Kecurangan staf kantor perkebunan teh

1063 Kata
Mau tak mau karyawan staf itu pun harus masuk kekantor. Sudah ada pak Cokro dan Wulan disana. Saat mereka bergerombol masuk kedalam kantor, mereka melihat Wulan dan pak Cokro yang masih mengintimidasi staf administrasi itu. Seorang manager memulai memasuki ruangan kantor. “Maaf Bu Wulan, kami terlambat.” Ucapnya sambil menunduk. Wulan lalu yang masih duduk pun kemudian berdiri, “bagus sekali! Kalian memanfaatkan kepercayaan ayahku!” Ucap Wulan dengan nada santai. Seorang manager itu pun tidak berani menatap wajah Wulan, mereka semua tampak terduduk malu memikirkan nasib mereka sendiri. “Kembalilah bekerja! Aku akan keliling kebun dulu, setelah ini kita bicarakan hal ini!” ucap Wulan yang langsung mengajak ayahnya untuk pergi meninggalkan kantor itu. Wulan ingin mengawasi istirahat para karyawan dan ingin makan bersama mereka. “ayah..., Kalau ayah mau pulang terlebih dahulu, pulanglah ayah, Wulan akan makan disini bersama dengan para karyawan.” Ucap Wulan. Pak Cokro menolak pulang sendirian, pak Cokro memilih untuk menemani Wulan dan ikut makan dengan para karyawannya. Wulan dan pak Cokro lalu berjalan ke area katering, tempat biasa orang-orang mengambil makan siang mereka. Sesampai disana, semua mata tertuju pada Wulan, mereka tampak heran dengan Wulan yang tiba-tiba masuk di bagian katering. “selamat siang pak Cokro, non Wulan...,” sapa salah seorang pegawai katering. “Siang Bu..., Piring dua Bu.., saya mau ikut makan siang disini.” Ucap Wulan kepada wanita paruh baya itu. Wanita itu lalu memberikan Wulan dua piring sesuai yang diminta oleh Wulan. “Bu.., setelah selesai makan, kita ngobrol bertiga ya...,” ucap Wulan kepadanya. “Baik non..,” jawabnya singkat. Ibu pegawai katering itu tampak risau ketika nanti Wulan mengajaknya berbincang. Makanan yang dimasak cukup enak dan cukup layak untuk dimakan para karyawan pemetik teh di perkebunan milik pak Cokro. Pak Cokro lalu duduk agak jauh dari putrinya, sedangkan Wulan duduk dan berkumpul bersama para karyawan wanita. Wulan ingin tahu dan bertanya-tanya tentang pekerjaan mereka. “permisi..., Boleh saya duduk disini?” tanya Wulan sebelum duduk diantara para pekerja. “hmm..., Silahkan saja non...,” ucap salah seorang wanita yang juga bekerja sebagai pemetik teh. “Ibu ibu..., Bagaimana makanannya? Enak?” tanya Wulan ramah. Wulan memang berperilaku tidak seperti bos melainkan seperti teman mereka. “enak non..., Terima kasih non..,” jawab salah seorang yang duduk disebelah Wulan. “ada nggak sih Bu yang tidak kebagian makanan?” tanya Wulan. “tidak ada non..., Malah terkadang makanan suka sisa.” Celetuk salah seorang lainnya. “lalu? Kalau sisa apakah dibuang?” tanya Wulan yang langsung menghentikan kunyahan makanannya. “Tidak non..., Terkadang ibu katering menyuruh kita untuk membawa pulang.” Ucap salah satu dari mereka. Wulan lalu melanjutkan makanannya. Wulan juga melirik ayahnya yang masih makan bersama para karyawan laki-laki, berharap pak Cokro mendapatkan informasi lebih mengenai staf kantor yang nakal itu. Setelah selesai makan, Wulan lalu melihat kearah sekitar, Wulan tampak heran dengan karyawan kantor yang tak ada satu pun yang makan di area itu. Setelah selesai makan, Wulan pun bertanya kepada salah seorang pemetik teh. “Bu..., Apakah staf kantor tidak makan disini?” tanya Wulan. “biasanya mereka makan non, malah terkadang mereka yang terlebih dulu mengambil makanan mereka. Baru kali ini saya tidak melihat mereka, entah kemana saya tidak tahu.” Ucapnya. Wulan lalu mengangguk dan menunggu ibu katering disebuah gubuk tak jauh dari tempat katering. Bersama dengan sang ayah, Wulan mulai berdiskusi tentang staf kantor yang memang benar-benar keterlaluan itu. Pak Cokro menyuruh Wulan untuk mengambil keputusan yang bijak atas kesalahan dan kesengajaan mereka. “ayah benar akan menerima keputusan Wulan?” tanya Wulan. “tentu saja nak..., Tidak mungkin putri ayah ini akan merugikan ayahnya sendiri, bukan?” ucap pak Cokro yang sangat percaya dengan putrinya. “Hmmm..., Baiklah ayah...,” ucap Wulan. Tak lama setelah mereka berbicang, datanglah ibu katering itu yang bernama Bu Lilis. “Bu Lilis..., Kemarilah, kita ngobrol santai disini.” Ucap pak Cokro yang menyuruh Bu Lilis untuk duduk bersama dengan mereka. Bu Lilis pun juga mengikuti perintah pak Cokro. Wulan ingin menggali berbagai informasi tentang uang makan yang diberikan oleh staf administrasi kepada Bu Lilis. Bu Lilis itu pun membuka semua yang diberikan kepadanya setiap minggunya. Bu Lilis berkata apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Dengan menggali informasi ini, tentunya Wulan bisa menyimpulkan mau diapakan para staf itu. Setelah mengetahui semuanya, Wulan menyuruh Bu Lilis untuk kembali ketempat katering itu. Wulan lalu berdiskusi kepada ayahnya tentang dirinya yang harus menghapus para staf itu dari kantornya. Pak Cokro lalu menghela nafasnya, pak Cokro tampak berat dan memikirkan mereka mau bekerja dimana nantinya. Tapi hal itu sudah menjadi keputusan Wulan dan pak Cokro sudah berjanji akan mendukung Wulan apapun keputusannya. Pak Cokro dan Wulan pun kembali kekantor dan mulai mengumpulkan mereka, para staf kantor. Mereka pun juga berkumpul sesuai instruksi dari Wulan. “tujuan saya mengumpulkan anda-anda disini adalah untuk mengatakan kepada anda semua bahwa saya sekarang yang akan memegang kantor ini, saya yang sudah resmi menjabat sebagai owner perkebunan teh ini. Setelah saya berfikir dan mengamati, sepertinya saya sudah tidak butuh lagi manager, staf admin, personalia dan kalian semua yang ada disini. Saya yang akan mengendalikan itu semuanya. Tentunya saya tidak sembarangan mengambil keputusan ini. Ada ayah yang lebih berpengalaman dibanding dengan saya. Untuk itu saya memutuskan untuk memecat kalian semuanya!” ucap Wulan lalu pergi meninggalkan mereka semuanya. “bu..., Bu Wulan..., Maafkan kami Bu...,” ucap seorang manager yang langsung mengejar Wulan.  Pak Cokro lalu mengikuti mereka, pak Cokro mau mengawasi manager itu yang tampak tidak setuju dengan keputusan Wulan. “Bu Wulan..., Tunggu Bu...,” ucap manager itu merengek dan menyentuh kaki Wulan. Wulan lalu mendorong tubuh manager itu. “jangan sampai kau menyentuhku!” ucap Wulan tegas. “bu..., Berilah kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Ucapnya memohon kepada Wulan. Wulan lalu menghela nafasnya, “aku sama seperti ayahku! Harusnya kau bersyukur karena aku tidak mengajakmu kekantor polisi! Kesalahanmu yang kau sengaja itu sudah merugikan perusahaan ayahku!” bentak Wulan. Banyak karyawan pemetik kebun teh itu melihat adegan Wulan dan manager itu yang berlutut didepan Wulan. Sang manager yang biasa memimpin mereka, kini tak berdaya dihadapan Wulan. “Kau yang memotong gaji karyawanku! Kau yang memotong uang makan karyawanku! Kau juga yang ingin menghancurkan usaha ayahku! Lalu untuk apa aku mempertahankanmu!” bentak Wulan kepada sang manager. Manager itu tampak tertunduk malu, dia lalu merasa bahwa dia adalah makhluk yang paling hina dihadapan Wulan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN