Merinduhkan Reyhan membuat Ruby teringat masa itu. Tiba-tiba kenangan itu kembali muncul. Ruby seperti merajut kembali memori itu.
Kembali ke 10 tahun yang lalu pertama kali dia bertemu Reyhan.
Saat itu usianya 17 tahun. Tepat di hari ulang tahunnya. Sama seperti tahun sebelumnya, Tak ada yang spesial. Namun, dihari itu hidupnya kembali menjadi berwarna.
Ruby berjalan menuju halte, sebenarnya dia malas untuk berangkat sekolah. Namun, Melinda terus mengomelinya sedari pagi.
Menyebalkan....batin Ruby
Tidak jauh dari tempat Ruby berdiri, terlihat bayangan seseorang sedang berusaha menaikan kakinya keatas jembatan layang.
''Yaampun, apa yang dia lakukan. Apakah dia akan bunuh diri? Ruby panik
Dia berlari sekuat tenaga menuju jembatan.
Ruby yang datang dengan berlari pontang-panting, dengan sigap berusaha menarik orang itu dari pinggir jembatan layang.
''Apa kau sudah gila....!!'' Apa dengan bunuh diri, bisa menyelesaikan semuanya?'' Ruby mengomeli sambil menarik tubuh orang itu.
Tubuh Ruby yang tidak seimbang membuatnya terjatuh ke lantai jembatan, begitu pula dengan orang yang ditariknya ikut terjatuh tepat diatas Ruby.
Orang itu sudah ada tepat diatas badan Ruby.
Kedua tubuh sudah menempel bahkan wajah keduanya hanya berjarak beberapa inchi. Mata mereka saling bertemu.
Kedua mata saling bertatapan. Ruby melihat dalam ke mata itu. Membuatnya sejenak kehilangan dunianya. Tenggelam dalam tatapan itu.
Mata coklat yang sangat indah, bukan jenis mata coklat biasa. Seperti memiliki lingkar abu-abu yang menawan.
Tenggorokan orang itu sudah naik turun. Sama seperti Ruby, terpaku dan tak bergerak.
Mereka berpandangan sangat lama.
Hingga suara orang lain membuyarkan lamunan mereka.
Mereka akhirnya berdiri dengan kikuk.
Ternyata orang itu adalah seorang kakak laki-laki. Dibanding Ruby yang masih mengenakan seragam sekolah. Laki-laki itu terlihat dewasa, dia terlihat sangat tenang dan dingin. Dengan memicingkan matanya membuang muka dengan acuh.
Seperti tidak ada yang terjadi.
Reyhan berjongkok kepada seorang anak perempuan.
''Adik, maaf aku tidak bisa mengambil balonmu. Aku akan menggantinya dengan ini.'' Kata Reyhan yang terlihat hangat didepan anak kecil? sambil membuka tasnya dan menyerahkan coklat kepada anak kecil itu.
Anak kecil itu pun berterimakasih dan pergi bergandengan dengan ibu disampingnya. Melihat mereka pergi senyuman kecil muncul di mulut Reyhan.
Tanpa memperdulikan Ruby, Reyhan pergi dengan acuh.
Ruby yang kesal mengikuti dibelakang Reyhan.
''Hei... Heiii....!!!''
Reyhan terus berjalan dalam diam.
''Apa kau tuli....!'' Teriak Ruby
Tiba-tiba Reyhan berhenti mendadak. Membuat Ruby tidak sengaja menabrak badan Reyhan.
''Jangan suka mencampuri urusan orang.!!'' Kata Reyhan dengan raut wajah dingin
''Ehmmm..maaf aku tadi tidak bermaksud........
Belum sempat Ruby menjelaskan. Reyhan sudah pergi tidak memperdulikannya dan pergi.
Ruby hanya terdiam namun mata Ruby tampak bersinar seiring kepergian Reyhan. Dia sudah jatuh cinta dengan mata itu.
...........
Sore itu, Ruby sedang berlatih basket. Dia mengikuti latian untuk extrakurikuler. Badan Ruby sudah lemas jatuh ke lantai, dia memang tidak pandai bermain basket namun tetap ingin ikut Club.
''Semua, berdiri....ini adalah pelatih baru kalian.'' Kata Guru Nam. Guru Nam adalah wakil kepala sekolah.
Mata Ruby melebar serasa mau copot? Laki-laki bermata indah itu adalah guru basketnya?. Matanya kembali bersinar sama seperti 2 minggu lalu saat pertama kali bertemu.
Guru Nam pergi meninggalkan mereka.
Sejak Reyhan memasuki gerbang sekolah terlihat jelas gadis yang memainkan bola acak namun selalu tersenyum. Reyhan melihat senyuman itu, seyuman indah yang merasuk tanpa ijin langsung kedalam hati Reyhan. Namun.....
Hatinya terlalu pahit untuk diisi dengan senyuman itu.
''AkuReyhan. Aku disini pelatih kalian, hanya ikuti instruksiku saja. Jangan banyak membuang waktu. Segera berlatih.'' Kata Reyhan membangunkan Lamunan semua wanita yang dari tadi menatapnya takjub. Bahkan beberapa sudah histeris. Bagaimana mereka memiliki pelatih setampan ini.
Kata-katanya sangat dingin, namun Ruby selalu bisa merasakan kehangatan didalamnya.
''Hai kak, masih ingat aku. Aku yang waktu itu.'' Ruby mendekat dan membuka pembicaraan.
''Tidak., aku tidak ingat. Cepat berlatih.'' Reyhan masi dengan dingin membalasnya.
Reyhan acuh dan pergi.
Sikap dinginnya seperti ini yang membuat Ruby jatuh cinta.
Sejak hari itu pula Ruby selalu mengejar Reyhan dimanapun dia berada.
Dia mengikuti Reyhan tanpa bersuara. Seperti paparazi kecil.
Reyhan adalah mahasiswa tingkat 2 pada salah satu Universitas terkenal dikota itu. Jurusan IT, dia sangat suka membuat alat dan penemuan-penemuan. Sejauh ini yang diketahui Ruby tentang Reyhan. Dia selalu mengikutinya hingga ke kampus Reyhan.
Menggilai Reyhan dia juga tahu batas. Ruby tidak pernah mengikutinya sampai rumahnya. Itu terbilang tidak sopan.
Dan yang jelas bukannya Reyhan tidak tau keberadaan Ruby disekeliling. Dia hanya malas untuk memperdulikannya.
........
Setahun kemudian,
Ruby akhirnya lulus sekolah. Dia juga masuk di jurusan dan kampus yang sama dengan Reyhan. Dia tidak memiliki kemampuan di bidang ini. Namun cinta membuatnya seperti ini.
Di hari pertama kuliahnya dia bahkan dengan gila berlari dan memanggil nama Reyhan.
''Reyhan.....Reyhan....!!''
Reyhan yang sedang berjalan bersama Jay melihat bersama ke arah suara itu.
''Reyhan, aku ternyata sejurusan denganmu. Sungguh kebetulan sekali.'' Kata Ruby sambil tersenyum Lebar.
Jay dengan tersenyum berfikir gadis ini cukup imut dan cantik.
Reyhan masih acuh dan pergi meninggalkan Ruby. Tetapi Ruby tidak kesal, hanya memandangi Reyhan dengan tersenyum
Jay mengejar Reyhan.
''Siapa dia?'' Tanya Jay
''Tidak tahu...'' Jawab Reyhan dengan santai. Namun terlihat di mata Reyhan kehangatan yang tidak terlihat ketika dia melihat wanita lain. Jay jelas tahu itu.
''Apa dia mengejarmu?'' Jay penasaran.
''Dia hanya gadis gila seperti lainnya.'' Jawab Reyhan dengan raut wajah dinginnya.
''Kau tidak menyukainya?'' Tanya Jay lagi
''Tidak...''
''Baiklah, jangan salahkan jika aku yang akan mengejarnya.'' Jay berbalik dan bermaksud kembali kepada Ruby.
Reyhan tiba-tiba menarik kerah baju Jay dengan kasar menyeretnya.
''Kita masih banyak yang harus diselesaikan.'' Jay terkekeh dan geleng-geleng kepala. Dia jelas tau temannya menyukai gadis itu. Namun mengapa dia dingin kepadanya. Hahaha
Selama setahun penuh Ruby masih mengejar Reyhan dalam diam, terkadang dia berusaha berbicara pada Reyhan namun Reyhan masih acuh padanya.
Suatu hari Ruby memberanikan diri untuk menyatakan cintanya pada Reyhan. Dia sudah bekerja sama dengan Jay untuk merencanakan ini.
Di sebuah taman kota, Jay memaksa Reyhan datang untuk memikirkan tugas mereka. Namun di lokasi, Reyhan mendapati Ruby dengan membawa segunung bingkisan cokelat.
''Reyhan, aku menyukaimu. Maukah jadi pacarku.'' Ruby dengan menyerahkan cokelat itu sambil malu-malu.
Wajah merah Ruby terlihat jelas oleh Reyhan. Terlihat mempesona. Namun, Reyhan segera tersadar.
''Kau wanita, apa tidak punya malu? Mengatakan dulu pada Pria?. Pergilah...aku tidak ada waktu untuk hal-hal seperti ini dan sangat membenci benda ini.''
Reyhan dengan nada tinggi menjawab Ruby sambil menunjuk cokelat ditangan Ruby
Dengan mata berkaca-kaca Ruby membuang cokelat itu. berbalik dan meninggalkan Reyhan
Ruby sangat marah, dia perlu beberapa hari ini menyiapkan kata-kata ini. Dia perlu semalaman untuk merangkai coklat ini. Karena dia mengira Reyhan sangat menyukai Coklat. Ternyata jawaban yang didapat begitu menyakitkan. Ruby menangis dan berlari pergi
''Rey, jangan keterlaluan seperti itu. Setidaknya jangan berkata kasar.'' Jay marah dengan kata-kata Reyhan dan mengejar Ruby.
Melihat Jay yang pergi ke arah Ruby, mata Reyhan dipenuhi amarah. Raut wajahnya mengisyaratkan dia tidak suka Ruby didekati oleh orang lain.
Namun dalam hati Reyhan, dia sungguh tidak ada waktu untuk cinta.