Setelah hari itu, Reyhan sama sekali tidak melihat keberadaan Ruby selama 2 bulan.
Dia tidak lagi mendengarkan suara Ruby yang selalu berisik memanggilnya.
Rasanya seperti sunyi dan entah mengapa hatinya yang sepi menjadi semakin nelangsa.
Suatu hari Reyhan melihat Ruby datang bersama Jay. Jay terlihat membawakan tas Ruby. Hati Reyhan menjadi masam.
Dia tidak menyukai Jay menempel terus dengan Ruby.
Reyhan datang kepada mereka mengambil paksa tas Ruby dari tangan Jay.
''Dia tidak lumpuh. Dia bisa membawa tasnya sendiri. Ayo kita ada urusan.''
Reyhan menyerahkan tas ke Ruby dan menarik kerah leher Jay.
Tidak jauh dari situ ditempat sepi Jay berbicara pada Reyhan
''Rey, pundak Ruby terluka. Aku hanya bantu membawakan.'' Kata Jay
''Apa kau menyukainya?, kenapa kau begitu peduli padanya ha?!!!. Teriak Reyhan sambil menarik lagi keras leher Jay.
Jay yang emosi mendorong Reyhan dan ganti menarik kerah Reyhan.
''Jelas-jelas kau yang menyukainya. Tapi malah bertindak seperti pengecut.'' Jay balas berteriak. Mereka bertengkar seperti anak kecil.
Reyhan terdiam dengan kata-kata Jay. Kata-kata itu memang tidak salah.
''Rey, kuberitahu ya. Sekarang ada yang terang-terangan mengejar Ruby. Dia adalah mahasiswa Kedokteran. Namanya Jonathan. Ruby sudah tidak menyukaimu lagi. Kurasa dia akan menerima si Jonathan itu.'' kata Jay
Reyhan pun terduduk lemas. Dia hanya berfikir di dunia ini Ruby hanya menyukainya. Bahkan dia terbiasa dengan Ruby disekelilingnya. Memanggil namanya. Bahkan melihat senyuman itu. Bagaimana jadinya jika Ruby beralih menyukai orang lain. Dia tidak bisa membayangkan hal itu.
Reyhan dengan marah bangkit dan pergi meninggalkan Jay.
Dia menghampiri Ruby. Mengambil tas Ruby dan membawakan tas itu.
''Jangan biarkan orang lain membawa barangmu. Ingat Hanya boleh aku.''
Kata Reyhan pada Ruby sambil berjalan
Ruby tiba-tiba tersenyum.
Mengikuti Reyhan dari belakang. Reyhan mau berinisiatif adalah hal langka baginya. Dia sangat bahagia.
Suatu hari Ruby ingin menemui Reyhan di kelasnya. Namun, kelas dalam keadaan kosong hanya ada dua orang. Mereka adalah Reyhan dan seorang perempuan sedang memeluknya. Dia adalah Jenni wanita paling cantik di kampus.
Ruby yang melihat mereka dengan kedua matanya. Terbeku tak berdaya. Matanya berair menghampiri Reyhan.
''Reyhan, jika kau benar-benar membeciku. Katakan saja dari awal. Tidak perlu memainkan perasaanku. Orang lain tidak boleh membawa barangku? Cihhh. Aku membencimu......!'' Teriak Ruby dengan berapi-api didepan Reyhan dan Jenni yang hanya terbengong.
......
Suatu malam, Sempat Jay menghubungi Reyhan. Ruby sedang mabuk parah. Reyhan juga yang mengantar Ruby pulang ke rumah. Namun Ruby tidak mengetahuinya. Malam itu pertama kali Reyhan bertemu dengan Ruby setelah lebih dari 3 bulan Ruby menghilang dari pandangannya sejak kejadian itu.
Di mobil, dia hanya mengelus kepala Ruby yang tertidur. Baginya Ruby seperti ini adalah yang paling imut. Banyak hal yang ingin dia katakan pada Ruby. Namun akan berakhir diujung bibirnya saja.
.......
Cuaca yang tenang di musim panas, Ruby sedang bermain ke sebuah pantai dengan teman-teman kelasnya.
Dari jauh dia melihat wanita separu baya berjalan sendirian namun sedikit linglung tak mengenal arah.
Ruby melihat wanita itu berjalan ke tebing dan jurang yang mengarah ke laut. Dia merasa was-was dengan apa yang dilakukan wanita itu. Namun, terlintas perkataan Reyhan dulu. ''Jangan mudah mencampuri urusan orang.'' Ruby kemudian memutuskan mengabaikannya.
Namun wanita itu terus berjalan ke arah jurang. Bajunya juga berwarna putih, apa dia sengaja bunuh diri???. Berbagai prasangka berkecamuk di pikiran Ruby.
Tanpa basa-basi Ruby berlari kencang menuju tebing itu. Setidaknya dia tak akan menyesal jika sesuatu terjadi.
Ruby Hampir tiba ditebing....
'' Bibi, apa yang kau lakukan?'' Teriak Ruby mendekati wanita itu.
Wanita itu sangat cantik walaupun berumur, terlihat menawan dengan rambut panjang bergelombang ditiup angin laut dan matanya yang indah.
Wanita itu hanya tersenyum memadang Ruby dan berjalan mundur.
''Tidak bibi, jangan mundur itu berbahaya.''
Teriak Ruby histeris dengan apa yang dilakukan wanita itu.''
Ruby mendekat, hampir memegang tangan wanita itu. Namun.....
Sebuah batu membuat wanita itu tergelincir.
''Tidakkk, bibi........!!!!!''
Wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke arah jurang.
Namun, Ruby berhasil menarik satu tangan wanita itu. Dengan keadaan tergantung, tangan wanita itu masih dipegang erat Ruby.
''Bibi bertahanlah...!!!.''
Ruby sudah hampir menangis, dia sudah tidak kuat lagi menarik wanita itu.
Tiba-tiba ada sesorang datang disebelahnya.
''Ma... Ma pegang tanganku...!!
Suara yang familiar bagi Ruby, dia adalah Reyhan........
''Reyhan?? Dia? Bibi ini mamamu?'' Tanya Ruby
''Jangan banyak bicara, cepat tarik bersamaku.!!!'' Kata Reyhan dengan nada tinggi.
Mereka berdua dengan sekuat tenaga menarik Mama Reyhan yang bernama Lidya
Setelah dengan susah payah menarik keatas. Akhirnya bibi Lidya selamat. Wajahnya terlihat sangat pucat.
Mereka kemudian membawanya kerumah sakit.
......
Di Bangsal Rumah sakit.
Ruby mendatangi Reyhan yang duduk frustasi setelah mendengarkan penjelasan Dokter.
Ruby memasang posisi jongkok didepan Reyhan yang duduk di kursi tunggu.
''Reyhan, semua ini akan berlalu. Kuatlah.''
Medengar kata-kata ini membuat jiwa Reyhan bergejolak. Seperti sesuatu yang hangat merasuk. Dia tiba-tiba memeluk Ruby dengan erat. Ruby yang dipelukpun sedikit salah tingkah.
''Terimakasih, sudah menyelamatkan Mamaku.'' Kata Reyhan dengan lembut dan mata yang berkabut.
Ruby yang seperti ini memang sangat pengertian. Membuat dua tahun Reyhan selalu hangat.
''Jika aku tidak ikut campur urusan orang, bagaimana aku bisa menyelamatkan mamamu.'' Kata Ruby mengingatkan Reyhan tentang ucapannya dulu.
Reyhan hanya tersenyum kecil dan mengelus puncak kepala Ruby.
''Mamaku, dia menderita skizofrenia paranoid. Ketika dia cemas, dia akan seperti itu. Itulah sebabnya aku tidak pernah meninggalkannya. Harus ada yang menjaganya. Hari ini aku membawanya ke villa, tapi dia malah membuatnya seperti ini.'' Reyhan pertama kali berbicara sangat panjang dengan Ruby.
''Sudahlah, jangan berbicara seperti itu, cepat temui dia, kurasa bibi sedang mencarimu.'' Kata Ruby sambil mendorong Reyhan
Reyhan juga menarik tangan Ruby, Ruby terbengong. Mereka berdua pun masuk ruangan.
''Ma, namanya Ruby. Dia tadi yang menyelamatkanmu juga.'' Kata Reyhan disamping ranjang mamanya sambil menyerahkan tangan Ruby pada mamanya.
''Kau sangat cantik, bagaimana aku melupakanmu. Melihatmu langsung merasa terpesona.'' Kata bibi Lidya sambil memeluk Ruby.
''Bibi, aku juga melihat bibi sangat cantik. Bagaimana ini. Aku sangat mengagumi bibi.'' Kata Ruby
Mereka bedua tertawa manis.
Terlihat jelas mamanya sangat nyaman dengan kehadiran Ruby. Padahal mamanya tidak biasa menerima orang asing. Mata Reyhan nampak sedikit berair. Kehangatan tercipta diruangan itu.
Mereka berbincang hingga bibi Lidya tertidur.
Diluar bangsal Reyhan menatap Ruby lalu memegang tangannya. Matanya melihat jauh ke mata Ruby, dia tidak ingin lagi kehilangan gadis ini.
Cukup baginya mengulur waktu.
''Hari itu, yang kau lihat. Dia hanya datang dan tiba-tiba memelukku. Tak ada yang terjadi.'' Reyhan menjelaskan kejadian itu
''Sudahlah, aku sudah melupakannya.'' Ruby tersenyum
''Apa? Tidak, tidak boleh. Kau tidak boleh melupakanku begitu saja. Tanpa seijinku kamu tidak boleh melupakanku.'' Reyhan berkata dengan panik.
Ruby hanya tersenyum
''Ruby, mulai sekarang ayo kita bersama oke.''
Kata-kata impian Ruby akhirnya keluar dari mulut Reyhan.
Ruby sangat bahagia.....
Mereka akhirnya bersama.......
.....
Setelah hari itu...
Hari-hari mereka berdua nampaknya sudah berubah. Di tahun akhir kuliah James, mereka sama halnya seperti lem. Sangat lengket tak terpisahkan di manapun dikampus. Bahkan Jay selalu menggoda mereka.
Dimanapun selalu bersama. Terlihat, sekarang Reyhan yang sangat protektif terhadap gadisnya. Dia adalah tipe yang sangat mendominasi. Dua tahun Ruby yang berinisiatif ternyata tidak sia-sia.
Sampai akhir kelulusan Reyhan, mereka dijuluki pasangan dewa dan dewi di kampusnya. Karena visual mereka sanggup membuat iri sekitarnya. Sangat serasi.
Ruby juga selalu berkunjung ke rumah Reyhan untuk menjaga bibi Lidya.
Hidup mereka sangat sempurna dan bahagia
Brakkkkk..........!!!
Ruby terkaget
Suara pukulan meja membuyarkan lamunan siang bolong Ruby.
Iblis ini sungguh ingin dihajar. James, meskipun memiliki wajah yang sama seperti Reyhan. Sifatnya masih sangat jauh dari Reyhan.
Batin Ruby kesal
''Cepat ikut denganku.!! bentak James
Ruby dengan sigap mengikuti James.