Keputusan Wulan sudah bulat, para staf itu harus pergi meninggalkan pekerjaannya mulai dari sekarang. Sudah bagus Wulan hanya mengeluarkan mereka dari pekerjaannya. Wulan tahu bahwa mereka sudah berkeluarga, Wulan berfikir secara bijak dengan tidak membawa masalahnya ke jalur hukum. Wulan tidak ingin karena kesalahan mereka, keluarganya ikut kelaparan menanggung dosa yang mereka lakukan.
Pak Cokro tampak bangga dengan keputusan putrinya itu. Pak Cokro lalu berfikir bahwa putrinya itu sudah pantas menggantikan posisinya sebagai pemilik usahanya.
“Wulan.. , terima kasih karena sudah membuat ayah bangga kepadamu.” Ucap pak Cokro kepada putrinya.
“Terima kasih ayah..., Berkat dukungan ayah, Wulan bisa menjadi seorang yang percaya terhadap diri sendiri.” Ucap Wulan.
Wulan tampak berfikir lagi dengan apa yang telah dilakukannya, “ayah...., Apakah Wulan bisa bekerja sendiri?” tanyanya tampak ragu. Pak Cokro lalu menepuk pundaknya sambil tersenyum, “nak..., Kau ambil saja pekerja dari kalangan pemetik kebun teh, ayah yakin mereka adalah orang yang jujur. Kau ambil yang mempunyai pendidikan agak tinggi dari rata-rata pendidikan warga kampung ini.” Ucap pak Cokro.
Untuk hari ini, pak Cokro seharian penuh membantu Wulan untuk membuat laporan keuangan yang tengah berantakan itu. Wulan sangat yakin bahwa nantinya kebun teh yang ia kelola akan semakin maju karena Wulan sudah tidak lagi bisa dibohongi. Kerugian yang ditanggung perusahaan memang banyak, pak Cokro tapi tak pedulikan hal itu. Pak Cokro yang sudah tahu ada yang tidak beres dengan pengelolaan perkebunan teh itu pun membiarkannya dikarenakan mereka pun juga bisa menjadi tumbal untuk Lulun samak karena telah mengambil harta pak Cokro secara Cuma-Cuma, tapi Wulan telah menyelamatkan mereka.
Syarat utama menjadi seorang tumbal adalah, si calon tumbal harus sudah pernah memakan atau memakai harta pak Cokro secara Cuma-Cuma tanpa bekerja. Biarkan si Lulun samak nanti yang memilih, akan dengan siapa ia mengambil jiwa-jiwa orang yang pernah memakan harta pak Cokro secara Cuma-Cuma.
Wulan dan pak Cokro pulang kerumahnya sekitar pukul empat sore. Bu Sekar pun sudah menunggu mereka sejak siang tadi. Wulan dan pak Cokro lupa untuk mengabari Bu Sekar bahwa ada masalah di kantor perkebunan teh miliknya. Untuk itu, Wulan dan pak Cokro pun menceritakan kepada Bu Sekar mengenai pemecatan serentak yang diputuskan oleh Wulan hari ini.
Seperti yang pak Cokro rasakan, Bu Sekar juga merasakan kebanggaan atas pemikiran yang diputuskan oleh Wulan yang telah memecat semua karyawan korupsi itu. Memang sudah banyak yang mereka korupsi, mulai dari jam kerja, keuangan, gaji karyawan, jatah makan karyawan. Hal yang membuat Wulan paling jijik dengan mereka adalah, mereka memotong jatah makanan yang harusnya di berikan kepada pekerja pemetik teh. Mereka para staf kantor sangat menjijikan bagi Wulan.
Setelah bercerita banyak dengan ibunya, Wulan pun bergegas untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya. Sebelum itu, Wulan mencari pakaian-pakaian yang nantinya akan dipakainya untuk bekerja. Wulan tetap ingin menjadi orang yang profesional dalam bekerja meskipun dirinya sendiri yang menjadi pengelolanya. Wulan menemukan banyak pakaian yang agak resmi yang tersimpan didalam lemarinya. “Sudah lama baju ini tidak terpakai, mungkin aku bisa menjadikannya seragam.” Ucapnya dalam hati. Wulan lalu mengumpulkan baju-baju itu dalam satu lemari agak memudahkannya untuk mengambilnya ketika akan berangkat ke perkebunan teh miliknya. Wulan juga berfikir akan membuatkan seragam untuk para pemetik perkebunan teh, agar mereka tambah bersemangat dengan memakai seragam agar mereka juga percaya diri dengan apa yang dipakainya. Wulan ingin para pekerja pemetik dan para stafnya memakai seragam.
Setelah selesai mandi sore, Wulan pun meminta saran dari kedua orang tuanya untuk pembuatan seragam yang tengah dipikirkannya itu. “bagaimana menurut ayah dan ibu?” tanya Wulan yang berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang duduk diruang tamu. “Bagus nak..., Boleh saja kau buatkan seragam untuk mereka. Ayah dan ibu akan selalu mendukung keputusanmu.” Ucap pak Cokro dengan senyum yang melayang di bibirnya. Wulan semakin tambah senang karena setiap keinginannya, pak Cokro dan Bu Sekar selalu mendukungnya.
Malam itu, seusai makan malam, Wulan pun langsung kembali kekamarnya untuk memikirkan seragam yang pas untuk karyawannya. Paling tidak Wulan akan memesan seragam untuk satu orangnya mendapat empat seragam yang akan dipakai saat hari Senin sampai Kamis, untuk Jumat Sabtu mereka boleh memakai pakaian bebas. Tentunya bukan hanya seragam, tapi Wulan juga harus menyiapkan sepatu boot untuk mereka yang selaras dengan seragam yang nantinya akan didesainnya.
Malam itu, saat Wulan sedang asik memikirkan seragam-seragam yang akan diberikan kepada pekerja, keluarga Wulan yang tampak hening digegerkan oleh teriakan Asep yang memberi tahu mereka bahwa manager yang baru saja dipecat Wulan telah tewas didanau. Pak Cokro dan keluarganya langsung bergegas menuju ke danau untuk melihat keadaan yang ada.
Menurut berita yang beredar ditempat, sang manager sengaja menyebutkan diri kedanau karena piemikirannya sedang kalut dan tak tahu lagi apa yang harus ia kerjakan selepas dipecat dari perusahaan teh yang baru saja dikelola oleh Wulan.
Wulan tampak kaget dan sejenak terdiam lemas Wulan sampai tidak kuat berdiri lagi dan sangat merasa bersalah akan hal itu. Pak Cokro yang melihat keadaan Wulan langsung merangkulnya. “Ayah..., Aku tidak melaporkannya ke polisi karena aku memikirkan keluarganya, tapi malah dia yang bunuh diri.” Ucap Wulan sedikit bergetar. “sudah nak..., Mungkin itu memang jalan pikirannya, kita bantu saja keluarganya untuk menunjang kebutuhannya.” Ucap pak Cokro menenangkan sang putri.
Pak Cokro tahu bahwa itu adalah tipu muslihat dari Lulun samak itu. Lulun samak itulah yang mempengaruhi manager itu untuk menceburkan diri kedalam danau saat pikirannya sedang kalut. Tak ada satu mayat pun yang ditemukan setelah mereka meninggal didalam danau itu termasuk mayat sang manager. Hanya buih-buih kecil yang terlihat setelah menenggelamkan sang manager. Keluarga sang manager menangis ditepian danau. Malam itu juga tim SAR mencari jazad sang manager agar bisa dikebumikan dengan selayaknya.
Danau yang disebut orang-orang adalah danau angker itu juga menjadi sumber kehidupan bagi warga desa yang selalu memanfaatkan airnya untuk mencuci pakaian-pakaian mereka. Biasanya setelah ada berita kematian didanau itu, danau itu tampak sepi di hari esoknya. Mereka seperti sedang menghormati keluarga korban yang sudah tenggelam didanau itu. Suatu kali danau itu pernah diselami oleh seorang penyelam handal untuk melihat ada apa didasar danau itu, tapi penyelam itu tak menemukan hewan berbahaya seperti biaya atau ikan yang memakan bangkai para korban yang hanyut didanau itu. Tapi yang membuat para korban tak muncul kembali setelah kematiannya, masih menjadi sebuah misteri yang belum bisa terpecahkan.