangan Ruby sudah menyentuh wajah James lagi. Dengan sangat tiba-tiba Ruby mencium James. Melumat seluruh bibir James masuk dalam bibirnya. James sejenak kaget dengan tindakan Ruby. Namun dia sudah terprovokasi. ''Jangan salahkan aku. Kau yang menggodaku...... James membalas ciuman Ruby jauh lebih ganas dan panas. Kedua orang berpelukan merasakan hangat tubuh masing-masing dengan tangan yang saling berpautan. James menekan tubuh Ruby ke dinding. James merasakan hawa panas merasuki tubuhnya. Terlebih lagi, Bagian di bawah perutnya sudah bereaksi sedari tadi. Ciuman ini tidak cukup baginya..... Dia ingin lebihh.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN