Keesokan paginya.
Ruby memasuki gedung Shining corp.
Dia sudah memikirkannya semalaman.
Masuk ke ruang CEO dengan membawa map surat pengunduran dirinya.
Tak lama kemudian Ruby sudah keluar dengan senyumnya yang terlihat masam.
CEO selalu baik padanya, dia tidak bisa terus mengandalkannya.
Di luar timnya sudah menyambutnya, Sarah tidak tau dari mana datangnya sudah melebur dipelukan Ruby. Dia menangis sesegukan.
Begitu juga si kecil Zack.
''Kak, maafkan aku. Aku sama sekali tidak berguna.'' Ucap sarah dengan tangisannya
''Kak apa kau yakin keputusanmu?'' Zack ikut meneteskan air mata.
''Sudahlah, kalian cengeng sekali. Mana ada bos yang betah dengan kalian.''
Ruby berkata sambil menahan air matanya keluar.
''Kak ini masih terasa tidak adil, cincin itu pasti ketemu. Bertahanlah ya. Oke.''
Pinta Lusi.
''Ketemu atau tidak ketemu ini adalah tanggung jawabku. Tidak bisa menjaga barang dengan baik. Kalian kedepan harus bekerja lebih baik lagi. Oke...
Kita masih bisa bertemu nantinya diluar, makan hot pot bagaimana? .'' Ruby menyemangati mereka
''Okeee, kita minum sepuasnya.....!!!!''
Semua berteriakk
''Rubyyyyyy.....!!! Gelegar suara teriakan Andre memecahkan suasana
Andre menarik Ruby, membawanya ke sebuah ruang pertemuan yang kosong.
''Apa maksudnya ini?. Kenapa? Kenapa? Tidak berbicara dulu denganku. Tidak. Aku tidak mengijinkanmu keluar dari sini.''
Andre sudah naik darah
''CEO sudah menandatanganinya.''
Ruby berkata dengan lembut
''Ruby, katakan apa yang terjadi sebenarnya. Semalam kamu menghilang dengan orang itu kan?. Orang yang membeli cincin lelang. Apa pria itu mengancammu? Katakan dengan jelas Ruby?''
''Tidak, ini keputusanku sendiri. Andre, Aku harus bertanggung jawab. Aku tak ingin kalian terlibat lagi. Untuk masalah ganti rugi. Aku akan bicarakan lagi dengan mereka. Sudahlah Andre, Kalau kau masih menganggapku teman, maka hargai keputusanku. Oke?.''
Ruby menjelaskan panjang lebar
''Baiklah Ruby, aku akan mencarikan pekerjaan baru untukmu. Kita akan pikirkan caranya ganti rugi oke.''
Andre mengelus puncak kepala Ruby
''Tidak perlu, aku ingin menenangkan diri dulu. Aku akan mentraktirmu makan lain kali. Aku harus pergi, banyak barang yang harus aku bereskan.''
Kata Ruby sambil bergerak pergi menghindari Andre
''Oke, aku akan membantumu.''
Andre mengejar langkah Ruby.
Ruby sudah membawa kardus ukuran kecil ditangannya. Semua adalah barang-barang dari mejanya. Dia berjalan keluar dari pintu gedung.
Mencari Taxi untuk pulang kerumah, badannya sangat lelah. Dia hanya ingin bersantai dulu. Tidak ingin memikirkan lainnya. Lagipula si Iblis itu juga berbaring di Rumah sakit.
Memikirkan hal itu Ruby, tersenyum cerah. Akhirnya dia punya hari libur.
Sebenarnya Andre bersikeras untuk mengantarnya pulang. Namun, dia selalu kabur dari Andre. Hahaha
Tiba-tiba
Sebuah tangan panjang merebut kardus dari tangan Ruby.
Ruby dibuat kaget olehnya. Pria bertubuh tinggi dengan pakaian London coat coklat muda dipadukan dengan kaos high neck hitam didalamnya. Ditambah kaca mata hitamnya membuat Ruby terbodoh sejenak karena ketampanannya.
Sekian detik Ruby terbeku, setelah itu dia menyadari bahwa dia adalah James. Iblis itu bukannya dia ada di rumah sakit?.
Ruby menggosokkan matanya untuk menyadarkan dari mimpi.
James yang sudah berjalan jauh dari Ruby, berbalik dan berkata.
''Hei, apa kakimu gajahmu itu tidak bisa berjalan lebih cepat lagi?''
Kaki gajah? Apa yang dia katakan?
Ruby sudah mulai tersulut
Siall....
Iblis itu memang sungguh ingin dihajar....
Memang benar kata drago, James bisa cepat pulih. Dilihat dari gerakannya, dia tidak terlihat seperti orang yang kemarin berbaring di rumah sakit.
''Berikan padaku.'' Ruby sudah berusaha merebut kembali kardusnya.
Namun di alihkan oleh James.
''Cepat naik!!!'' James memerintah
Ruby masih melotot kepada James
''Kau mau aku menggunakan cara baik-baik atau cara kasar?! Pilih sendiri?''
James menggertaknya
''Dasar iblis jahanam.'' Kata Ruby sangat lirih namun tidak menghilangkan raut kesalnya.
Ruby pun masuk ke mobil Roll Royce hitam disampingnya. Dengan kesal membuang muka kearah jendela. James yang duduk disampingnya. Meletakkan kardus dipangkuan Ruby.
Supir didepannya hanya bisa terdiam, Drago yang mengawasi dari mobil lain hanya bisa terkekeh.
Mobil Roll Royce hitam sudah melaju menembus keramaian kota.
---------
Di gedung Group Ma....
James berjalan masuk menuju pintu masuk dengan kharismanya.
Semua bodyguard berbaju hitam menundukkan kepalanya seiring kedatangan James.
Ruby yang berjalan dibelakang James sedikit kikuk.
Mereka akhirnya sampai di Ruang kerja James, bukan pertama kalinya Ruby datang ketempat ini.
Ruby merasakan tubuhnya merinding, ruangan itu membuatnya tidak nyaman.
''Mulai hari ini, kamu adalah sekretaris pribadiku. Berkerja setiap hari aku akan memberimu libur dihari minggu. Tapi, jika aku memanggilmu dihari minggu, kau juga harus segera datang. Mengerti!!''
James menjelaskan sambil duduk dikursi kekuasaannya.
''Kau kira aku adalah pekerja sosial? Bekerja setiap hari tanpa digaji. Apakah kau ingin mengulitiku habis untuk membayar hutang?''
Ruby sudah tidak basa basi menggunakan kata Tuan lagi. Dia muak.
''Apa aku pernah bilang ingin kulitmu hah?.'' Ejek James
''Siapa bilang kau tidak digaji? Aku akan menggajimu. 50 juta sebulan, namun karena kau berhutang padaku akan kupotong menjadi 10 jt per bulan.'' Tambah James
Apa 10 juta, huh dari 50 juta ke 10 juta?
Betapa sial dirinya?
Dasar iblis pelit....
Yah meskipun 10 jt setidaknya dia dapat hidup dari itu. Ruby hanya tertunduk lemas.
''Ayo pergi, aku akan mengajakmu berkeliling.'' James meninggalkan ruangan. Ruby pun masih dengan lemas mengikuti dibelakang James.
''Gedung ini ada beberapa bagian, pertama bagian situ adalah casino. Jangan pernah masuk kesana kecuali aku yang memanggilmu. Kedua, bagian club hiburan, jangan pernah kesana juga. Ketiga, bagian hotel.''
''Jangan pernah kesana juga?'' Ruby menyahut
''Boleh, khusus untuk bermain denganku.'' James tersenyum licik.
Ruby mengerutkan kening dengan kesal
''Keempat, bagian Kantor, kamu tidak harus pergi kesana. Tugasmu hanya berada dekat dengan ruanganku. Mengurus semua urusan pribadiku. Drago akan membantumu. ''
Ruby memandang Drago dengan perasaan benci.
James membawa Ruby kembali ke ruang kerjanya. Hanya tersisa mereka berdua.
James bersandar pada sofa, Ruby masih berdiri tidak bergerak.
''Ini kunci mobil, dan ini kunci apartemen. Bagiku waktu adalah uang. Tidak boleh terlambat satu detikpun. Kurasa lebih nyaman jika kamu tinggal didekat sini.''
James menyerahkan barang-barang itu kepada Ruby.
''Kau sengaja menjadikanku seolah simpananmu?. Tidak perlu ini. Aku akan menyewa rumah sendiri. Dan aku sanggup naik taxi.''
Ruby memberikan kembali barang-barang itu.
''hari pertama bekerja sudah tidak patuh?'' Nada James mulai tinggi.
''Ambilah, jangan membuatku marah!!!''
James berkata dengan amarahnya.
Pria ini sungguh membuat Ruby sakit kepala.
Ruby menuju meja kerjanya, dia melihat meja ini masih baru. Mejanya tepat berada diluar pintu dari ruang kerja James.
Ruby memandang sayup pintu itu. Nampak dingin, namun dia masih bisa merasakan kehangatan didalamnya. Apakah karena ketika melihat iblis itu. Dia juga bisa melihat bayangan Reyhan?.
Reyhan?....dengan mata berair Ruby menunduk
''Aku merindukanmu.''